Mohon tunggu...
Nadhira Putri Febrianti
Nadhira Putri Febrianti Mohon Tunggu... A college student

Soon to be a part time illustrator

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Alam & Teknologi

"Lupa akan Etika", Komunikasi dalam Dunia Maya

30 Maret 2021   10:29 Diperbarui: 30 Maret 2021   10:34 488 2 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
"Lupa akan Etika", Komunikasi dalam Dunia Maya
Gadget tidak hanya sebatas alat komunikasi, tetapi juga menjadi sumber informasi dan mencari relasi baru. (Sumber: unsplash.com/Firmbee.com)

Kemajuan teknologi telah membawa kita sampai ke titik dimana kita tidak perlu lagi untuk repot-repot membeli surat beserta prangko-nya dan menuliskan pesan kita disana lalu berlari ke kantor pos supaya pesan kita semakin cepat sampai tujuan, bukan? Kita cukup mengecek gadget canggih yang hampir setiap hari selalu bersama kita. 

Begitu melekatnya hingga muncul istilah-istilah yang disebabkan oleh kecanduan gadget seperti phubbing, smombie, dan FOMO (Fear of Missing Out). Ditambah dengan adanya pandemi yang sedang berlangsung membuat intensitas penggunaan gadget meningkat tajam. Hal ini disebabkan adanya transisi dari aktivitas kita sehari-hari seperti bekerja, sekolah, seminar dan sebagainya yang kemudian beralih menjadi kegiatan virtual.

Lalu dengan terjadinya peralihan ke dunia virtual membuat rasa kesepian pun semakin merebak. Hari demi hari kita berusaha untuk mencari hal yang dapat mendistraksi atau mereda rasa kesepian kita. 

Dengan kemajuan teknologi tadi, aplikasi pesan dan sahabat pena banyak bermunculan. Dari sini kita bisa berkomunikasi dengan berbagai orang di seluruh dunia dengan berbagai latar belakang yang berbeda pula. 

Selama kita dan orang tersebut memiliki koneksi internet dan berada pada aplikasi sosial yang sama, maka kegiatan komunikasi sangat mungkin untuk terjadi. Istilah untuk orang yang aktif terlibat dalam komunitas virtual atau internet biasa disebut dengan netizen, yaitu lakuran dari citizen of the net.

Berbicara mengenai netizen, baru-baru ini heboh sebuah laporan dari Digital Civility Index (DCI) yang menyatakan bahwa tingkat kesopanan netizen Indonesia menempati urutan terbawah se-Asia Tenggara. 

Riset yang dirilis oleh Microsoft ini menunjukkan bahwa tingkat kesopanan netizen Indonesia meningkat menjadi ke angka 76, yang mana semakin tinggi angkanya maka semakin buruk tingkat kesopanannya. 

Indonesia berada di urutan ke-29 dari 32 negara yang disurvei. Kemudian netizen Indonesia yang tidak terima akan hasil laporan tersebut mulai membanjiri kolom komentar akun instagram Microsoft dengan berbagai respon. kolom komentar didominasi oleh netizen yang tidak terima akan hasil laporan tersebut, meskipun ada pula yang membenarkan dengan memberikan komentar mengenai pengalaman mereka berselancar di dunia maya.

Dari sini kita bisa melihat bahwa pentingnya untuk memiliki etika di mana pun kita berada. Baik secara virtual maupun tatap muka langsung. Hal ini diperlukan guna menciptakan komunikasi budaya yang baik antara sesama warga Indonesia maupun warga dari negara lain. Lantas, apa itu komunikasi budaya dan kenapa hal ini berkaitan dengan perilaku kita di dunia maya? 

Komunikasi antar budaya menurut Pearson dkk (2009:170) adalah suatu proses pertukaran informasi antara orang-orang yang memiliki latar belakang budaya yang berbeda. Kita tahu bahwa internet memiliki jutaan pengguna yang memiliki latar budaya masing-masing. 

Tetapi kita sering lupa akan hal tersebut dan berakhir melakukan tindakan yang merugikan kepada pengguna internet lainnya yang disebabkan karena perbedaan budaya dengan mengeluarkan hate speech/ujaran kebencian. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x