Mohon tunggu...
Nadia Basri
Nadia Basri Mohon Tunggu...

Pembelajar, Economicholic, Love My Country Indonesia. (Study at The Business School, Bournemouth University, UK)

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi

Sesat Pikir Prabowo yang Janji Hentikan Seluruh Impor

5 November 2018   16:27 Diperbarui: 5 November 2018   16:36 0 0 0 Mohon Tunggu...
Sesat Pikir Prabowo yang Janji Hentikan Seluruh Impor
ilustrasi indomie yang bahan bakunya diimpor


Semakin mendekati Pilpres 2019, semakin banyak data bahkan pernyataan ekonomi yang semakin "sesat" baik secara teori ekonomi maupun praktiknya di lapangan. Yang semakin membuat miris, itu dilakukan oleh elit politik yang menjadi peserta pemilu. Banyak pengamat yang katakan itu sengaja dibuat untuk meningkatkan elektabilitas (mencari perhatian). Menyampaikan pernyataan bombastis dan tak logis memang nyatanya berhasil membuat Donald Trump (AS) dan Bolzonaro (Brazil) berhasil memenangkan Pilpres di negaranya masing-masing baru-baru ini, dan pola itu disebut juga digunakan oleh Pak Prabowo yang konsultan politiknya juga berasal dari AS dan Rusia. 

Minggu (4/11/2018) di hadapan rakyat Jakarta, Prabowo mengucapkan pernyataan yang bagi saya tidak logis, yaitu berjanji akan memberhentikan semua impor yang ada di Indonesia. Bahkan, niat itu bisa dilihat sebagai kesalahan yang sangat serius bagi Indonesia. Selain akan menghancurkan roda perekonomian Indonesia, penghentian impor pun akan membuat rakyat menjerit karena akan kehilangan makanan dan alat transportasinya. Berikut 5 hal fakta tentang impor di Indonesia. 

1. Perekonomian Indonesia akan lumpuh. Bagaimana tidak, hampir tidak ada negara di belahan dunia mana pun yang tidak melakukan impor. Dalam hukum ekonomi, ada yang dinamakan keunggulan komparasi (comparative advantage). Artinya, ada barang yang disuatu negara dapat dibuat dengan biaya murah (bahan baku, kemampuan penduduk membuat, dan ketersedian teknologi) dan ada barang yang harus memakan biaya mahal jika dibuat. 

Jika di Indonesia misalnya membuat baju lebih murah dibanding negara lain, maka itu lah saat Indonesia menjual produknya ke luar negeri (ekspor) selain tentu saja di jual juga di Indonesia. Dan ketika biaya memproduksi gandum di Indonesia jauh lebih mahal (karena kondisi alam tak mendukung, teknologi tidak mencukupi) dibanding negara lain misalnya Australia, maka agar tidak merugikan keuangan negara, kita melakukan impor. Hal seperti ini terjadi di seluruh negara. 

Menjadi sangat menyedihkan ketika Pak Prabowo ingin hentikan seluruh impor, ya seluruhnya! Kemungkinannya ada dua, pertama ia memang berbohong , atau kedua ia yang betul-betul tidak tahu hukum ekonomi dasar, padahal setahu saya beliau didukung para ekonom senior di timsesnya dan juga ayahnya Sumitro Djojohadikusumo adalah ekonom sekaligus pebisnis handal yang juga mengembangkan usaha ekspor impor sejak era Soeharto. 

Kalau kemungkinan ini benar adanya, sungguh ironis karena jargon Pak Prabowo adalah ingin meningkatkan perekonomian Indonesia, namun membaca situasi ekonomi pun masih cukup menyedihkan di kalangan ekonom. Lucunya lagi, sebanyak 84 ekor kuda Prabowo dengan total harga Rp 1,7 triliun pun sebagian besar merupakan impor, dokternya pun bahkan didatangkan langsung dari Argentina dan Portugal. 

2. Tanpa Impor, Tidak akan ada BBM di Indonesia. Tanpa impor, bensin dan minyak tanah tidak akan ditemukan di Indonesia. Kenapa? Karena dari seluruh hasil minyak bumi di Indonesia itu hanya  bisa memenuhi 60 % komposisi untuk hasil olahan minyak jadi seperti bensin, minyak tanah, solar, dll. Agar bisa jadi bensin, dll minyak di Indonesia harus dicampur 40% minyak dari luar negeri (impor), karena teknologi Indonesia belum mampu mengolahnya. Selain itu, jumlah produksi minyak di Indonesia jauh lebih sedikit dengan jumlah konsumsinya. 

Saat ini, jumlah konsumsi minyak di Indonesia per harinya mencapai 1,6 juta barel, sedangkan produksi minyak dalam negeri pun maksimal hanya 800.000 barel. Agar kita masih bisa membeli bensin agar tetap bisa makan dan beraktivitas, impor minyak harus dilakukan. Kalau dihentikan, sudah siap kita hidup tanpa BBM? Impor minyak dan gas Indonesia per Agustus 2018 tercatat sebesar 3,05 miliar dollar AS. Secara keseuruhan impor Indonesia mengalami penurunan 7,97 % dibanding Juli 2018. Jadi, lucu ketika banyak pihak teriak Indonesia terus menerus meningkatkan impor.

 3. Tanpa impor, sudah siapkah rakyat Indonesia berjalan kaki tanpa kendaraan dan pesawat? Perlu diketahui, sebagian besar suku cadang permesinan baik mobil, pesawat, dan motor itu diimpor dari negara lain (karena keterbatasan kemampuan SDM dan teknologi di Indonesia). Bahkan mobil mewah Lexus Pak Prabowo setahu saya pun itu impor. Memang kita tengah belajar menciptakan mesin, namun itu perlu waktu panjang, sehingga jika kita stop impor mesin dan pesawat itu akan menyengsarakan rakyat. 

Per Januari -- Mei 2018 saja, impor mesin dan pesawat mekanik adalah yang tertinggi di antara impor lainnya, berjumlah 11.076,3 juta dollar AS atau 31,97 persen dari total impor Indonesia. Sudah siap juga kah tidak ada perbaikan pesawat terbang di Indonesia?

4. Tanpa impor, siapkah Indonesia hidup tanpa cahaya lampu dan smartphone? Impor terbesar kedua Indonesia adalah di bidang mesin dan peralatan listrik dengan jumlah 8,9 juta dollar AS atau 28,16 % dari total impor Indonesia. Bagaimana ingin adil dan makmur jika rakyat kembali dipaksa hidup tanpa listrik?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x