Mohon tunggu...
Nabilla DP
Nabilla DP Mohon Tunggu... Full Time Blogger - Blogger

Ibu dua anak yang doyan bepergian. Ngeblog di bundabiya.com dan bundatraveler.com.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Dokumen Tesis Lenyap? Perih, Jenderal!

23 April 2018   15:11 Diperbarui: 15 Agustus 2018   20:19 318
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Peran SanDisk dalam studi magisterku (dokumen pribadi)

Memandang si Sandisk Cruzer Switch merah-hitam dengan gantungan kunci ikon Singapura ini membuat saya memutar balik kenangan di kota Jogja, tepatnya pada bulan November 2016 lalu. Saat itu, saya membuat sebuah langkah nekat untuk membawa bayi dan mbak rewang menemani saya "ngebut" tesis selama sebulan di Jogja. Meskipun ribet karena harus membawa printilan yang tidak sedikit, hanya ini satu-satunya pilihan yang saya punya. Mengerjakan tesis jarak jauh dengan dosen pembimbing bukanlah pilihan tepat, apalagi dengan dosen pembimbing bertitel profesor yang sudah pasti super sibuk. 

Dalam kondisi apapun, mahasiswa harus pintar mengambil celah untuk sekedar menyerahkan draft atau bimbingan meskipun harus berdiskusi sambil berjalan kaki. Posisi saya yang di Sidoarjo dan Profesor di Jogja, membuat biaya tesis jadi semakin mahal sebab saya harus berulang kali pulang pergi Sidoarjo-Jogja dan mencari penginapan. Apalagi masa berlaku beasiswa saya sudah habis semester lalu.

Jalan tunggal ini memang harus saya tempuh, sebagai tanda perjuangan dalam dunia akademik. Banyak sekali pihak yang membuat perjalanan ini sangat berkesan dan membantu studi saya selesai pada waktunya, termasuk flash drive SanDisk kesayangan saya.

Drama Data Hilang

Meskipun hanya sebulan, barang bawaan saya tidak berbeda jauh dengan mahasiswa yang nge-kost selama setahun. Satu koper besar berisi pakaian, satu dus besar berisi mainan serta printilan si kecil, dan satu dus besar lainnya berisi buku-buku untuk keperluan tesis. Sengaja saya membawa banyak buku, sebab saya tidak ingin kesulitan mengerjakan tesis. 

Mahasiswa pasti paham, draft tesis kalau sudah berada di tangan dosen pembimbing sangat mungkin mengalami perubahan jalan cerita. Selain amunisi berupa buku, saya juga telah menyiapkan berbagai jurnal, makalah, serta peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan tesis. Sekali lagi, saya tidak main-main dalam mengerjakan tugas akhir jenjang magister ini. 

Karena penelitian saya termasuk penelitian normatif, profesor menyarankan saya untuk menganalisis berbagai peraturan perundang-undangan untuk menjawab rumusan masalah dalam tesis saya. Jika ditotal, saya harus menganalisis sebanyak 52 peraturan perundang-undangan dalam waktu yang singkat. Hm.. ngeri-ngeri sedap lah ya. Syukurlah semua data sudah saya siapkan baik di laptop maupun di flash drive Sandisk yang selalu menemani tiap langkah studi.

Dengan waktu yang hanya satu bulan dan kondisi tesis yang masih separuh jalan, tentu saja saya harus mengatur strategi agar tesis bisa selesai dengan baik dan sesuai rencana. Pertama, selama 7 jam sehari, saya menghabiskan waktu dengan bersemedi di perpustakaan kampus. Saya sampai hafal dengan beberapa titik ternyaman untuk mengerjakan tesis di perpustakaan. Kedua, saat masih di Sidoarjo, saya telah menyiapkan berbagai data yang saya butuhkan. Sehingga di Jogja nanti saya tinggal eksekusi serta mencari data tambahan yang belum saya miliki.

Tapi bagaimanapun juga, bukan tesis namanya kalau tidak membuat penulisnya senam jantung. Hari pertama masuk ke perpustakaan kampus, mendadak suhu AC tidak lagi terasa dingin di kulit. Justru sebaliknya, keringat tiba-tiba mengalir lebih deras. Detik selanjutnya, tanpa terasa kedua tangan memegangi kepala dan saya bergumam pelan: mampus!

Data tesis yang baru saya edit di smartphone beberapa hari lalu (iya, saya kerap mengedit tulisan di smartphone sambil menunggu si kecil tidur) tiba-tiba saja lenyap entah kemana. Saya yakin betul, saya sudah selesai mengedit, menambah analisis dan sudah sampai sekitar 136 halaman dengan judul dokumen "Tesis NDP Revisi". Tetapi, satu-satunya dokumen tesis yang masih nangkring di smartphone hanyalah dokumen lama 130 halaman dengan judul "Tesis NDP".

Hua.. perih sekali rasanya, Jenderal! Meskipun hanya 6 halaman, bagian yang hilang itu justru memuat analisis penuh yang bisa saya kembangkan lagi. Saya pun berpikir cepat mencari kemungkinan pemulihannya. Sudah habis seluruh folder di smarphone saya buka-tutup untuk mencari file yang barangkali tersesat di folder lain. Hasilnya? Nihil! Saya mulai curiga jangan-jangan saya menyimpan dokumen tersebut di folder yang salah, kemudian tidak sengaja saya hapus bersama file yang lain.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun