Media

Di Balik Pesona "Athena"

21 Februari 2018   06:53 Diperbarui: 22 Februari 2018   11:06 611 2 0
Di Balik Pesona "Athena"
athena-5a8cb071f13344026e2283f2.jpg

Seperti kebanyakan cerita yang telah dibuat, novel Athena ini mengangkat cerita cinta remaja di zaman modern. Namun dalam penyajiannya, kisah cinta ini dihiasi dengan unsur-unsur petualangan seperti bepergian di berbagai tempat di Athena, Yunani.

"Eisai morfi. ([Yunani] kamu cantik(fem))" Nathan melihat semburat merah di pipi Widha. Waktu yang semakin sempit memaksanya untuk mengenyah basa-basi. "I'm so sorry. I was mean yesterday. Sulit bagiku untuk mengenali apa yang sebernarnya aku rasakan setiap kali bertemu dengan kamu. Kalau seandainya penyesalan itu tidak pernah datang, I wouldn't realize that I've fallen for you.,"(hlm. 271)

Kisah kebimbangan cinta untuk kembali pada sang mantan atau menerima orang baru dalam kehidupan tokoh utama turut membumbui jalan cerita novel ini.

Pola Pengembangan cerita yang digunakan dalam novel ini adalah alur maju. Bagian pengenalan pada novel ini diawali dengan keinginan tokoh utama bernama Widha, seorang mahasiswi asal Bandung, yang ingin pergi ke Athena. Sore itu, Widha dan Deno, temannya, sedang membahas rencana besar Widha tersebut.

           "Kamu masih ingat tentang rencanaku buat linuran ke Yunani?"

Kali ini mulut Deno memebentuk O besar. "Eh, kamu serius mau pergi ke sana? Kirain cuma bercanda!" (hlm.6)

Untuk menuju tahap konflik, ada banyak sekali kejadian yang mendorong terjadinya klimaks. Salah satu rangsangan tersebut adalah pertemuan Widha dengan Nathan di penginapan yang sama. Di sana mereka saling berkenalan dan kemudian menjadi teman dekat dan teman bepergian untuk menjelajahi Athena bersama.  

"Pekikan keras seorang gadis mengalihkan perhatian Nathan. Ternyata, pintunya menghantam wajah seseorang yang berjalan di belakang. Sosok itu terhuyung dan menyandarkan tubuh ke tembok." (hlm.16)

Kutipan di atas adalah bagaimana awal perjumpaan Nathan dan Widha yang tanpa di sengaja. Semenjak kejadian itu mereka menjadi akrab.

            "Nathan, kamu mau enggak nemenin aku jalan-jalan?"

            "Huh? Menemani kamu ? Maksudnya-"

"Kamu bilang tadi belum punya tujuan pasti, sementara aku udah punya rencana." Widha menyenggol bahu Nathan.

            "Ayolah, enggak akan seru kalau ekspansi tempat-tempatnya sendirian." (hlm 45-46)

Kebersamaan yang telah mereka lalui menumbuhkan rasa yang berbeda di hati mereka - rasa cinta mulai tumbuh dan rasa sakit tentang masa lalu mereka mulai luntur.

Tahap tegangan muncul saat sosok hantu dari masa lalu Widha muncul kembali di hadapannya. Sosok itu adalah Wafi, mantan yang telah memutuskan hubungan mereka secara sepihak. Berbagai masalah mulai bermunculan setelah kemunculan Wafi dalam novel ini.

"Wafi seperti pemanah professional yang tembakannya selalu tepat sasaran. Widha mengunyah sisa mossaka selambat mungkin sambil memikirkan jwaban yang minim basa-basi. Ceritanya tidak boleh terkesan menyedihkan. Kalau bisa, Wafi tidak perlu tahu sehancur apa hatinya saat mereka putus." (hlm. 83)

Kutipan itu meurpakan potongan kejadian saat mereka bertemu untuk makan siang bersama. Di sana Wafi membahas banyak hal tentang hubungan masa lalu mereka. Harapan-harapan Wafi untuk ingin kembali lagi bersama dengan Widha mulai tumbuh. Namun apa daya, ia telah memiliki kekasih baru di Indonesia. Widha terkejut dan merasa sangat marah dengan Wafi.

Tahap klimaks meroket saat Wafi mulai bersikap posesif dan memperebutkan Widha bersama Nathan. Kenyataan bahwa Wafi adalah orang yang dahulu pernah juga bersaing dengan Nathan untuk mendapatkan Keira membuat Widha bingung. Saat Nathan mulai mencintai Widha, Wafi ingin juga kembali kepada Widha. Saat itulah pertengkaran bermunculan. Perang dingin antar tokoh tampak jelas pada tahap ini.

"Sekali lago, Wid. Jangan terlalu dekat dengan dia."

"Peringatan Wafi tadi malah membuat Widha makin gusar. "Apanhak kamu sampai berani mengatur kehidupan sosialku? Aku bukan pacar kamu lagi, kan? Lagi pula, Keira akhirnya memilih kamu. Nate mau enggak mau harus melepaskan dia." (hlm.196)

Novel ini diakhiri dengan kisah bahagia, seluruh masalah yang terjadi telah berakhir dengan baik. Wafi sadar bahwa ia tidak pantas lagi bersama dengan Widha, ia memilih untuk setia kepada kekasih barunya dan merelakan Widha untuk bersama Nathan. Novel ini ditutup dengan kehadiran Nathan di acara wisuda Widha dimana saat itu mereka telah menjadi sepasang kekasih.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6