Mohon tunggu...
Nabila Shobawa
Nabila Shobawa Mohon Tunggu... Guru - Teacher

Focus on the positives and be grateful

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Terlambat Mengenal Cinta

27 Juli 2020   13:32 Diperbarui: 27 Juli 2020   13:28 160
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Cinta sebuah rasa yang tertanam di hati melibatkan ilusi juga imajinasi. Kehadirannya begitu tiba-tiba tanpa ada yang menduga, mengejutkan sejuta rasa hingga membuat bahagia. 

"Jika di hitung-hitung aku memiliki 125 lebih mantan. Kamu,  Runi?" tanya Sila.

"Aku?  Tidak punya mantan," jawab Runi dengan santai. 

"Hari gini, belum pernah jatuh cinta dan ga punya mantan? Oh no...... " tanya Sila sahabat karib Runi yang baru saja menimba ilmu di kota hujan yang terus menggelengkan kepala.

Boleh dikatakan jika Runi terlambat mengenal cinta, yang ada di pikirannya hanyalah menimba ilmu dan menyelesaikan studinya. Kali ini ia sedang mengambil program doktor di salah satu kota metropolitan, sangat mustahil memang di usia nya yang hampir menginjak kepala tiga Runi masih sanggup hidup sendiri. 

"Run, mau tidak dengan Riko. Profesinya dosen tetap di kota hujan." sahut Raquel. 

"Saat ini, tak ada yang lebih penting bagi saya selain melanjutkan kuliah saya," jawab Runi dengan lirih. 

"Apa kamu mau, di cap sebagai perawan tua?" cletuk Sila. 

Runi terlintas memikirkan apa yang barusan temannya katakan. "Perawan tua?" seolah menjadi hal yang mengerikan untuk status yang di sandang oleh kaum wanita. 

"Masa iya, Runi tak memiliki satu mantan kekasih pun?"pikir Raquel.

Di sisi lain, Runi adalah tipikal wanita yang berhati-hati dalam menjaga hati. Hampir tiap malam teman sekamarnya menangis lantaran perlakuan yang di sebabkan oleh kekasihnya. Karena itulah ia masih belum mau untuk membuka hatinya. Selain takut kecewa dan bersedih ia hanya ingin fokus pada studi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun