Mohon tunggu...
Nabilah Dzikriya Rahman
Nabilah Dzikriya Rahman Mohon Tunggu... Co-assistant

menulis untuk berbagi

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Keajaiban Birrul Walidain, al-Qur'an, dan Keyakinan

2 September 2019   15:42 Diperbarui: 23 September 2020   12:13 988 0 0 Mohon Tunggu...

Oleh: Nabilah Dzikriya Rahman (Muamalat Scholarship Awardee)

Bismillaahirrahmaanirraahiim

Dewasa ini, ada yang sering terlewati dalam berproses mewujudkan cita-cita. Yakni keterlibatan kedua orang tua. Terutama dalam memohon do'a restu dan meminta pertimbangan dari keduanya. Padahal keduanya secara nyata merupakan bagian dari kehidupan kita. Bahkan, menjadi sebab kelahiran kita ke dunia ini. Semestinya tidak terlupakan.

Setiap orang dalam hidup ini memiliki pilihan. Terutama pada fase-fase transisi kehidupan yang dapat dikatakan sakral, karena setiap pilihan di dalamnya sangat menentukan, termasuk pada aspek pendidikan. Semisal ketika sedang penentuan jurusan kuliah -di tahun terakhir bangku sekolah- yang kelak akan berdampak pada penentuan karir. Dan di saat-saat seperti itulah kebaktian seorang anak akan diuji.

Birrul Walidain secara etimologi memiliki arti berbakti atau berbuat baik kepada orang tua dengan cara membahagiakannya, menuruti perintahnya, melaksanakan hal-hal yang disarankan, diinginkannya dan diperintahkannya selama tidak bertentangan dengan agama. Karena tidak diperbolehkan ta'at kepada makhluk bila berdosa kepada Allah Ta'ala. Sehingga Birrul Walidain ini berlaku hanya selama dalam batas kebaikan. Oleh karena itu benar bila dikatakan: "Ridho Allah berada dalam ridho Orang tua dan murka-Nya ada pada murka orang tua." (al Hadits).

Banyak orang-orang di sekitar, baik keluarga, kerabat, teman, dan lainnya yang apabila kita perhatikan seringkali melewatkan diskusi dengan orang tua ketika akan melangkah ke fase hidup selanjutnya. Atau mungkin juga berdiskusi tetapi melalui proses yang sangat alot. Hal itu kemungkinan terjadi karena adanya perbedaan pilihan antara sang anak dan orang tua. Tentu pilihan orang tua bukanlah tanpa dasar. Biasanya konsiderasi tersebut didasarkan pada aspek finansial serta pengalaman empiris, yang cenderung realistis dibandingkan dengan pilihan sang anak yang lebih idealis. Sehingga kita tidak bisa serta merta menyalahkan kondisi tersebut, dimana pilihan orang tua mempengaruhi cita-cita anak. Pun sebagai anak, tidak baik untuk mengatakan bahwa cita-cita kita sepenuhnya adalah pilihan dan bagian kehidupan pribadi kita di hapadan mereka, karena sebenarnya segalanya dapat didiskusikan bersama dengan baik. Mungkin sedikit akan saya ceritakan renungan saya, semoga saja ada pelajaran yang dapat dipetik.

Saya mahasiswi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia semester 7, lolos UI melalui jalur SNMPTN. Alhamdulillah 4 semester terakhir saya mendapat rezeki tak terduga, yakni menjadi salah satu penerima manfaat Beasiswa Sarjana Muamalat. Percaya tidak percaya, saya bukanlah alumni lulusan sekolah SMA unggulan. Dengan kesederhanaan dan kebanggaan yang teramat, saya merupakan alumni dari salah satu pesantren al-Qur'an di Yogyakarta yang mana sekolah di dalamnya merupakan sekolah swasta. Tidak, tidak. Jangan bayangkan jika sekolah swasta kami seperti kebanyakan sekolah swasta lainnya yang orang bilang dapat menguras dompet para orang tua. Sama sekali bukan.

Sekolah swasta pesantren saya amat sangat sederhana dengan biaya SPP per bulan sejumlah Rp 600.000,00 sudah mencakup biaya SPP sekolah dan di pesantren. Namun dengan harga minim tersebut guru-guru kami tetap mengusahakan pendidikan terbaik untuk kami di sekolah. Disebut sebagai swasta adalah karena sekolah tersebut merupakan sekolah pribadi milik pesantren di tempat saya menimba ilmu. Dikelola secara langsung oleh keluarga ndalem pesantren.

Lalu bagaimana bisa saya yang hanya seorang santri lulusan sekolah swasta, dapat masuk FKG UI lewat jalur SNMPTN? Bahkan untuk bersaing mendapatkan kursi mahasiswa di UGM yang mana masih satu kota dengan sekolah kami saja, kami harus berlari lebih kencang dan berjuang habis-habisan, karena persaingan kami tidak hanya antar pesantren, melainkan juga antar SMA dan MA unggulan di Yogyakarta. Apalagi bersaing mendapatkan bangku kuliah di UI yang persaingannya bertambah semakin besar, berskala nasional? Namun meskipun begitu, jika dibandingkan dengan pesantren ataupun MA Negri dan Swasta di Yogyakarta prestasi sekolah kami masih dapat menduduki 10 besar terbaik (tentatif).

Kembali ke pertanyaan paragraf sebelumnya: bagaimana bisa saya lolos FKG UI jalur SNMPTN sementara saya hanya lulusan sekolah pesantren swasta? Jawaban yang saya dapat setelah perenungan 3 tahun masih sama, yakni berkah orang tua, al-Qur'an, dan keyakinan yang kuat. Bertahun-tahun saya mencoba merenung dan berpikir lagi dan lagi, sampai bagian dari dalam diri saya berkata: "Sekali lagi, sekali lagi!", namun jawaban yang saya temukan masih tetap sama. Mungkin ketiganya tidak akan dijabarkan secara terperinci dalam satu paragraf masing-masing, karena bagi saya ketiga hal tersebut tersambung satu sama lain, tak terpisah. Akan tetapi bagian orang tua adalah bagian yang paling memungkinkan untuk saya tekankan.

Tidak bermaksud apapun, saya menjadikan "Berkah Orang Tua" sebagai pembuka dari dua lainnya. Saya tidak bermaksud untuk merendahkan al-Qur'an ataupun semacamnya. Tidak. Alasan saya adalah karena berbuat baik kepada orang tua adalah pilihan yang seharusnya menjadi pilihan termudah dan paling dapat dijangkau, ketika orang-orang sedang jauh dari keyakinan dan kepercayaan dirinya, maupun jauh dari jangkauan Kalam-Nya (al-Qur'an). Baik itu jauh karena ketidakmampuan untuk membaca al-Qur'an ataupun karena kondisi keimanan dan ketaqwaan. Maka berbakti kepada orang tua atau yang biasa disebut sebagai Birrul Walidain menjadi kunci utama pembuka pintu sukses yang dapat diraih oleh para anak.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN