Mohon tunggu...
Nabila Dinan Farisa
Nabila Dinan Farisa Mohon Tunggu... Mahasiswa Universitas Singaperbangsa Karawang

Mahasiswa Universitas Singaperbangsa Karawang

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Bias Gender pada Respon Netizen terhadap Skandal Bullying Aktor Jisoo

9 April 2021   12:24 Diperbarui: 9 April 2021   12:51 162 1 0 Mohon Tunggu...

Bias gender adalah pembagian posisi dan peran yang tidak adil antara laki-laki dan perempuan. Bias merupakan perbedaan jenis klamin berdasarkan budaya, di mana laki-laki dan perempuan dibedakan sesuai dengan perannya masing-masing yang dikonstruksikan oleh kultur atau budaya setempat yang berkaitan dengan peran, sifat, kedudukan, dan posisi dalam masyarakat tersebut. Sedangkan seks atau jenis kelamin adalah perbedaan secara biologis antara laki-laki dan perempuan. Pembedaan antara laki-laki dan perempuan berdasarkan seks atau jenis kelamin merupakan suatu kodrat atau ketentuan dari Tuhan. Dalam konsep gender, pembedaan antara laki-laki dan prempuan ditentukan berdasarkan konstruksi secara sosial maupun budaya. Perilaku yang menjadi identitas laki-laki maupun perempuan dibentuk melalui proses sosial dan budaya yang telah diperkenalkan sejak lahir.

Istilah gender pertama kali dikenalkan di Amerika pada tahun 1960-an sebagai bentuk perjuangan secara radikal, konservatif, sekuler maupun agama untuk menyuarakan eksistensi perempuan yan kemudian melahirkan kesadaran gender. Menurut Bem (1981) gender merupakan karakteristik kepribadian seseorang yang dipengaruhi oleh peran gender yang dimiliki. Gender kemudian dikelompokkan menjadi empat klasifikasi yaitu maskulin, feminin, androgini dan tak tergolongkan. Sedangkan menurut Mosse (2007) gender mencakup penampilan, pakaian , sikap, kepribadian, berkerja di dalam atau di luar rumah tangga, seksualitas, tanggung jawab keluarga dan sebagainya. Fakih (2008) mengungkapkan mengungkapkan bahwa gender merupakan suatu sifat yang melekat pada kaum laki-laki maupun perempuan yang dikonstruksi secara sosial dan kultural.

Pada karakter gender sendiri dapat dibedakan menjadi maskulinitas dan feminitas. Maskulinitas yaitu di mana laki-laki dianggap kuat, rasional, dan tegas. Sedangkan feminitas yaitu di mana perempuan dianggap lemah lembut, emosional dan keibuan. Pembedaan tersebut sebenarnya merupakan hal yang umum terjadi. Namun sering kali pembedaan tersebut menimbulkan dampak negatif. Dampak dari bias gender yakni terjadinya diskriminaasi gender. Menurut Sasongko (2009) ketidakadilan gender memiliki bentuk-bentuk sebagai berikut :

  • Marginalisasi perempuan, di mana banyak perempuan yang tersingkir dan menjadi miskin akibat program pembangunan seperti intensifikasi pertanian yang hanya memfokuskan kepada petani laki-laki.
  • Subordinasi, yaitu keyakinan bahwa salah satu gender dianggap lebih penting atau lebih utama disbanding dengan gender lainnya.
  • Strereotype, merupakan pelabelan yang sering kali bersifat negatif secara umum dan melahirkan ketidakadilan pada salah satu gender tertentu.
  • Violence, atau disebut juga kekerasan yaitu suatu serangan fisik maupun non fisik yang dialami perempuan maupun laki-laki sehingga yang mengalami akan terusik batinnya.
  • Double burden, yakni di mana ¬†beberapa beban kerja atau kegiatan diemban lebih banyak oleh salah satu gender.

Dalam teori kesetaraan gender terdapat teori nature, di mana pembedaan perempuan dan laki-laki adalah suatu kodrat alamiah. Sedangkan menurut teori nurture pembedaan antara perempuan dan laki-laki dihasilkan melalui konstruksi sosial budaya yang menghasilkan pera dan tugas yang berbeda. Dari kedua aliran tersebut terdapat kompromistis yang disebut dengan keseimbangan atau teori equilibrium yang menekankan pada konsep kemitraan dan keharmonisan dalam hubungan perempuan dan laki-laki.

Fenomena bias gender tidak hanya ditemukan di kehidupan nyata, namun saat ini fenomena tersebut dapat juga ditemukan di dunia maya seperti media sosial. Dengan kemajuan teknologi dan arus globalisasi yang semakin cepat budaya baru dapat dengan mudah menyebar dan masuk ke dalam lingkungan kita. Beberapa tahun belakangan ini budaya Korea Selatan tengah banyak digemari oleh masyarakat Indonesia. Tidak sedikit yang berminat terhadap produk yang berasal dari negara tersebut termasuk dalam hal tayangan hiburan seperti acara musik maupun acara drama.

Beberapa bulan yang lalu dunia hiburan Korea sedang dihebohkan dengan banyaknya skandal bullying yang bermunculan di media berita. Salah satunya adalah skandal bullying yang menimpa aktor papan atas Kim Jisoo. Skandal bullying aktor Jisoo ini berawal dari sebuah unggahan pada tanggal 2 Maret 2021 di sebuah komunitas daring Korea yang berjudul "Aktor Jisoo adalah Pelaku Kekerasan di Sekolah". Unggahan tersebut kemudian ramai diperbincangkan hingga menyebar dan diberitakan di media internasional dan portal-portal berita seputar dunia hiburan Korea yang ada di Indonesia. Skandal ini muncul bertepatan dengan penayangan drama "River Where The Moon Rises" yang dibintangi oleh Jisoo sendiri. Setelah dilakukan investigasi mengenai kebenaran kasus, aktor Jisoo terbukti melakukan tindakan bullying semasa sekolahnya. Jisoo kemudian mengunggah permintaan maafnya melalui media sosialnya yaitu instagram, dengan mengunggah sebuah foto surat permintaan maaf yang ditulis tangan.

Skandal bullying merupakan salah satu kasus yang fatal bagi selebriti Korea. Sekali terbukti bersalah maka publik Korea tidak mau lagi pelaku terkait muncul di industri hiburan Korea. Namun berbeda dengan publik internasional, salah satunya netizen Indonesia yang merupakan penggemar aktor maupun drama terkait. Banyak dari netizen yang menyayangkan kasus tersebut dan menganggap sepele skandal bullying tersebut. Bahkan tidak sedikit yang tetap membela aktor yang terkait dengan skandal bullying tersebut. Terlihat dari respon yang berada di kolom komentar unggahan permintaan maaf Jisoo, banyak netizen yang memberikan dukungan dan menyepelekan skandal tersebut degan dalih semua orang pasti pernah melakukan kesalahan. Begitu juga dengan kolom komentar pada portal berita di instagram yang mengulas skandal bullying tersebut. Tidak sedikit netizen yang mendukung aktor Jisoo setelah perbuatannya yang merugikan banyak pihak.

Selain aktor Jisoo masih banyak selebriti lain yang tesandung skandal bullying baik yang terbukti bersalah maupun tidak. Salah satu skandal bullying yang sempat viral dan terbukti bersalah yaitu skandal bullying girlgrup AOA. Dalam skandal tersebut salah satu mantan anggota mengaku menjadi korban bullying oleh anggota lainnya saat masih berada di dalam grup. Pelaku bullying kemudian terungkap yang tidak lain adalah ketua grup itu sendiri yaitu Shin Jimin. Jimin yang terbukti melakukan tindakan bullying akhirnya mendatangi korban dan meminta maaf secara langsung atas perbuatannya sebelum akhirnya keluar dari grup dan menghilang dari dunia hiburan. Berbeda dengan aktir Jisoo, kolom komentar akun instagram meupun prtal berita yang mengulas skandal ini dipenuhi dengan komentar negatif dan kata-kata makian.

Kasus bullying bukanlah suatu hal yang dapat dianggap sepele. Seorang publik figur dituntut memiliki citra yang baik dan bebas dari tindakan yang merugikan. Keterlibatan dalam skandal bullying tentu akan merusak karir selebriti terkait serta memunculkan respon negatif seperti penolakan dari publik. Skandal menimpa aktor Jisoo dan Shin Jimin memiliki kesamaan yakni sama-sama berkenaan dengan tindakan bullying, namun respon yang terjadi terlihat kontras. Dari kedua skandal tersebut dapat dilihat adanya bias gender di mana Jimin yang merupakan seorang perempuan mendapat lebih banyak respon negative, sedangkan Jisoo yang merupakan laki-laki bisa tetap mendapat dukungan meskipun keduanya sama-sama terbukti bersalah atas tindakan bullying mereka. Respon berbeda tersebut memperlihatkan bahwa perlakuan yang timpang terhadap seseorang berdasarkan gender atau bias gender ini masih sering terjadi di sekitar kita.

DAFTAR PUSTAKA

Jurnal :

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x