Mohon tunggu...
M. Zulficar Mochtar
M. Zulficar Mochtar Mohon Tunggu... Konsultan - Direktur Ocean Solutions Indonesia (OSI).

#Menuju NegaraMaritim yang Mandiri dan Berdaulat

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Nelayan "Menari" di Tengah Badai

4 Desember 2022   23:59 Diperbarui: 10 Desember 2022   03:46 1835
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Dunia perikanan tangkap bergerak makin kompetitif. Dipicu oleh pertumbuhan penduduk, trend kebutuhan dan penangkapan ikan global terus meningkat dari waktu ke waktu. Sementara sumberdaya ikan makin berkurang. Tuntutan konsumen untuk proses dan kualitas produk perikanan juga semakin ketat. Ini menyebabkan tekanan terhadap kehidupan nelayan makin besar.

State of World Fisheries and Aquaculture 2022, melaporkan total produksi perikanan tangkap global tahun 2020 mencapai 90,3 juta ton. Nilai ini lebih tinggi 60% dibanding tahun 1960-an. Demikian pula konsumsi ikan per kapita mencapai 20,2 kilogram, atau telah meningkat dua kali lipat. Lebih dari 30% stok perikanan dunia sudah mengalami penangkapan berlebih (overfishing). Padahal, pangan laut berkontribusi 17% dari konsumsi protein hewani, dan bahkan lebih dari 50% di negara-negara Asia dan Afrika.

Uniknya, nelayan skala kecil memegang peran sangat penting, mencakup lebih 90% dari total pelaku perikanan global. Di Indonesia bahkan lebih besar lagi. Diperkirakan sekitar 40% total tangkapan ikan dunia adalah dari nelayan kecil. Ironisnya, meskipun sering dijuluki sebagai pahlawan pangan, posisi nelayan justru sangat rentan. Bahkan sering digambarkan sebagai profesi paling berbahaya dan beresiko di dunia.

Bukan Badai Biasa

Di tengah berbagai keterbatasan dan tingginya tekanan, nelayan Indonesia kini juga menghadapi tiga 'badai' yang tidak biasa. Yang mengguncang kuat sosial ekonomi bahkan mengancam kehidupan mereka.

Pertama, krisis iklim. Perubahan iklim mempengaruhi kondisi perikanan dan habitatnya, yang otomatis berimplikasi langsung pada kehidupan manusia.Proses pemanasan global telah menyebabkan memanasnya suhu laut, kenaikan pemukaan air laut, mempengaruhi perubahan pola arus, angin, ombak serta hujan. Juga berpengaruh pada kelimpahan, pola migrasi, dan kemampuan hidup ikan. 

Perubahan suhu mempengaruhi pertumbuhan plankton dan pola gerak rantai makanan, baik secara vertikal maupun horizontal. Stok ikan terganggu. Pola distribusi ikan skala besar akan terjadi. Ikan akan bermigrasi mencari tempat yang lebih sesuai. Ini akan berimbas pada produktifitas dan pola operasional nelayan. Ketidakpastian usaha dan biaya perikanan makin tinggi yang selanjutnya berdampak pada sosial dan ekonominya.

Yang menguatirkan adalah, dampak krisis iklim ini masih sering diabaikan dalam formulasi kebijakan dan program. Akibatnya, upaya adaptasi dan mitigasi yang dilakukan secara global, masih menunjukkan hasil yang kurang meyakinkan.

Kedua, imbas Covid-19 belum tuntas. Pandemi Covid-19 sudah menjangkit seluruh dunia. Lebih 6 juta orang meninggal dan 600 juta orang terpapar. Seluruh sektor porak-poranda. Pembatasan mobilitas, aktifitas dan lalu lintas orang yang langsung melumpuhkan system logistik.

Dunia perikanan juga terpukul hebat. Nelayan sulit atau tidak bisa melaut, mengakses bahan perbekalan, merekrut ABK, menangkap dan menjual hasil tangkapan secara normal. Sistem pasokan ikan baik untuk pasar domestik apalagi perdagangan internasional terhambat. Pelaku usaha baik skala kecil, menengah maupun besar terpukul.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun