Mohon tunggu...
Hety A. Nurcahyarini
Hety A. Nurcahyarini Mohon Tunggu... NGO Officer

@FilantropiINA | @TemanTakita #SuaraAnak | @pengajarmuda | My stories: www.mynameishety.wordpress.com

Selanjutnya

Tutup

Gaya Hidup

Laptop, Mantra, dan Video Balon

19 Juli 2017   23:54 Diperbarui: 20 Juli 2017   00:00 0 0 0 Mohon Tunggu...

Tahun ini adalah tahun keenam laptop saya. Saya tidak menyangka laptop  itu mampu bertahan selama itu. Kalau diingat-ingat lagi, saya banyak berutang budi. Dengan perlakuan yang sedemikian rupa dan laptop itu masih (bisa) bertahan, itu sebuah keajaiban.

Laptop itu memang saya dapat secara cuma-cuma, dalam rangka kedinasan di daerah. Tidak hanya saya saja, teman-teman seangkatan yang lain pun mendapatkannya juga. Tujuh puluh dua laptop untuk tujuh puluh dua orang yang bertugas di medan yang berbeda-beda. Laptop dengan spesifikasi yang sama. Terbayang? Teman-teman saya lebih suka menyebutnya dengan 'Laptop Panti Asuhan'.

Walaupun demikian, pasca tugas kedinasan kami berakhir, laptop itu masih saja eksis. Laptop itu selalu menjadi salah satu topik perbincangan setiap kali ajang reuni digelar. Di mana membeli charger laptop?, Bagaimana jika motherboard-nya rusak?, Layar tiba-tiba blank?, dan pertanyaan sejenis lainnya. Tentu saja semua pertanyaan itu bukan berarti kami tidak menghargai barang gratisan. Justru, karena masif digunakan selama dinas di daerah, kami makin sayang dan tidak rela begitu saja kalau ada kerusakan.

Tapi apa mau dikata, satu persatu, laptop perjuangan milik teman-teman benar-benar rusak dan tidak bisa lagi digunakan. Saya, sebagai salah satu pemilik laptop yang masih bertahan, bersyukur dan deg-degan juga sebenarnya. Bukannya selama ini tidak ada kerusakan, sesekali ada bagian dari laptop yang tidak berfungsi, tapi masih bisa saya atasi. Sedangkan seorang teman yang mulai bosan dengan ketelatenan saya mengganti sparepart, memberi saran untuk segera membeli laptop yang baru. "Beli aja laptop baru, habis perkara," katanya.

Hmm, membeli laptop baru? Ini bukan masalah ada dan tidaknya uang. Uang yang selama ini saya sisihkan di tabungan sebenarnya bisa saja digunakan untuk membeli laptop baru. Sayangnya, saya masih enggan. Dalam benak saya, kalau yang saya butuhkan adalah laptop untuk mengerjakaan tugas selain pekerjaan kantor, saya masih bisa menggunakan laptop zaman kuliah. Laptop perjuangan skripsi, saya menyebutnya. Kondisinya masih bagus namun kurang nyaman jika dibawa ke mana-mana karena ukurannya cukup besar. Sedangkan di kantor, saya menggunakan PC yang sudah disediakan. Jadi, sebenarnya tidak ada masalah bukan?

Setiap kali bimbang begini, saya hanya bisa memandang dinding kamar yang penuh dengan tempelan post itwarna-warni. Laptop baru memang tertulis di sana, menjadi salah satu prioritas saya. Nyatanya, dia tidak tunggal, masih ada hal lain yang kejar tayang, Tes IELTS dan menyelesaikan aplikasi beasiswa. Tes IELTS sendiri bisa dibilang seharga laptop dengan kualitas minimal. Saya merinding. Mencoba bijak, saya mengelus laptop yang berusia enam tahun itu, "Duh, kamu jangan rusak dulu ya, masih ada aplikasi beasiswa yang harus diselesaikan."  

Sebuah Mantra dan Video Balon

'Selagi masih bisa digunakan, mengapa harus membeli yang baru?' adalah mantra warisan mama dan papa yang selalu teriang di kepala. Pun sampai sekarang saya dewasa. Maksud keduanya sama sekali bukan mendidik saya dan kakak untuk pelit, melainkan berhati-hati.

Sejak masuk ke bangku sekolah dan mempunyai peralatan sekolah sendiri-sendiri, saya dan kakak harus bisa bertanggung jawab. Mantra yang saya sebutkan di atas benar-benar membuat kami harus merawat barang-barang dengan baik. Kami tidak akan dibelikan barang yang baru jika barang yang lama masih bisa digunakan.

Pernah, sesekali merengek minta dibelikan tas baru. Kala itu, saya harus melewati 'ujian' dengan melewati berbagai pertanyaan dari mama dan papa terkait mengapa harus membeli tas baru, ada apa dengan tas lama, apakah tas baru akan berpengaruh pada kegiatan belajar di sekolah, dan pertanyaan lain yang membuat saya harus berpikir seribu kali untuk menjawabnya.

Terdengar pahit tapi nyatanya, kini, setelah dewasa, merantau, dan hidup sendiri, kenangan masa kecil itu selalu kembali. Terlebih sekarang, saya sudah bekerja dan mempunyai penghasilan sendiri. Bisa saja saya membeli ini dan itu, sesuai keinginan hati. Tapi apakah benar rumus hidup hanya begitu?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x