Budi Hartono
Budi Hartono

Lahir dari keluarga sederhana. Menjalani masa kecil di Jakarta, bersekolah di Yogya dan kuliah sampai akhirnya tinggal di Bandung. Mengagumi Bapak (alm) yang sanggup melihat masa depan yang lebih baik...

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Menjadi Hina dalam Sekejap...

7 Desember 2018   14:55 Diperbarui: 7 Desember 2018   15:27 80 0 0
Menjadi Hina dalam Sekejap...
Pesan Aa Gym

Malam itu sepi...udara terasa dingin menerpa kulit. Ditambah lagi dengan rintik hujan yang seakan ingin menegaskan betapa sunyi suasana malam itu. Jalanan di depan komplek pun seolah enggan dilalui orang...sunyi terasa...

Aku duduk di pojok kamar, sendiri, dalam sunyi malam itu. Tidak ada yang kulakukan selain diam dan diam. Sambil sesekali menghelas napas mengingat banyak hal yang telah terjadi dalam hidup ini. Perasaan sepi kemudian menjalar dalam pikiran dan mengaktifkannya tanpa minta ijin terlebih dahulu.

Hidup ini memang tidak mudah. Tidak semudah bicara, tidak pula semudah membalik telapak tangan..untuk mengubah satu hal menjadi hal yang lainnya. Tidak mudah menjadi baik. Tidak mudah pula menjadi buruk. Bagi orang biasa seperti aku, keduanya tidak mudah. Sebagian seperti ingin menjadi baik, sebagian lagi ingin menjadi buruk. Bercampur menjadi satu dan menunggu giliran untuk hadir.

Aku memang berusaha keras menjalani banyak kewajiban dalam hidup, kewajiban yang ditugaskan Tuhan kepada hamba-NYA. Akan tetapi, lebih banyak lagi kewajiban yang masih belum dilakukan. Di sisi lain, aku juga melakukan hal yang dilarang TUHAN. Menghina, menipu, mencuri. Akan tetapi, lebih banyak lagi hal terlarang yang juga aku lakukan. Lalu kucoba menimbang semuanya, sampai akhirnya..

Menjadi hina dalam sekejap !!!  Begitulah yang kurasakan ketika timbangan-timbangan itu dilakukan. Seolah kebaikan yang kulakukan menjadi tidak berarti ketika dibandingkan dengan kejahatan yang kulakukan. Belum lagi jika ditambah dengan rasa sakit yang kutimbulkan kepada orang-orang di luar sana. Entah benar atau tidak timbangan ini, aku hanya merasa menjadi hina dalam sekejab.

Ketika sampai pada kesimpulan sekejab..maka malam pun menjadi bertambah dingin dan sepi...Seolah ingin menenggalamkan diriku dalam gelap dan dinginnya malam ini. Akankah ada terang esok hari? Begitu doaku setiap detik di malam itu.