Mohon tunggu...
Moh. Wenning Ghalih
Moh. Wenning Ghalih Mohon Tunggu... Pelajar Sekolah - Pelajar Darul Arqam

Janganlah karena sayapmu yang patah menjadi keterbatasanmu untuk terbang

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

Menerapkan Filsafat Stoa dalam Kehidupan Sehari-hari

2 September 2022   12:00 Diperbarui: 2 September 2022   12:09 244 2 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Filsafat. Sumber ilustrasi: PEXELS/Wirestock

Somethings are up to us, and somethings are not up to us

-Epictetus

Pernah kan kita berucap kepada dunia “hidup ini tidak adil!.” Padahal kalau dipikir-pikir, sejak kapan dunia ini adil. Sering kali, hidup kita dikaitkan dengan problematika hubungan sesama manusia. Seperti teman yang selalu nyebelin, ngelawan saat dikasih tahu, menyindir secara halus, mencela secara tidak langsung, pura-pura baik di depan, ngomongin di belakang, lingkungan yang gak selaras banget sama alam kita dan realitas-realitas lainnya yang tidak sesuai dengan keinginan kita. Hingga menjadikan diri kita introvert. Lebih nyaman hidup sendiri, kerja sendiri, nikmatin sendiri, tanpa diganggu siapa pun.

Baca juga: Mahsyar

Ada sebuah kutipan terkenal dari seorang filsuf stoa bernama Epictetus, ia berkata ”Ada hal-hal yang berada di bawah kendali kita, dan ada hal-hal yang tidak berada di bawah kendali kita.” Sekilas, kutipan tersebut nampak tidak penting dan semua orang juga tahu. Namun, kalau kita kaji lebih konteks dari kutipan seorang pemikir stoa ini. Epictetus menekankan, bahwasanya, ada khittah-khittah, batasan-batasan yang mustahil dilampaui manusia. Sebesar apa pun orang itu berusaha, sekeras apa pun orang itu berpikir, ia tidak akan mampu mengubah kenyataan tersebut, yaitu: kehendak orang lain. Kutipan ini bisa menjadi salah satu pedoman yang mampu menyelesaikan segala permasalahan kita dalam berhubungan dengan manusia lain.

Hal-hal yang tidak berada di bawah kendali kita adalah segala sesuatu yang menjadi milik kehendak setiap orang. Seperti apa-apa yang mereka lakukan, apa-apa yang mereka pandang terhadap diri kita atau apakah mereka mau menuruti atau tidak perintah yang kita inginkan. Sedangkan, hal-hal yang berada di bawah kendali kita adalah segala sesuatu yang bisa kita lakukan kepada orang lain. Seperti berlaku baik, memberikan hadiah atau memengaruhi perspektif orang lain. Namun, sejatinya, tidak ada kata paksaan, tuntutan ataupun intimidasi atas tanggapan orang lain terhadap usaha-usaha kita.

Untuk lebih mengenal hakikat kutipan epictetus tersebut. Cobalah kita korelasikan dengan realitas kehidupan kita.  

Bagaimana cara menanggapi orang-orang yang suka gosip? Kerjaannya ngomongin kejelekan-kejelekan orang lain. Apalagi kalau ternyata apa yang mereka omongin itu adalah kejelekan-kejelekan kita. Marah banget kan pasti? Rasanya kepalat nampar yang akhirnya bertengkar secara fisik ataupun verbal.  

Di saat seperti ini, cobalah kita terapkan apa kata epictetus. Segala sesuatu yang mereka katakan tentang diri kita kepada orang lain, itu murni di luar kendali kita. Kita tidak bisa membungkam seluruh ucapan mereka, karena itu semua adalah lisan mereka. Lalu, apa yang berada di bawah kendali kita? Et! Bukannya nampar, kata Cania Citta “kalau ketemu masalah, yang difokusin itu solusinya bukan masalahnya.” Maka, kasihanilah pelaku. Berilah mereka pemahaman tentang konsekuensi gunjingan, barangkali mereka tidak tahu. Mintalah pertanggung jawaban atas apa-apa yang mereka katakan. Kalau apa yang dikatakan si tukang gosip itu benar, maka jadikanlah sebagai bahan introspeksi diri untuk kita menjadi lebih baik. Kita juga jangan ikut-ikutan gaul sama orang-orang yang suka gosipin orang. Karena bisa jadi mengubah perspektif kita terhadap orang yang di omongin.

Contoh lainnya, misalkan kita sudah terlanjur berada di sebuah tempat yang tidak kita inginkan. Seperti melanjutkan sekolah atau kuliah ke mana? ataupun tempat wisata yang tidak sesuai dengan ekspektasi? Kita merasa tidak nyaman dengan eksistensi tersebut. Sedikit membayangkan, ada seekor anjing yang diikat pada sebuah gerobak yang terus berjalan. Ia merasa tidak nyaman bersandingan dengan gerobak tersebut. Ia berlari sekuat tenaga melawan arah jalannya gerobak, menggigit-gigit tali belenggu berharap talinya putus. Namun, tak menghasilkan apa pun. Padahal, daripada berusaha keluar dari ikatan gerobak yang tentunya membuang-buang tenaga. Ia bisa berjalan bersisian dengannya sambil menikmati pemandangan selama perjalanan.  

Sama halnya dengan kondisi kita, daripada kita memikirkan eksistensi kita di tempat atau kelompok yang salah. Seperti dimasukkan ke sekolah berasrama yang kita benci, jurusan kuliah yang tidak selaras dengan bakat kita atau tempat wisata yang di wanti-wanti ternyata tidak sesuai dengan ekspektasi. Lebih baik kita menikmati apa yang ada, menjalani alurnya dan memaksimalkan apa yang kita miliki. Bisa jadi inilah takdirnya, ini yang terbaik, belum tentu selain ini bisa lebih baik.

Kesimpulannya, sebesar apa pun usaha kita dalam mengubah hal-hal yang di luar kendali kita, maka itu sia-sia. Sebaliknya, sedikit apa pun usaha kita dalam mengubah hal-hal yang berada di bawah kendali kita, maka itu berguna. Terima kasih telah membaca artikel ini. Semoga bisa bermanfaat bagi pembaca. Selamat merasakan kerasnya tamparan dunia.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Filsafat Selengkapnya
Lihat Filsafat Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan