Mohon tunggu...
Muhammad Wislan Arif
Muhammad Wislan Arif Mohon Tunggu...

Hobi membaca, menulis dan traveling. Membanggakan Sejarah Bangsa. Mengembangkan Kesadaran Nasional untuk Kejayaan Republik Indonesia, di mana Anak-Cucu-Cicit-Canggah hidup bersama dalam Negara yang Adil dan Makmur --- Tata Tentram Kerta Raharja, Gemah Ripah Loh Jinawi. Merdeka !

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Wayang Kontemporer (08) Buto Rambut Geni Tapa Bango

14 April 2010   15:11 Diperbarui: 26 Juni 2015   16:47 0 0 0 Mohon Tunggu...

Ia memilih Gunung Ratomana (1763 M) di Pulau Alor, Nusa Tenggara Timur --- untuk tempat ia ber-Tapa Bango.Buto Rambut Geni bukanlah tokoh pewayangan yang menonjol --- ia hanya figuran dalam jagat filosofi perwayangan.Tetapi Mengapa ?

Ia marah sekali dengan cara mengurus Negeri yang Dikasihi Dewa ini --- Mengaparakyatnya bisa lapar, kekurangan pangan ?

 

Ia menangis mengeluarkan air mata darah melihat orang-orang dewasa mengerang karena lambungnya kering, anak-anak yang garing meringkuk kelaparan.Buto Rambut Genimenangis darah.

 

Ia memilih tempat yang paling berbatu di puncak gunung itu --- ia bertekad ingin berbuat seperti Kumbakarna, mati dalam pengabdian kepada kebenaran.Ia kalau perlu biarlah mati dalam kelaparan.Ia ingin merasakan apa yang dirasakan rakyat NTT yang mati kelaparan, yang sengsara kelaparan.

 

Angin kering bertiup kencang di sana – ia tancapkan tapak kaki kanan-nya pada puncak batu tajam seperti paku, ia tahu di tapak kaki kirinya pun ada batu tajam menghunjam tapak kakinya..Ia kulum ludah dan udara di rongga mulutnya --- ujung lidah di langit-langit mulut.

Ia menghadap utara melepas matanya sejauh-jauhnya --- hanya biruLaut Flores, membentang.

Tampak kapal-kapal nelayan dengan berbagai Bendera, melaut, menjangkau hasil perikanan yang kaya raya.Senyap…………….

 

Ia bertapa seperti burung bango --- kaki bergantian menjejak bumi.Tapa Bango ini pernah dilakukan Sang Prabu Rahwana waktu menuntut Ilmu Kesaktian kepada para Dewa.Manjur mandraguna.

 

Dari panorama sudut matanya ke horizon Sabang Merauke --- redup, aura kenaifan yang menyelubungi, seperti Ibu Pertiwi merunduk nelangsa……………….

 

Seorang Raksasa Denawa, semacam Buto Rambut Geni bisa merasakan – menyatu cipta dan rasanya : bahwa Nusantara dilanda perkabungan yang miris.Sendi dan tulang Buto Rambut Geni nyilu merasakan getirnya kawula yang tidak berdaya --- syarafnya tersayat sembilu lapar, otot dan kulitnya yang tebal terasa lumer, merintih seperti susunan sel-selnya akan hancur berantakan.Ia menangis darah.

 

Goncangan gempa menggetarkan Nusantara dari Pulau Simeuleu sampai di Laut Sulawesi --- bumi Nusantara seperti diayak oleh para Angkara Murka --- seperti ribuan pasukan kera menyerbu Alengka yang durhaka.Tapak kaki Buto Rambut Geni bergetar, ada rambatan potensi lapisan bawah yang memberontak.Berayun-ayun, menari-nari sambil mejerit-jerit“Cak cak cak cak cak cak ……….Aduuuuuuuuh “

 

Di kejauhan sejak pulau Sabang sampai di perbatasan Papua Nugini --- manusia menjerit-jerit : “ Cakcakcak cakcak………..Aduuuh”

Dari Entikong sampai pantai Pulau Rote, di pantai Batu Tua :“ Cakcak cakcakcak cakcakAduuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuh”

 

Terdengar pula raungan Harimau Sumatera dan sejumlah hewan-hewan dari seluruh kepulauanNusantara : “ Auuuuuuuuuuuuuuuuuung Hooom Auuuh ………………Auuuuuuuuuuuuuung HoooooooooomAuuuuuuuuuh “

Buto Rambut Geni meneteskan air mata darah --- keringat darah,mengalir di celah-celah batu Bumi Florensis.

Terlihat pepohonan di malam buta itu merunduk menangisilahan yang terkikis --- menggelupas.

 

Matahari tetap terbit --- pepohonan yang merangas kehilangan hutan, kembali mencoba menghirup karbondioksidadi muka bumi. Semua manusia mengarahkan pandang ke rumah dan huma --- di mana Orang Utan dan Orang Rimba ,merambat mencari-cari umbut dan umbi untuk dimakan --- anak-anak Papua berlari-lari dari sekolahnya, pulang mencari bakaran ubi yang tersaji.Nusantara masih makmur !?

Sampai kapan kami bertahan ?!

 

Sang Hyang Bathara Guru terkesima melihat berkas cahaya dariBima Sakti , gugusan planet-planet, di mana bumi juga berada --- Ia mengutus Sang Hyang Narada untuk melihat, apa gerangan yang terjadi mala petaka di bawah sana.

 

“Aiiiet He kamu Buto , mengapa Nger, ana apa Nger ?”

Buto Rambut Geni masih langut dalam tapanya

“Ladhalahcucuku ---------Eiiiit si Buto ana apa Nger ?”

“Bangun cucuku ……………Eeit Buto bangun dari tapamu,Sang Guru berkenan mendengarkan tuntutan-mu “

Buto Rambut Geni tersadar dari tapanya.Mulutnya kelu telah tujuh bulan purnama tidak menggunakan lidah untuk berbicara.Kaki kanannya diturunkan dari lipatan di belakang lutut.Ototnya kebas tidak pernah mendapat sari makanan --- ia hidup dari oksigen saja !

“Ampun pukulun, hamba hanya ingin menyampaikan : “Sakit sekali lapar itu, Cak !”

Terdengar koor “ Cakcakcakcakcak…………………….Aduuuuuuuuuuuuuuuuh !”

“ AAAAiiih,akan dikirimkan Dewi Sri dari Medangkawulan untuk meningkatkan hasil panen di mana pun engkau maksud-kan --- dan saudara-nyaBathara Sadana agar kawula dapat makan --- tanpa dicuri tikus dan maling.EEEEEiiiiiiiiiiit “

 

“Apa lagi Buto ?”

“Buatkan Arca Buto Rambut Geni di dekat Monas --- untuk mengingatkan Pemimpin, bahwa Buto saja bisa ingat dengan rakyat yang jauh --- mengapa orang Jakartabisa lupa dengan rakyatnya yang jauh.Apakah harus dilaparkan dulu kah ? “

“Wladhalah Cu – aku minggat sik”Suuuuuuuuuuuuuuus ngono jo ngono . Sang Narada lenyap.

KONTEN MENARIK LAINNYA
x