Fiksiana

Mangkubumi Tangga Singgasana Langit

4 Oktober 2018   21:50 Diperbarui: 4 Oktober 2018   23:04 309 0 0

Matahari kian terang merahnya menyinari awannya saat ku sapa sang senja yang membawa ku melintasi berbagai desa. Desa sembada yang kaya akan lembu dan susunya menarik ku di pagi hari yang tak tersapa oleh orang-orang tumpah ruah yang tersibukan oleh lelapnya malam yang membekas di pagi hari, padahal hari sudah pukul 5.43, tetapi nuraninya kian redup, namun kulihat terang dilubuknya. Desa-desa yang mampu menampung kepala manusia didalam pasir yang ku lewati. Pasir keindahan, pasir keberulangan dan pasir ketakjuban yang tak termiliki oleh bajingan aku dan ku. Pasir hasil pengandaian seorang anak-anak yang mempelajari diri dengan keadaan asap yang bergantung pada keadaan api.

Penculikan yang membuat mereka membawa kepalanya kedalam pasir, penculikan yang tak terperikan oleh janin yang belum kunjung berdamai diri. Janin yang dikubur paksa oleh gennya dan takdirnya. Janin yang teraborsi akibat hubungan gelap di langit yang suci. Tragedi yang belum kunjung terperikan oleh benak manusia. Najisnya tragedi yang memaksanya untuk mencongkel kedua matanya untuk dijadikan cermin olehnya, najisnya tragedi yang melahirkan berbagai rasa cinta yang tak terbalas karena rahasia. Rahasia dalam tirai masa dan bangun yang membutakan ku dan aku yang serba sempit dan terhimpit olehnya ini. Yang terpaksa dilahirkan di kuburan yang terpendam oleh batu aksara suci sebagai tanda surgawi.

Tanda surgawi yang memerangi dunia, mengharapkan kebinasaan diri yang teramat menyiksa guna pencapaian langit. Batu aksara suci yang kian dicintai oleh ku dan aku yang lemah terbawa oleh arus sungai dan membutuhkan sandaran untuk berpegang guna melampiaskan ke-pias-an mimik ini. Apakah kita harus saling membenci bila tiada saling mencinta, apakah "aku" hasil aborsi ini yang membuatku haram akan kasih mu, oh sang ya. Tak terpikir oleh mu bila kau merupakan hasil aborsi yang serupa dengan diriku, hasil aborsi seorang perawan bermimik pias, hasil aborsi akibat gelapnya dunia yang ditelusurinya, dengan desahan akibat hempasan di letak yang tak terperikan awalnya.

Untuk mu sang penjaga kuburan ku dan aku, memanfaatkan keresahan akibat aborsi ini untuk kau nikmati, yang berjuang memangku bumi untuk pencapaian langit yang tak pernah mengemis pada mu. Kau karang seberkas kisah di langit mengharapkan kesaktian hanya pada mu, kau tafsirkan yang jauh di sana tapi kau tak pernah menafsirkan benak mu. Keterasingan mu yang membawa manusia-manusia hasil aborsi menguburkan dirinya, menguburkan kehendaknya yang membumi, membaru dan mencintai keberulangan peliknya makhluk hasil aborsi. Kau lukiskan sajak-sajak untuk si kafir di dahi pembuntutmu, kau pembenci sisi kiri maka kau butakan pula mata kiri pembuntut mu karena kau menginginkan seluruh dunia hanya memiliki sisi kanan, tanpa kiri bahkan tanpa tengah. Kau mengacu diri mu hanya memiliki sisi kanan, karenanya kau tidak mau menemui cermin yang menunggu sidang atas dirimu.

Sungguh kau sangat sakti hai penjaga kuburan, mantri langit dan bumi. Kekuasaan mu melampaui batas langit dan bumi, itulah sebabnya kau dipercaya memiliki kartu tarot oleh pembuntutmu. Kartu tarot yang melampaui tarot biasa, kartu tarot yang kau sembunyikan dalam benak mu, dan kau perangi benakmu guna menggantikan posisinya dalam dirimu. Itulah sebabnya seribu kata maaf dibibir mu yang manis terus membukakan jalan menembus akal pembuntut mu. Bibir manis mu yang membuat kaum terasing aku dan ku meledakan kepala dan mengeluarkan isi perut untuk memaksa sang langit turun untuk bersetubuh dengan diri mu. Memaksakan indahnya paras dan tubuh sang langit yang membuat libido mu kian memuncak.

Tetapi kau dan buntut mu menyelingkuhi sang langit, kau masih bersetubuh dengan bumi dalam semak belukar. Ku dan aku saksikan itu tapi kau tetap membentengi dirimu dengan cokelat manis di bibir mu, yang membuat buntut mu takluk dan percaya karenanya. Yang membuat pemujaan bibir cokelat mu terus berlangsung, karena cokelat mu bukanlah cokelat biasa, cokelat yang mengandung zat-zat langit yang tak terperi. Kau berhasil taklukan zat-zat langit yang kau jadikan cokelat guna mengatasi rasa lapar mu. Dan kini cokelat dan kehendak mu hanya menurut kepada isi perut mu.

Hal yang tak terpikirkan oleh ku sejak awal diaborsi, menafsirkan langit dan menjadi pemangku dunia sebagai mantri hubungan langit dan bumi. Hal yang memabukan orang-orang tumpah ruah untuk memotong urat syarafnya guna tak memiliki rasa. Tak memiliki rasa jika melihat mangsa untuk dimasukan kedalam neraka mu, bahkan kau sangat jijik dengan mangsa mu untuk tidak memasukannya kedalam perut mu yang kau anggap suci dan membutuhkan pelayanan di dunia yang melangit beserta panji-panji suci mu atas nama langit. Beragam cabe yang kau muntahkan dari mulut mu lalu kau masukan kedalam mulut buntut-buntut mu sehingga mereka geram dengan musuh ideologis mu. Kau membuat mereka kesurupan karena cabe mu, muka mereka memerah dan mengharapkan pembantaian atas musuh mu.

Apakah kita harus saling membenci bila tiada saling mencinta, apakah perkenalan yang membatasi antara ku dan aku yang membuat kau berkonflik dengan dirimu yang lain. Kau perangi dirimu lagi, lagi dan lagi, sebelum panji langit turun ke bumi dan kau ingin menjadi ubun-ubunnya. Apakah kuburan yang memanusiakan para makhluk hasil aborsi yang kebingungan di semak belukar. Sungguh kau hanya mengenal raga mu tetapi tidak hati mu, nurani yang terusir dari hilangnya kebebasan atas orang yang menjunjung mu ke langit. Seolah mereka menjadikan mu nabi baru, nabi yang kehilangan akal sehatnya karena dimabuk libido memangku bumi dan langit.      

Sungguh kau harus mendengar, "kami cinta yang ada disini, kami rindu segala keberulangan tragedi di sini karena kelak kami akan mencapai keheningan bila meninggalkannya". Manusia-manusia super yang dahulu menerangi kami-kami yang lain mengandaikan "keadaan" dari "ketiadaan" dan pengikutnya menyimpangkannya untuk mengubahnya "menjadi", menjadi segala sesuatu seperti dirimu salah satunya hai penjaga kuburan, yang dipuja sekaligus dicinta oleh para mata tertutup kain kafan.