Mohon tunggu...
Mutiara Tyas Kingkin
Mutiara Tyas Kingkin Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa

These are my collection of words to share with you. Hopefully, it will bring a good vibe to the readers

Selanjutnya

Tutup

Financial Pilihan

Merajut Asa Ekonomi Inklusif bagi Perempuan, Disabilitas, dan Generasi Muda dalam G20 BI-Stronger

29 Juli 2022   21:00 Diperbarui: 30 Juli 2022   04:27 206 5 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Finansial. Sumber ilustrasi: PEXELS/Stevepb

Indonesia mendapatkan kepercayaan dan kesempatan emas sebagai tuan rumah dalam Presidensi Group of 20 (G20) tahun 2022, yang berlangsung dari 1 Desember 2021 sampai 30 November 2022. G20 merupakan forum International yang terdiri dari 19 negara utama dan Uni Eropa (EU), yang berfokus pada kebijakan ekonomi dan pembangunan.

Kesempatan ini dimanfaatkan oleh Indonesia sebagai wadah untuk berperan dalam mengatasi isu-isu global sekaligus menunjukkan posisi negara dalam kepemimpinan dikancah International. Tidak hanya itu, Presidensi G20 juga digunakan sebagai dorongan pemulihan pasca pandemi COVID-19 sesuai dengan tema yang diusung sang tuan rumah yakni, “Recover Together, Recover Stronger.” 

Salah satu prioritas pemulihan dalam forum G20 ini adalah masalah perekonomian, khususnya perekonomian bagi negara berkembang, yang juga bekerjasama dengan Bank Indonesia untuk menggerakkan perekonomian Indonesia. Indonesia sendiri masih menjadi negara berkembang yang perlu menciptakan pertumbuhan ekonomi inklusif bagi warganya. 

Adapun implementasi ekonomi inklusif ini bagi mereka kaum perempuan, penyandang disabilitas, dan generasi muda. Dimana mereka perlu mendapatkan perhatian dan sarana yang tepat, untuk mencapai tujuan sesusai dengan pilarnya yaitu mengurangi penduduk miskin di Indonesia.

Berkaitan dengan hal tersebut, penulis berhasil mewawancarai ketiga narasumber dari kaum perempuan, pengelola usaha untuk penyandang disabilitas, dan generasi muda sebagai representatif dalam berkolaborasi mendukung pertumbuhan ekonomi inklusif khususnya setelah terkena dampak pandemi COVID-19.

Kaum perempuan yang kerap kali mendapat stigma dan subordinatif dari masyarakat, ternyata memegang perenanan penting dalam ekonomi inklusif. Mereka mengambil kesempatan ini untuk bersama-sama mengembangkan diri sebagai perempuan yang mandiri dan berkemampuan untuk meningkatkan kesejahteraan baik bagi diri sendiri, keluarga, dan lingkungan.

Menilik kisah Mba Anik (30th) selaku pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM). Mba Anik memiliki usaha warung makan yang berlokasi di pantai Tall Wolu, Kabupaten Bantul, Yogyakarta.

 “Perempuan harus mandiri, harus punya tekat dan talenta yang bagus untuk bisa mengembangkan diri di zaman modern, agar bisa membawa keluarga dan anak-anak lebih sejahtera tanpa bergantung pada suami sebagai kepala keluarga. Dengan harapan bisa mencipatkan lapangan kerja untuk perempuan-perempuan lain yang membutuhkan pekerjaan, agar bisa mendukung sesama perempuan untuk maju,” papar Anik.

Meski menghadapi tantangan dalam melakoni usahannya yakni, masalah marketing dalam menawarkan barang dagangan sekaligus memperkenalkan tempat wisata. Tantangan semakin terasa ketika pandemi COVID-19 yang sempat menutup usahanya dalam kurun waktu yang cukup lama. 

Namun, dengan adanya kolaborasi dengan pihak lain seperti promosi tempat usaha dengan pihak swasta maupun pemerintah usaha warung makan ini masih bisa berjalan kembali selepas pandemi COVID-19.

“Meskipun dikelola oleh seorang perempuan, tapi usaha mikro kecil seperti ini bisa untuk kesejateraan keluarga saya sendiri, dan juga membantu perekonomian lingkungan daerah wisata seperti pantai Tall Wolu ini,” tambah Anik. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Financial Selengkapnya
Lihat Financial Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan