Mohon tunggu...
Mutia AH
Mutia AH Mohon Tunggu... Lainnya - Penikmat Fiksi

Menulis yang ringan dan positif

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Puasa Ramadan

17 Mei 2021   17:07 Diperbarui: 17 Mei 2021   17:16 138
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Gambar dari Pixabay

"Fit, Fitri," panggilnya sambil menerobos masuk. Degup jantungnya semakin cepat Saat ia dapati beberapa tetangga berada dalam rumahnya. 

"Ramadan, kemana saja kamu, Jang, Jang?" 

Tak memedulikan yang bertanya, Rama langsung menghampiri Fitri yang tergolek lemah.

"Adikmu, pingsan, Jang!" terang Bi Narsih   tetangga sebelah Rama. 

"Fit, bangun Fit, Kakak pulang!" Dengan nada bergetar, Rama memangil-manggil nama adiknya sambil menggoyang-goyangkan tubuh Fitri. 

"Kak," sahut Fitri lemah. Mata kecilnya perlahan membuka. Fitri tampak kebingungan. Ia melihat ke sekeliling ruangan. 

"Akhirnya, kamu siuman juga, neng," timpal yang lain. Dengan cekatan Bi Narsih memberi Fitri minum dan menyuapinya makan. Hingga perlahan tenaga Fitri pulih kembali. Sinar matanya yang redup kembali berbinar. 

Satu persatu para tetangga Rama pamit pulang, setelah Fitri benar-benar pulih. Tampaknya ia pingsan karena lapar. Beruntung waktu itu ada Bi Narsih yang datang menjenguknya. 

"Ramadhan, Fitri, lain kali kalau ada apa-apa ngomong, ka Bibi. Kalian kan tahu Bibi sibuk tina pasar," ucap Bi Narsih. Sinar matanya satu memandang kedua bocah tetangganya. Ada rasa bersalah menusuk-nusuk hatinya. 

"Iya, Bi. Maaf merepotkan."
Setitik air mata jatuh di sudut mata Bi Narsih, mendengar jawaban Ramadhan. Hatinya trenyuh dengan sikap dewasa yang ditunjukan. Kehidupan pahit membuat bocah itu dewasa sebelum waktunya. 

"Ya, sudah. Bibi pamit dulu. Inget ya, lain kali bilang kalau butuh apa-apa. Jangan sungkan, Bibi cuma sibuk, bukan tak peduli sama kalian." Bi Narsih membelai pipi Fitri dan membelai kepala Ramadhan sebelum beranjak pergi. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun