Mohon tunggu...
Mutia AH
Mutia AH Mohon Tunggu... Ibu Rumah Tangga - Penyuka fiksi

Fiksi adalah petualangan tanpa batas. Menulis fiksi bukan berarti mendramatisir kehidupan, tetapi mencari hikmah dari setiap kejadian.

Selanjutnya

Tutup

Puisi Artikel Utama

Televisi Rusak dan Ayahku

18 Desember 2020   15:18 Diperbarui: 19 Desember 2020   18:06 200 27 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Televisi Rusak dan Ayahku
Sumber gambar: Pixabay.com

Televisi Rusak dan Ayahku

di ruang tamu rumahku
sunyi

tak ada kegaduhan
dari dua kubu yang berseberangan
adu pandangan
sebuah kebenaran

hanya ada ayah
leyeh-leyeh di bawah kipas angin sambil menikmati kopi

Ia seperti pemburu 

kehilangan senapan 

tak bersenjata juga kuasa

padahal sehari sebelum ini
Ia sering menembak
mereka yang duduk di kursi-kursi
di kantor-kantor
di jalan-jalan
bahkan di tempat-tempat sakral

"Semua sama, berani bicara saat di bawah panggung. Setelah tiba gilirannya ia menjadi wayang-wayang tanpa hati," teriaknya di akhir acara atau jeda pariwara.

"Penyakit Lupa memang berbahaya. banyak manusia lupa Tuhan-nya," lanjutnya setelah menghisap dalam nikotin dalam rokok lintingan.

Ah, ayah.
Kau pun lupa bahwa suaramu hanya angin lalu
berharga ketika berada di bilik suara
setelahnya hanya tangga yang tak berguna
setelah Lift menggantikan perannya

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x