Mohon tunggu...
Mutia Senja
Mutia Senja Mohon Tunggu...

Menulis sesuka hati.

Selanjutnya

Tutup

Hukum Pilihan

JusticeForAudrey: Seperti Mengupas Luka Lama

12 April 2019   20:15 Diperbarui: 12 April 2019   20:28 0 1 0 Mohon Tunggu...
JusticeForAudrey: Seperti Mengupas Luka Lama
surabaya.tribunnews.com

Saya sengaja diam ketika pemberitaan Audrey gencar diperbincangkan di berbagai media masa. Miris mendengarnya. Terlebih, korban dan pelaku adalah perempuan.

Perasaan getir dan malu seperti adonan yang diaduk jadi satu: tak karuan. Perempuan yang bagi saya adalah sosok manusia yang pantas diagungkan-agungkan, kini terbukti saling ‘tuding’ dengan melakukan kekerasan jiwa dan fisik. Perempuan yang memiliki predikat ‘ibu’ menjadi terkesan klise saat hashtag justice for Audrey semakin banyak diperbincangkan hampir di seluruh pelosok tanah air.

Tapi tunggu dulu, mencari detail informasi menjadi jalan satu-satunya sambil memilih ‘bungkam’. Walaupun yang diperoleh hanya pemberitaan, pendapat, dan komentar yang disajikan melalui layar gawai sempit dari berbagai macam sudut pandang yang luas. 

Maka, saya tidak mungkin menghakimi pelaku secara tiba-tiba sedangkansaya masih berusaha memahami bahwa yang melakukan tindak kekerasan adalah jugaseorang anak (pelajar). Mereka sama-sama membutuhkan perlindungan dan dukungan. Meski saya paham dengan rumus sederhana ini: memberikan simpati kepada satu pihak, belum tentu bermaksud menghakimi lain pihak. Singkatnya, keadilan bagi Audrey pantas digaungkan!

Saya tidak akan panjang lebar membahas bagaimana simpati masyarakat, wartawan, penulis, penyair, youtuber, musisi, pengacara hingga presiden menyuarakan diri terkait fenomena ini. Melihat gadis 14 tahun tersenyum dengan mengucapkan terima kasih kepada ‘suporter’ adalah bukti bahwa dukungan banyak orang menjadi semacam theraphis yang manis bagi Audrey.

Juga tidak berniat akan membahas perihal foto wefie pelaku setelah melakukan penganiayaan atau alat kelamin korban yang dilukai hingga membengkak, sebab berita masih simpang siur diperdebatkan. Jika pun pada akhirnya terbukti demikian, realita ini menjadi semacam belenggu yang menyadarkan kita bahwa moral generasi bangsa sedang berada pada tahap kritis.

Tiba-tiba saya teringat cerita mengejutkan saat sekolah dasar; salah seorang kakak kelasyang masih duduk di kelas enam melabrak adik kelas empat karena persoalan asmara.

Bayangkan, anak seumur jagung yang masih sangat awam perihal jalinan kasih sayang berlagak sok dewasa karena diduga pacar laki-lakinya menggoda adik kelas yang tidak kalah cantik. Saya sempat heran. Bisa jadi keheranan saya terjadi karena kurang baca buku atau jarang dolan. Tapi hal ini benar terjadi tahun 2006—tiga belas tahun lalu saat saya masih duduk di bangku kelas lima SD.

Peradaban akhirnya membawa saya sadar, bahwa hal tersebut telah menjadi wajar di kalangan anak sekolahan. Di SMP, tak jauh berbeda. Mendapati teman perempuan saya diapit di belakang pintu kelas sepulang sekolah oleh pacarnya adalah pemandangan biasa, labrak-melabrak antargenk karena pacar yang selingkuh, hingga dugaan putus sekolah akibat hamil di luar nikah seperti sudah akrab di telinga. Apalagi di zaman modern seperti sekarang ini, pembully-an hingga tekanan via media sosial sangat mungkin dilakukan. Ah, membicarakan perilaku manusia memang tak ada habisnya.

Masih merasa kental kekhawatiran perihal kejadian yang sama akan terulang kembali, sayadihantui berita pembunuhan Budi Hartono yang mayatnya diletakkan dalam koper tanpa kepala, disusul penemuan jenazah wanita hamil 9 bulan di pinggir Tol Jogorawi, yang kedua kasusnya masih misteri.

Mengapa penganiayaan berujung pembunuhan seolah menjadi satu-satunya jalan melampiaskan amarah? Di mana rasa kemanusiaan kita sebagai manusia yang dibekali pikiran sekaligus hati?

Kasus Audrey dan permasalahan serupa barangkali menjadi trending yang kesekian kalinya di Indonesia. Hukum terkait perlindungan perempuan dan anak seolah belum mampu menjadi naungan bagi terselenggaranya keadilan yang seadil-adilnya—menuntut siapa saja yang melakukan kekerasan dan menghukum hingga menimbulkan efek jera.

Tidak tanggung-tanggung, saat ini kita dihadapkan lagi dengan persoalan usia pelaku yang ternyata bukan hanya berasal dari golongan orang dewasa. Sengaja atau tidak, anak-anak di bawah umur banyak yang melakukan tindak kekerasan. Lalu jika begini, siapa yang akan bertanggung jawab?

Lebih dari apa yang ditimpa Audrey, mengawali pergantian tahun 2019 lalu, kasus Ebi sempat membuat saya kehilangan cara menghadapi sakit hati. Ebi, siswi SMP di Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat meninggal dunia karena diperkosa empat lelaki dewasa. 

Bocah malang berusia 15 tahun ini sempat pingsan ketika digulir untuk memenuhi nafsu setan keempat lelaki ini. Salah satu dari mereka adalah pacarnya yang berusia 18 tahun dan masih bestatus siswa SMA. Sedangkan 3 lainnya merupakan laki-laki dewasa masing-masing berusia 23, 25, dan 34 tahun. Perbuatan sadis ini akhirnya membawa Ebi dalam riwayat hidup yang singkat. Ia tewas dalam keadaan yang mengenaskan.

Seperti kehilangan misi mengapa saya menulis ini. Sebab hanya akan menguak luka lama yang kembali menganga dan perihnya kian terasa. Saya hampir tidak bisa berkata lagi. Mengingat di Sragen, kota kelahiran saya pernah terjadi arak yang ditimpakan kepada RS, siswi SMP yang juga berusia 14 tahun kala itu. Ya, seusia Audrey sekarang.

Dia hampir bunuh diri usai menanggung malu karena ditelanjangi dan diarak keliling kampung karena ketahuan mencuri sandal. Ironis. Tetangganya sendiri yang menjatuhkan hukuman ini.

Saya tidak bisa membayangkan betapa hancurnya kondisi mental dan kejiwaannya saat itu. Tapi air mata hanya akan jatuh dan tidak akan berarti apa-apa ketika hukum tidak bertindak tegas sebagaimana fungsinya.

Mengapa kasus semacam ini masih terus terjadi di negara kita? Orang-orang yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan semakin jarang ditemukan. Lalu apa yang dapat diambil dari sebuah pembelajaran terhadap baragam kasus yang telah terjadi jika keesokan harinya terulang kembali?