Mutia Senja
Mutia Senja Pembaca

Menulis sesuka hati.

Selanjutnya

Tutup

Hobi Artikel Utama

[Resensi Novel] Einstein dalam Ruang Fiksi

19 Maret 2019   06:00 Diperbarui: 20 Maret 2019   02:40 360 8 3
[Resensi Novel] Einstein dalam Ruang Fiksi
Buku Anomali Hati karya Lubic Grafura (Sumber Gambar: @BukuMojok)

"Entahlah, aku merasa seperti itu saja. Dulu, guruku pernah mengatakan bahwa sebelum kita dilahirkan ke bumi, ruh kita pernah dekat, itulah mengapa ketika berada di bumi kadang kita merasa dekat dengan orang yang belum pernah kita kenal. 

Sebelum jarak terbentang, barangkali kita dulu pernah sedekat ini," ucap Sheli sembari merekatkan jari telunjuk dan jari tengahnya hingga berdekatan dan mengarahkan ke Alendra.

Percakapan terakhir Sheli dan Alendra dalam novel Anomali Hati, barangkali, dapat digambarkan sebagaimana ilustrasi dalam cover buku ini. Dua insan yang memandang jam tangan masing-masing dengan saling membelakangi satu sama lain. 

Tepat dengan cerita yang akan disuguhkan dalam novel Lubis Grafura yang banyak mengandung "ungu" juga "biru"-nya sebuah kehidupan penuh teka-teki. Persis dengan cover buku terbitan Mojok ini.

Pertemuan mereka bermula ketika di kampusnya seseorang telah salah mengirim pesan. Alendra menanggapinya dan mereka menjalin persahabatan melalui dunia maya. Terjadi keterhubungan di antara mereka berdua (hal 13).

Hingga pertemuan mereka diakhiri dengan perjumpaan di sebuah Taman Belajar setelah fase yang cukup lama. Ketika sebuah mobil merah milik professor terlihat melaju di hadapan mereka. Dan selalu, "Semua akan baik-baik saja," tegas Alendra.

Lubis Grafura, dalam biografi singkat dipaparkan; lahir di Kediri, 8 Juli 1984. Terpilih sebagai salah satu penerima dana hibah dari Kementrian Pendidikan Nasional, Pusat Perbukuan, dan Kurikulum pada tahun 2011. Pernah mendapatkan berbagai pengharagaan nasional di antaranya Juara 1 Lomba Cipta Puisi tentang Keagungan Nabi Muhammad pada tahun 2007 yang diselenggarakan atas kerja sama Indonesia-Irak. Saat ini aktif sebagai pengampu Jurnalistik pada SMKN 1 Nglegok Blitar.

Latar belakang penulis sebagai pengampu jurnalistik, ternyata mampu mengangkat sebuah tema yang realistis tentang anomali waktu. Serentetan kisah ilmiah yang dibalut dengan fiksi seakan mengajak kita untuk peka terhadap segala hal yang terjadi di lingkungan. 

Hal ini membuat saya sepakat dengan pernyataan Dea Anugrah, penulis Bakat Menggonggong; "Writer's block itu seperti dosa. Kalau kita tidak memikirkannya, ia tidak ada. Seperti kata Szymborska: dua puluh tujuh tulang, tiga puluh lima otot, dan dua ribu saraf pada tiap ujung jari-jari kita sudah lebih dari cukup untuk menulis apa saja."

Maka, biarkan saya menyimpulkan satu hal dalam buku ini, bahwa syukur sangat berkaitan erat dengan inspirasi. Meskipun boleh dikatakan bahwa mereka bukan "saudara kandung", namun keduanya cukup berhasil untuk mendefinisikan hukum baru tentang teori semacam kait-mengait, dominasi, atau teori apa saja (yang bebas untuk disebutkan). 

Sebab, inspirasi tercecer di mana-mana; bawah meja, saku baju, rak piring, ampas kopi, sapu lidi, atau bahkan bau mulut kita sendiri. Bau mulut! Saya tidak habis pikir bagaimana Dee Lestari juga mampu membuat resep aksara dengan bumbu aroma. Ya, Aroma Karsa. Fantastis!

Di bagian pertama, Lubis tidak tergesa-gesa membawa penulis kepada konflik cerita. Dia mencobanya perlahan-lahan sambil disuguhi berbagai hidangan tentang beruang yang tiba-tiba kesakitan akibat terkena panah beracun dari seorang pemburu. Menu awal dapat kita santap dengan pertanyaan professor yang membawa kita kepada alur untuk mengenal hukum fisika. 

Hukum Newton, kekekalan momentum, teori dawai hingga yang menjadi persoalan utama perihal teori waktu. Pasti, tanpa didasari oleh pengetahuan tentang ilmu-ilmu fisika dan sejenisnya, fiksi ilmiah ini tidak akan pernah ada.

"Oh ya, Alendra, satu lagi, jangan pernah menyia-nyiakan waktu!" Seperti sebuah kalimat yang selalu diulang-ulang dalam buku ini, meskipun berbeda-beda subjek dan sudut pandang yang menaruh pesan kepada tokoh utama. 

Namun seolah penulis ingin memberikan penekanan khusus kepada pembaca yang berujung kepada amanat cerita. Seperti pengakuan Alendra; dulu, saat kecil aku berpikir bahwa membaca buku adalah membuang-buang waktu. Tapi seiring bertambahnya usia, aku tak boleh membuang-buang waktu tanpa membaca buku (hal 61).

Lagi, Galileo pun masuk sebagai nominasi berlabel waktu dalam hal ini. Dia mengakui bahwa seharusnya kita terhindar dari cinta berlebihan terhadap hal-hal duniawi dan meninggikan pikiran kita menuju hal-hal yang ilahiah (hal 23). Eureka! Saya medapat ugkapan keterkejutan dari Archimedes katika berhasil menemukan cara mengukur volume benda yang bentuknya tidak beraturan (hal 4).

Tidak hanya itu, Lubis juga memberikan luapan amanat dengan mengutip pernyataan Ray Bradbury, Milan Kundera, selain nama-nama ilmuwan: John Napier penemu logaritma, Tsai Lun penemu kertas, James Watt penemu mesin uap, Thomas Alva Edison penemu lampu pijar, George Stephenson penemu kereta api, juga kisah misteri Vlad dan Hitler. Keterangan perihal referensi ilmiah mampu ditemukan pembaca disetiap lembar atau dialog Alendra yang berhasil membawa pembaca masuk ke dunianya.

Ini persis seperti lukisan dinding kamar Alendra dengan potongn-potongan koran atau majalah tentang isu dan konsep yang berhubungan dengan ilmu fisika: partikel Tuhan, Hawking, lubang hitam, turbulensi, kecelakaan pesawat, Konspirasi 11 September, dan sederet istilah-istilah fisika lainnya (hal 25). 

Berbeda halnya dengan kesejajaran waktu yang menjadi fiktif dalam novel ini. Lubis Grafura mencatat betul teori ilmiah sambil terus membuat halusinasinya terbang jauh. Ada keterikatan tanah dengan langit, namun masih saling terkait meskipun terdapat jarak yang "renggang" untuk dianalisis lebih dalam.

Lagi lagi waktu! Sebuah anomali yang membuat kita turut bertanya, "Mengapa waktu?" menjadi sebuah tanda tanya besar untuk apa sebenarnya kita diciptakan. Sebuah misteri yang sama untuk menggambarkan pertemuan antara Alendra dan Sheli. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2