Mohon tunggu...
Muthiah Azzahrawani
Muthiah Azzahrawani Mohon Tunggu... Pelajar Sekolah - Pelajar

Hobi Membaca Insyaallah

Selanjutnya

Tutup

Worklife Pilihan

Memperluas Zona Nyaman, Siapkah?

20 November 2022   12:15 Diperbarui: 20 November 2022   12:17 119
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Worklife. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Freepik

MEMPERLUAS ZONA NYAMA,SIAPKAH??

   Ungkapan "keluar dari zona nyamanmu" sebenarnya sudah sangat populer sejak tahun

1990-an dari orang Persia. Istilah "zona nyaman" pertama kali diciptakan dalam "The Dangers of the Comfort Zone" yang diterbitkan oleh Judith Bardwick pada tahun 1991. Judith Bardwick mendefinisikan zona nyaman sebagai perilaku dimana seseorang dengan perilaku yang terbatas bekerja atau bekerja untuk mencapai tingkat kinerja yang stabil. Akibatnya, pekerjaan umumnya dilakukan tanpa resiko, monoton, dan membosankan.

    Berdasarkan pendapat Alasdair A.K. Dalam bukunya White yang berjudul From Comfort Zones to Performance Management, mengungkapkan bahwa zona nyaman dapat digambarkan sebagai fungsi secara umum atau nyaman tanpa usaha yang maksimal. Oleh karena itu, orang-orang di zona aman ini akan cenderung melakukan hal-hal secara normal, tanpa rasa takut dan tanpa resiko, bahkan terkesan monoton dan membosankan.

    Berada di zona nyaman berarti bisa dibilang kita sedang bekerja tanpa resiko besar. Orang yang bekerja di zona nyaman cenderung tidak terlalu takut atau khawatir karena tidak ada risiko dalam pekerjaannya. Alhasil, hasil performa kerja mereka menjadi cenderung stabil dan netral, tanpa peningkatan yang signifikan. Mengapa demikian?\

    Jadi ada percobaan pada tikus yang dilakukan oleh Roberts dan Jon Dodson pada tahun 1907, menjelaskan hubungan antara kecemasan dan prestasi. Eksperimen dilakukan dengan memberikan kejutan listrik yang meningkat, tetapi hanya pada titik tertentu pada tikus yang ditempatkan di labirin. Kemudian ternyata si tikus semakin terpacu untuk menyelesaikan labirin tersebut.

    Sampai sekarang, seperti yang dijelaskan dalam Hukum Yerkes & Dodson (Yerkes & Dodson, 1907), perilaku ini sebenarnya rasional dan sesuai untuk manusia. Hukum ini menjelaskan bagaimana orang merespons atau bereaksi terhadap rangsangan yang menimbulkan rasa takut. Menanggapi rangsangan ini, manusia dapat melakukan tiga hal. Artinya, melawan (memenuhi tantangan), lari (lari atau sembunyi), atau membeku (lumpuh).

    Hal ini bisa terjadi karena sistem saraf manusia memiliki zona gairah yang disebut Goldilock. Jika kamu berada di zona nyaman terlalu lama, maka kamu akan mulai merasa bosan. Namun, terlalu jauh ke dalam zona nyaman ini juga dapat menghambat kemajuan kamu. Stres dapat mempengaruhi banyak aspek kehidupan. Dimulai dari penampilan, produktivitas tenaga kerja, dan tentunya kesehatan. Bahkan stres dapat menunda jadwal tidurmu.

    Kemudian hal tersebut akan sangat berpengaruh pada kehidupanmu, seperti gejala ringan contohnya wajah menjadi kusam, dan tentu saja kamu bahkan tidak bisa berkonsentrasi pada pekerjaan saya, dan saya kehilangan motivasi. Dr Matthew Zawadzki, seorang asisten profesor psikologi di University of California, dikutip oleh Shape, menunjukkan bahwa stres menyebabkan peningkatan denyut jantung, tekanan darah, dan kadar hormon.

    Oleh karena itu, masuk akal jika mereka yang mengalami stres jangka panjang atau kronis tidak baik untuk kesehatan. Bahkan, para ahli kesehatan mengatakan bahwa stres yang berlebihan merupakan silent killer yang dapat menyebabkan kematian dini, baik sakit maupun bunuh diri.

    Salah satu culture shock yang sangat sering terjadi di kalangan anak remaja adalah beradaptasi kembali di lingkungan yang baru.Terlebih lagi saat masuk sekolah ke jenjang yang lebih tinggi.Bertemu dengan orang baru,kegiatan baru dan pastinya lingkungan yang baru.Tidak mudah memang untuk beradaptasi kembali.Dibutuhkan waktu yang cukup untuk benar-benar mengenal. Yang perlu kita lakukan adalah Memperluas zona nyaman dan tidak keluar zona nyaman.Yang mungkin sebelumnya kita hanya stuck di situ-situ saja cobalah untuk berani berkreasi dan menchallenge diri sendiri.Mental yang kuat akan membantu menuntun kita untuk melakukan hal yang challenging.Oleh sebab itu kita sebagai generasi penerus haru benar-benar siap untuk menjadi penerus para pahlawan dengan berani menunjukkan siapa diri kita dan bakat yang kita punya.Tidak perlu malu dengan bakat yang kita punya,karena semua bakat adalah istimewa.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Worklife Selengkapnya
Lihat Worklife Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun