Mohon tunggu...
27 MusyaffaJundi
27 MusyaffaJundi Mohon Tunggu... a beginner

08 May'01

Selanjutnya

Tutup

Bulutangkis

Badminton World Fairless

4 April 2021   09:38 Diperbarui: 4 April 2021   09:40 39 2 0 Mohon Tunggu...

Maret lalu tepatnya pada tanggal 17 sampai 21 telah diselenggarakan perhelatan akbar All England 2021 yang berlangsung di Arena Birmingham, Inggris. Turnamen ini merupakan berlevel 1000 dan menawarkan total hadiah mencapai 850 ribu dollar AS atau setara dengan Rp12,15 miliar. Biasanya turnemen ini diwarnai dengan pamain-pemain kelas dunia yang berasal dari berbagai negara seperti Indonesia, China, Japan, Korea, India, Denmark, England, dan masih banyak lagi. 

Namun dengan adanya pendemi covid-19 ini warna All England menjadi berbeda, karena beberapa negara tidak ikut dalam pertandingan ini padahal memiliki pemain yang sangat berkelas, seperti China, Korea dan beberapa pemain yang berasal dari Jepang. Pemerintah China tidak memberi izin kepada altel untuk mengikuti All England 2021. Sementara pemain Jepang yaitu Kento Momota memutuskan untuk mundur dari tiga pertandingan penting dikarenakan didiagnosa positif covid-19.

Sedangkan untuk team dari Indonesia mengirimkan pemain-pemain terbaiknya diantaranya ada Greysia Polii, Apriani Rahayu, Praven Jordan, Mohamad Ahsan, Hendra Setiawan, dan masih banyak lagi. Namun sayangnya perjuangan para atlet Indonesia tidak semudah yang dibayangkan, mereka dipaksa mundur dari perhelatan All England 2021 karena salah satu penumpang seperjalanannya terjangkit covid-19 dan hal itu membuat Indonesia dipaksa keluar dari All England. 

Sejumlah pemain diminta untuk tidak menjalani pertandingan dan dinyatakan kalah. Sesuai dengan ketentuan pemerintah Inggris, jika berada pada satu pesawat yang sama dengan orang yang positif COVID-19, maka diharuskan menjalani isolasi selama 10 hari. Sehingga, tim Indonesia dipaksa mundur dan melakukan isolasi sampai tanggal 23 Maret 2021 di Crowne Plaza Birmingham City Centre, terhitung 10 hari sejak kedatangan tim ke Birmingham pada Sabtu.

Beberapa atlet melakukan protes keras kepada Federasi Bulutangkis Dunia atau yang biasa dikenal dengan BWF dengan alasan BWF telah bersikap tidak adil pada tim Indonesia. Ketidak adilan itu muncul karena jadwal All England diundur selama beberapa jam setelah sekitar tuju orang yang terjaingkit covid-19. Tujuh orang itu diantaranya ada asisten pelatih dari Denmark, Thomas Stavngraad, tiga pemain yang berasal dari India, dan salah satu staff pelatih dari India, tetapi setelah dites ulang ketujuh orang itu dinyatakan negative dan diberi izin untuk mengikuti pertandingan. 

"Jadi mengapa kami tidak juga tidak bisa mendapatkan keadilan yang sama di sini? Dan jika ada aturan ketat untuk memasuki wilayah Inggris karena COVID, BWF seharusnya sudah mendaftarkan sistem bubble yang menjamin keamanan kami," tulis Marcus di akun Instagramnya. Dubes Indonesia untuk Inggris juga turut aktif menyuarakan protesnya dan menuntut keadilan serta transparasi untuk Indonesia di All England.

Akibat insisden itu Indonesia melalui Komite Olimpiade Indonesia resmi melaporkan BWF ke Pengadilan Olahraga Internasional atas kasus yang menimpa para atlet bulutangkis Indonesia. Raja Sapta Oktohari, selaku ketua NOC, seperti dilansir dari CNNIndonesia.com. berkata bahwa kami Kami melihat apa yang dilakukan BWF sangat tidak profesional. Kami sudah komunikasi dengan PBSI, Kemenpora, Kemenlu, Asian Badminton Federation dan kami akan teruskan skandal ini ke Pengadilan Arbritase Olahraga Internasional.

VIDEO PILIHAN