Travel Pilihan

Sehari di Tegal Cari Inspirasi agar Tak Gagal

11 Februari 2019   22:52 Diperbarui: 15 Februari 2019   06:13 11 0 0
Sehari di Tegal Cari Inspirasi agar Tak Gagal
dokpri

Saya mengunjungi Tegal, tepat sehari setelah saya keluar dari perusahaan yang telah membesarkan saya selama 3 tahun. Berat rasanya saat itu, di tengah suasana yang begitu nyaman dan akrab saya malah memilih keluar.

Tujuannya satu, saya perlu suasana baru yang mendorong saya lebih baik lagi. Saya takut jika terlalu nyaman justru saya tidak berkembang. 

Satu ketakutan lainnya adalah saya akan berada di tengah momen pernikahan sahabat sekaligus teman becanda saya. Saya takut merasa kehilangan makanya ini salah cara saya lepas dari ketergantungan saya ke dia dan menerima bahwa saya akan kehilangan dia. Akan bahaya nantinya jika kita terus dekat sementara dia akan beristri.

Jadi lebih baik kami saling hilang dan merenggangkan jarak. Jadi selama kontemplasi itu saya memilih melarikan diri ke Tegal. Kebetulan saya ada kakak sepupu di sana jadi bisa numpang menginap sekalian silahturahmi.

Saya bersama mama tiba malam hari di Tegal menumpang kereta ekonomi yang harganya kurang dari Rp 100 ribu berangkat Stasiun Senen. Malam itu, Samcehon (paman dalam bahasa Korea) yang asli Korea menjemput saya dan mama. Tampak stasiun ini benar-benar tidak beraturan mirip pasar malam.

Untuk dia menemukan saya, kami yang kelaparan benar-benar berharap disambut makanan enak khas Korea yang sering dimasak oleh keluarga ini. Tapi sampai di sana kami tak mendapati apapun. Teteh saya menawarkan memasakkan mie rebus dan buyar semua bayangan tentang makanan enak Korea. Baiklah tidak apa, makan mie rebus pun tak apa. Hiks.

Esok paginya semua serba ribut karena pagi-pagi samcheon saya berangkat teteh saya menyiapkan segala, termasuk anak-anaknya yang sekolah. Saya kebagian ikut mengantar mereka sembari melihat suasana tegal di pagi hari yang ternyata lumayan sepi dibanding Jakarta.

Saya tak puas, akhirnya saya mengajak mama berkeliling lagi untuk membeli tiket pulang (kami lupa belom beli tiket pulang) dari situ kami penasaran dengan icon kota tegal, apalagi kalau bukan teh poci.

Kalau diperhatikan memang di sini banyak perusahaan teh poci asal Tionghoa yang bersaing, sampai plang-plang jalan semua serba merek teh poci. Tapi saya tidak tertarik dengan teh poci bermerek saya pun menjajal teh poci pinggir jalan yang rasanya aduhai. Nikmat tenan.

Selesai menyesap hangat dan harumnya kopi di pinggir jalan dekat stasiun tegal kami naik becak ke pasar. Tujuannya mau beli teko teh poci wkwkwk... di pasar itu saya juga mencicip beragam kuliner, es cendol sedikit tak biasa, pecel, sampai tahu aci yang jadi favorit saya selama di tegal.

dokpri
dokpri
Kami juga beli tahu aci buat dibawa pulang. Di pasar ini pulak kami nemu macem-macem yang jualan aneh. Contohnya kepala kambing. ajegile serem juga lihat kepala kambing teronggok di meja bareng beragam daging. Si kambing yang dipenggal juga serem karena dia sambil melet gitu adehhh ngerih....

Dari pasar kita masak-masak sebentar, dan kembali keimplusifan saya muncul. Saya mendadak pengen ke pantai. Maka jadilah sore itu saya berangkat ke pantai setelah mengajarkan heejin menggambar kupu-kupu yang lalu dia pamerkan ke ayahnya hahha...

Harga becak ke arah pantai sekitar 30 ribu. Saya sewa untuk PP e tapi ya jauh banget ternyata sampai ga nyampe-nyampe rasanya. Saya kasian si sama abang becak untung dia masih muda jadi sedikit lega. Sampai di sana saya hanya sebentar menunggu tenggelamnya sang surya di Pantai Tegal Wangi.

Namun karena tegal tidak terletak di barat Jawa maka yang terjadi saya kebingungan mencari arah sang senja. Hari itu tampak tak begitu istimewa , pantainya pun kotor penuh sampah dedaunan dan berwarna hitam, airnya juga tak kalah jelek.

dokpri
dokpri
Entah mungkin karena banyak orang-orang aktivitas kali di sini, selain itu di sini juga ada rumah dan jembatan yang tinggal kerangka saja jadi bingung ini sisa bangunan apa mau dibangun tapi gak jadi. Yang jelas ini membuat ketidakjelasan dan mengganggu.

Belum lagi pemda sana pun belum ngeh soal peluang pariwisata digital atau instagramable semua tampak tak tertata dan serba biasa tak ada yang menarik. Tak heran senja pun enggan menampakkan pesonanya.

Dari sini kita pulang ke rumah sepupu dan ternyata jalan yang ditempuh setengah jauhnya dari jalan berangkat. Saya terheran-heran tapi tak bertanya. Seheran saya dengan nama Rita yang ada di mana-mana Rita mal, supermarket sampai tempat bermain. Jadi siapakah Rita hahaha...katanya pengusaha di kota Tegal. Keren juga dia bisa monopoli gitu hahaha... perjalanan di Tegal mengajarkan saya bahwa segalanya tak perlu bergantung dengan orang karena semua kesenangan diri sendiri yang menentukan.