Mohon tunggu...
Mustafa Afif Abd
Mustafa Afif Abd Mohon Tunggu... Berimajinasi. Bernarasi. Berbagi.

| kuli besi tua | penyuka MU & Real Madrid | twitter : @mustafa_afif | niatkan ibadah, seluruhnya |

Selanjutnya

Tutup

Bola Artikel Utama

Moncer di Level Junior Redup di Senior, Tipikal Khas Talenta Muda Indonesia?

30 November 2019   21:47 Diperbarui: 2 Desember 2019   11:58 0 7 1 Mohon Tunggu...
Moncer di Level Junior Redup di Senior, Tipikal Khas Talenta Muda Indonesia?
Media PSSI via Superball

Timnas Sepak bola U-22 Indonesia mengawali perhelatan Sea Games ke-30 yang diselenggarakan di Filipina dengan mantap. Pasukan Garuda Muda berhasil menghajar tim kuat Thailand dengan skor meyakinkan.

Setelah berhasil melibas Timnas Thailand yang kerap menjadi momok bagi negara-negara Asia Tenggara, Egy Maulana dkk. juga berhasil mencukur Timnas Singapura yang sebelumnya melakukan psywar menakutkan, tapi akhirnya mampu dipermalukan.

Kita semua berharap trend positif itu berlanjut saat Timnas yang ditukangi oleh Indra Sjafri itu bisa mengalahkan Vietnam pada laga ketiga Grup B yang akan berlangsung besok, minggu 01/12/2019.

Kemenangan tiga kali berturut-turut tentu saja akan menjadi modal yang baik untuk berlaga di babak selanjutnya, lolos ke semi-final, lalu ke final, dan akhirnya juara. Tangan dingin Indra Sjafri yang pernah berjaya dengan talenta-talenta muda semoga membawa tuah yang mampu menghilangkan dahaga bangsa kita akan manisnya juara.

Para pecinta sepak bola kita haus akan kemenangan, haus akan juara. Syukur-syukur ditopang dengan gaya permainan yang atraktif. Menarik, dan menghibur.

Kita pernah mengalaminya, beberapa tahun yang lalu ketika Timnas U-19 kita berhasil menjadi juara AFF 2013 setelah mengalahkan Vietnam melalui adu pinalti. Sejak saat itu, seperti ada cahaya terang bagi Timnas Senior kita, bahwa merekalah yang akan menjadi punggawa-punggawa hebat yang akan membesarkan nama Indonesia.

Timnas U-19 yang juga berhasil menghajar Korea Selatan dengan skor 3-2 itu memang dihuni oleh talenta muda berbakat yang luar biasa. Tak hanya skill yang mumpuni, tapi juga ketahanan mental serta fisik yang kuat.

Maka tak heran ketika nama-nama seperti Evan Dimas, Maldini Pali, Paulo Sitanggang, Ilhamuddin Armayn, Dimas Drajad, Dinan Javier, Zulfiandi, Hansamu, I Putu Gede, Ravi Murdianto, dan lainnya seperti membawa angin segar perubahan untuk Timnas di masa yang akan datang.

Namun ada permasalahan klasik yang sepertinya menjadi ciri khas Timnas kita, yaitu "hilangnya" kegarangan para talenta muda ketika menjadi bagian dari Timnas senior atau jika tidak demikian, permainan mereka menurun serta ketahanan fisik yang tak lagi bisa diajak perang jor-joran. Sebagian dari mereka, bahkan semakin melemah dan tak dilirik oleh pelatih Timnas senior atau bahkan klub-klub di Liga 1.

Seleksi alam. Cukup masuk akal karena dalam sebuah pertandingan, yang akan dibawa untuk berperang adalah orang-orang hebat dan pilihan.

Namun, kita dihadapkan pada permasalahan lain, bahwa Timnas Senior kita tak ubahnya sosok orang tua yang dengan mudahnya dipermainkan seperti kucing-kucingan pada babak kedua. Hal semacam ini selalu terjadi. Di babak kedua, para pemain Timnas Senior kita kerap dijadikan bulanan-bulanan oleh pemain lawan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN