Mohon tunggu...
Mustafa Afif Abd
Mustafa Afif Abd Mohon Tunggu... Berimajinasi. Bernarasi. Berbagi.

| kuli besi tua | penyuka MU & Real Madrid | twitter : @mustafa_afif | orang biasa |

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Ke Manakah Kader-kader Milenial di PSI?

24 November 2019   12:03 Diperbarui: 24 November 2019   12:15 1877 3 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Ke Manakah Kader-kader Milenial di PSI?
KOMPAS.com

Bro and Sis, Presiden Jokowi secara resmi telah mengumumkan dan melantik para Menteri yang akan membantunya, para stafsus yang akan membersamainya, serta para pembantu dari pembantunya aka Wamen yang semuanya diangkat untuk menciptakan perubahan dan memajukan Indonesia.

Bro and Sis, akhirnya teka-teki yang selama ini menghantui sebagian masyarakat kita telah terjawabkan, termasuk dua hal menarik yang menjadi pantauan khusus, yaitu bergabungnya Prabowo Subianto dan Edhy Prabowo (Partai Gerindra) ke dalam koalisi serta siapa saja yang mengisi posisi dari kalangan milenial.

Bro and Sis, soal posisi Menteri dari kelompok milenial ini sebelumnya beredar nama-nama seperti Grace Natalie (PSI), Tsamara Amany (PSI), Agus Harimurti (Demokrat), Wafa Taftazani (CSP Youtube di Google), Nazim Machresa (Grid.Inc), Angela Herliani (Perindo), dan Nadiem (Go-Jek). Pada akhirnya, hanya Nadiem yang terpilih menjadi Menteri, sementara Angela diangkat menjadi Wamenparkraf. Lainnya, kembali ke posisi semula.

Bro and Sis, lalu bagaimana dan dimana posisi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) sebagai partai yang mengaku paling milenial dan dihuni oleh manusia-manusia milenial? Lalu dimana posisi mereka saat secara mati-matian mengusung dan mendukung Jokowi pada Pilpres lalu? Dimana posisi mereka dengan idealisme-nya serta konsep milenialnya?

Kemanakah Grace Natalie, Tsamara Amany, Rian Ernest, Juli Antoni, Isyana Bagoes, atau mungkin Faldo Maldini yang sudah hijrah itu, barangkali juga Guntur Romli yang hobinya nyinyir itu? Tapi sebagian dari mereka, kan, memang bukan milenial dan hanya suka membawa-bawa isu milenial. Benar juga. Tapi tidak juga, masih banyak, kok, yang milenial dan bisa "diajukan" atau "dikasih" ke Presiden ketika namanya diminta, sebut saja si Dedek "Uki" Prayudi yang suka twitwar itu.

Hanya ada nama Surya Tjandra sebagai Wamen Agraria dan Tata Ruang, yang tak bisa juga dikatakan sebagai bagian dari milenial karena usia hampir menyentuh kepala lima. Bahkan ketika pengumuman stafsus Presiden yang fenomenal kemarin itu, wakil PSI tak termasuk dalam tujuh (7) yang "dipajang" oleh Presiden karena Dini Shanti Parwono tak lagi bisa disebut milenial karena usianya 45 tahun.

Bro and Sis, kedua wakil PSI yang kerap membawa jargon milenial itu, sayangnya bukan orang-orang milenial. Semacam keanehan dan kejanggalan. Mestinya untuk semakin menguatkan rasa milenial dari PSI, orang-orang yang diberi jabatan dan merapat ke dalam kekuasaan adalah kader-kader milenial. Tapi rupanya, itu tak dilakukan. Entahlah, itu pertimbangan partai.

Bro and Sis, PSI yang berjuang berdarah-darah pada Pilpres, bahkan dimulai sejak mendukung Ahok dan sampai saat ini konsisten mengkritisi dan nyinyirin kebijakan Anies, hanya mendapatkan 2 jatah, dan itu pun diberikan pada yang bukan milenial. Perjuangan itu bahkan kerap kali dilakukan dengan melemparkan isu-isu sensitif yang menyakitkan dan cenderung membuat gaduh dibandingkan menciptakan solusi, dan pada sisi yang lain justru merugikan yang didukungnya.

Kader-kader kritis yang selama ini sering berkoar-koar di media sosial, mati-matian membela Jokowi dan menghinakan Anies sedemikian rupa, sebagiannya dengan diksi tak patut dan dengan cara-cara yang sedikit absurd, rupanya memang tak memiliki nilai tawar besar dalam proyeksi bagi-bagi kekuasaan.

Bro and Sis, PSI itu partai baru jadi wajar saja jika begitu. Oke. PSI itu partai modern yang memperjuangkan demokrasi, melawan diskriminasi, menjauhi perda syariah dan poligami, jadi tak perlu posisi. Perjuangan berdasarkan keyakinan dan prinsip partai. Kritis terhadap segala ketidak-adilan. Betul, tapi untuk pihak dan kelompok yang tidak didukung mereka, sementara untuk yang didukung, mereka cenderung mingkem dan berkelit.

Bro and Sis, PSI itu mendukung tanpa syarat, tanpa kepentingan, tanpa hitung-hitungan untuk bagi-bagi kekuasaan. Baiklah, betul. Tapi tagline seperti sudah menjadi "hak paten" Partai NasDem; mendukung tanpa syarat, tanpa mahar. Meski realitasnya, ya, seperti itulah. Jadi, lebih baik mencari cara berkelit yang lebih modern dan khas.

Bro and Sis, banyak orang menduga, awalnya, bahwa posisi-posisi milenial yang arahnya mendekat ke pemerintahan akan banyak "diberikan" kepada PSI dengan stok kader milenial yang melimpah, tapi rupanya tak banyak "jatah" yang diberikan. Bahkan ketika diberikan pun, nama yang disetor bukan dari kalangan milenial.

Bro and Sis, apakah ini hanya bagian dari bagi-bagi posisi di tingkat partai yang nantinya tinggal diganti dan diberikan secara "bergiliran" kepada beberapa kader atau ada jatah lain yang sedang ditunggu meski tak dekat dengan Presiden tapi tak jauh dari Direktur atau Komisaris mungkin? Entahlah.

Dari gembar-gembornya, sudah luar biasa. Tapi rupanya, jualannya banyak tak laku juga.

Ke belakang, tak perlulah ngomong terlalu banyak soal milenial ketika posisi kaum milenial tak jauh berbeda dengan posisi di partai-partai lama. Dipikir, partai-partai tua itu tak ada milenial? Buanyak. Tapi mereka tak memiliki peran. Kalah kekuatan dengan para tetua yang sudah memiliki "jalan". Jadi, kalau sebenarnya persepsi soal milenial dan kaum muda itu sama, untuk apa mengampanyekan melalui diksi yang berbeda?

Semangat milenial, kan, tak harus selalu soal posisi. Terlebih penting proses berpolitik dan pendidikan kepolitikan ditujukan untuk anak muda dan milenial agar tak apatis terhadap politik. Serius, berpolitik hanya untuk itu saja? Wah, betapa mulianya. Sungguh luar biasa.

Tak masalah sebenarnya, apapun yang dilakukan. Publik, seperti saya, hanya mempertanyakan konsistensi jualan PSI soal milenal dan anak muda berdasarkan pada dua fakta, yaitu tak banyak kader milenial PSI yang diperlukan oleh penguasa (mungkin saja karena terlalu banyaknya kepentingan yang harus diakomodir sementara jatah posisinya tak memungkinkan) dan sekali diperlukan kader yang diberikan bukan dari kalangan milenial.

Itu saja.


Salam,
Mustafa Afif
Kuli Besi Tua

VIDEO PILIHAN