Mohon tunggu...
Mustafa Afif Abd
Mustafa Afif Abd Mohon Tunggu... Berimajinasi. Bernarasi. Berbagi.

| kuli besi tua | penyuka MU & Real Madrid | twitter : @mustafa_afif | niatkan ibadah, seluruhnya |

Selanjutnya

Tutup

Pemerintahan Pilihan

Mungkinkah AHY Menjadi Menteri? Membaca Kegetiran Terulangnya "Trauma" Politik Megawati

15 Oktober 2019   17:37 Diperbarui: 15 Oktober 2019   17:44 0 3 1 Mohon Tunggu...
Mungkinkah AHY Menjadi Menteri? Membaca Kegetiran Terulangnya "Trauma" Politik Megawati
Instagram AHY & CNN Indonesia

Dinamika politik yang demikian cair ikut berperan dalam memunculkan pola negosiasi antar politik yang menafikan ketidak-mungkinan. Semuanya menjadi serba mungkin; bisa didiskusikan melalui secangkir suguhan; tawar menawar hingga berujung kesepakatan. Benar kata banyak orang, politik adalah seni segala kemungkinan untuk memuluskan kepentingan.

Gerindra yang dulunya menjadi lawan utama dari koalisi pendukung Jokowi-Maruf, mulai melakukan pergerakan yang dibaca banyak orang sebagai "proses rujuk". Prabowo mengunjungi tokoh-tokoh penting yang menjadi kunci koalisi. Dua kali bertemu dengan Jokowi, lalu bertemu juga dengan "Bos Besar" partai-partai koalisi, Megawati Soekarnoputri.

Maka tidak aneh ketika ramai kabar burung yang mengatakan, bahwa Gerindra juga akan mendapatkan posisi menteri di Kabinet Jokowi. Tentu tidak mudah untuk memuluskan itu. Gerindra harus mendapatkan restu, sebagaimana terkonfirmasi dari statement Puan Maharani.

Tak lama kemudian, seakan ingin "permisi", Prabowo menemui Surya Paloh, Ketum NasDem yang sebelumnya menjadi partai paling "keras" terhadap kemungkinan masuknya Gerindra ke koalisi. Selang sehari kemudian, Prabowo juga menemui Ketum PKB, Muhaimin Iskandar. Semacam safari politik yang membuat banyak pihak geleng-geleng kepala.

Gerindra relarif diterima meski kita semua tinggal menunggu, apa saja hasilnya beberapa hari ke depan.

Setali tiga uang, meski tak begitu kelihatan, Demokrat seperti melakukan pola yang sama. Sampai saat ini, belum ada kepastian akan dimanakah posisi Demokrat berada: antara mendukung atau tetap menjadi oposisi. Mungkin juga seperti biasa, kembali menjadi partai "tengah". Main aman. Tak memihak kemana-mana meski kecenderungannya pasti terbaca.

Mendekat malu, ditinggal seolah tak mau. Pola komunikasi politik Demokrat, melalui Agus Harimurti Yudhoyono (selanjutnya AHY), lumayan renyah dan diterima oleh banyak pihak. Meski terbentur dengan pengalaman politik yang minim namun Ketum Kogasma itu terus belajar dan menempa diri. Dalam banyak sekali kesempatan, SBY seperti membiarkan AHY belajar. Dalam banyak pertemuan dan acara, SBY selalu memberikan AHY peran.

Pasca Pilpres, dalam momentum Hari Raya Idul Fitri, ia bersilaturrahmi ke Jokowi lalu dilanjutkan ke rumah Megawati. Beberapa waktu kemudian, ia kembali bertemu dengan Jokowi di Istana negara. AHY kerap kali melakukan kunjungan dan silaturrahmi dan dalam banyak kesempatan, ia menjadi representasi dari Demokrat serta membawa nama besarnya Bapaknya: SBY.

Dari situlah kemudian seperti terbuka pintu negosiasi. Orang-orang penting di Demokrat mulai cooling down dan tak terlalu "sadis" mengomentari pemerintahan Jokowi. Beberapa yang lain, seakan "membuka diri" untuk terjadinya diskusi dengan alasan klasik: untuk kepentingan bangsa dan negara. Termasuk pertemuan antara SBY dan Jokowi kemarin, yang dibaca oleh banyak sebagai momentum eratnya negosiasi.

Maka tidak aneh ketika nama AHY selalu dikait-kaitkan dengan komposisi Menteri yang sedang disusun oleh Jokowi. Beberapa kali beredar nama-nama Menteri dan posisinya masing-masing, namun selalu terklarifikasi sebagai hoaks. 

Justru dari info yang beredar itu, hampir selalu ada nama AHY disitu. Ada yang meletakkannya sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga, ada juga yang memosisikannya sebagai Mennko PMK.

Terakhir, pernyataan Ngabalin seperti mengonfirmasi meski masih bersembunyi di balik kalimat yang normatif, "Ya. Mudah-mudahan dengan izin Allah SWT mereka bisa diterima oleh bapak Presiden untuk memperkuat jajaran kementerian mendatang," katanya sebagaimana dilaporkan CNBC Indonesia.

Masalahnya, terkhusus untuk Demokrat tidak cukup hanya dengan negosiasi tapi harus ada rekonsiliasi. Perdamaian seutuhnya antara Megawati dengan SBY yang sudah terjadi selama bertahun-tahun dan kerap menjadi batu sandungan terbesar adanya koalisi di antara keduanya. 

Megawati, terkesan belum bisa berdamai dengan kenyataan ketika merasa "dikhianati" oleh SBY, mantan Menterinya sendiri yang kemudian mengalahkannya dua kali berturut-turut dalam kontestasi Pilpres 2004 dan 2009.

Banyak yang ikut mengupayakan, namun akhirnya gagal. Cerita-cerita terkait konflik antara keduanya banyak beredar di media; soal pertemuan yang gagal, pernah diundang dan sama-sama tidak datang, lobi Puan Maharani yang mentok, upaya Taufik Kemas (alm), dan berbagai cerita lain yang kerap melahirkan konstelasi politik yang dramatis. Tentu karena keduanya sama-sama tokoh bangsa yang berpengaruh dan pernah memiliki pengalaman memimpin Indonesia.

Konflik berkepanjangan antara Megawati dengan SBY kerap menjadi batu sandungan. Namun, dalam beberapa kali pertemuan terakhir, sepertinya suasananya cukup hangat setidaknya jika dibandingkan dengan beberapa tahun lalu. 

Momen langka pada Peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia atau saling berkunjung ketika salah satu pihak sedang berduka (meninggalnya Taufik Kemas dan Ibu Ani), keduanya terlihat dalam situasi yang lebih akrab, termasuk senyum Megawati saat bertemu di pemakaman Ibu Ani.

Segala kemungkinan bisa saja terjadi. Politik selalu menemukan cara untuk memberikan kejutan, tapi melihat dinginnya hubungan antara Megawati dengan SBY sepertinya sulit mengharapkan nama AHY muncul dalam daftar nama-nama Menteri yang akan membantu Jokowi. 

Tentu saja soal Menteri adalah hak prerogatif Presiden, tapi itu tekstual. Sementara yang terjadi lebih bersifat kontekstual, bahwa Presiden mendengarkan saran dan masukan terkait nama-nama yang akan menjadi Menterinya, termasuk perwakilan dari partai politik.

Posisi Megawati, saat ini, jelas memiliki nilai tawar yang tinggi, bahkan untuk Presiden. Berbeda dengan beberapa tahun lalu ketika ia dan partainya menjadi oposisi, dan kerap kali menjadi "bulan-bulanan". Artinya, melihat kasat mata sebagai manusia, sepertinya tidak mudah bagi Megawati untuk menerima kenyataan, bahwa Demokrat mendapatkan jatah menteri.

Bukan saja soal ketidak-harmonisan antara keduanya, tapi ketika benar nama AHY muncul sebagai Menteri itu akan berpotensi terulangnya kekecewaan dan rasa saki hati Megawati untuk yang kedua kalinya.

Kenapa? Karena AHY adalah calon paling potensial untuk ikut kontestasi Pilpres di tahun-tahun yang akan datang. Memberikannya posisi, apalagi sekelas Menteri, adalah bahasa lain dari memberikan kesempatan kepada AHY untuk semakin menemukan panggungnya. AHY akan semakin terekspos dan itu menjadi iklan gratis yang akan semakin membesarkan namanya. 

Jelas, profil AHY akan lebih enak dijual dibandingkan dengan Puan Maharani, Prananda, atau kader yang lain. Kalau AHY benar menjadi menteri, ia akan kerap menjadi pusat perhatian.

Sementara pada sisi yang lain, PDI-P juga memiliki kepentingan memajukan kader-kader potensialnya untuk ikut kontestasi Pilpres tahun-tahun ke depan, termasuk di antaranya Puan Maharani.

Maka munculnya AHY yang setiap hari bekerja sebagai Menteri, misalnya, tentu akan menjadi ancaman besar terutama terhadap kepentingan partai: mengakrabi Singa yang suatu saat akan menerkamnya sendiri.

Entah bagaimana jalurnya, tapi rasanya sulit untik memasukkan AHY menjadi bagian dari Menteri. Bukan karena sosok AHY-nya saja, tapi lebih dari itu karena hal tersebut akan berpotensi mengulangi lagi "trauma" politik yang masih menganga. 

Jika SBY, sebagai anak buahnya dulu, berhasil menaklukkan Megawati maka AHY, pada tahap selanjutnya juga berpotensi menglahkan jagoan-jagoan dari PDI-P ataupun Megawati.

Terkecuali Megawati dan SBY mesra kembali atau mungkin ada kesepakatan-kesepakatan tersembunyi yang sementara bisa menjadi toleransi. Sebagai rakyat, kita berharap para Bapak dan Ibu Bangsa memberikan pendidikan politik yang baik terhadap generasi selanjutnya. Adapun tulisan ini hanya ingin menjelaskan, bahwa secara kemanusiaan potensi tersakiti itu tetaplah ada, terutama dalam konteks politik yang kerap kali berubah-berubah.

Mungkinkah AHY menjadi menteri? Bisa mungkin, dan mungkin saja tidak mungkin. Tapi apapun, kita semua berharap, nama-nama Menteri yang akan diumumkan oleh Jokowi nantinya benar-benar berdasarkan kebutuhan, bukan atas dasar bagi-bagi jabatan.

Salam,
Mustafa Afif
Kuli Besi Tua

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x