Mohon tunggu...
Mustafa Afif Abd
Mustafa Afif Abd Mohon Tunggu... Berimajinasi. Bernarasi. Berbagi.

| kuli besi tua | penyuka MU & Real Madrid | twitter : @mustafa_afif | niatkan ibadah, seluruhnya |

Selanjutnya

Tutup

Transportasi Pilihan

Perluasan Ganjil-Genap, Saat Orang Kaya Menguasai Jalan Jakarta

11 September 2019   21:37 Diperbarui: 14 September 2019   00:31 0 2 1 Mohon Tunggu...
Perluasan Ganjil-Genap, Saat Orang Kaya Menguasai Jalan Jakarta
Kompas.com

Pelaksaan perluasan kawasan ganjil-genap (gage) di beberapa jalan utama di Jakarta telah resmi dimulai. Meski sudah melalui proses sosialisasi dan uji coba yang lumayan panjang, masih banyak yang masih terjaring razia. 

Dikabarkan, pada hari kedua kemarin, polisi masih menilang setidaknya 1.761 kendaraan, berdasarkan jumlah akumulasi SIM dan STNK yang ditahan. Termasuk juga mereka yang mengganti dengan pelat nomor palsu.

Kebijakan perluasan yang meliputi 25 ruas jalan dan 28 simpang masuk-keluar jalan tol ini, selain dipandang sebagai strategi untuk mengurai tingkat kemacetan, juga tak bisa dilepaskan dari upaya Jakarta untuk mengurangi polusi udara yang semakin menyiksa, terutama ketika beberapa waktu lalu, Jakarta "dihajar" secara nasional karena kondisi udaranya yang menjadi terburuk di dunia.

Selain itu diharapkan juga munculnya kesadaran untuk kembali pada kendaraan umum, terutama ketika ada beberapa perbaikan pembangunan untuk menunjang kenyamanan para pengguna: angkot ber-AC, integrasi moda transportasi umum, TransJakarta, dan tentu saja yang paling modern: MRT.

Bagaimana hasilnya? Variatif, tergantung sisi mana yang mau dilihat. Menurut Dishub DKI Jakarta, dalam sebuah wawancara di Kompas TV, terjadi penurunan volume kendaraan hampir sekitar 25%. 

Hal ini juga diakui oleh Polda Metro. Dari beberapa pengamatan, memang terjadi kelengangan dan kelancaran di jalan-jalan yang terkena aturan ganjil-genap seperti di Jalan Pramuka, Jalan Fatmawati, dan Jalan Gunung Sahari, misalnya. Kecepatan berkendara juga meningkat dari 25,6 km/jam hingga 28,16 km/jam.

Masalahnya, kemacetan memang berkurang di jalan-jalan yang terkena imbas perluasan ganjil-genap tapi bertambah parah di jalur-jalur alternatif, seperti Jln. Antasari, kawasan Grogol dan Roxy. Artinya ada efek balon: ditekan disini, melembung disana. Indah di tempat tertentu, tapi acakadut dan tempat lainnya. Jalan sini, tampak begitu eksklusif, sementara jalan sana, semakin berisik dan polutif. Begitulah sebuah kebijakan, memang.

Lalu bagaimana dengan polusi udara? Tiga hari pasca pemberlakuan perluasan ganjil-genap, kualitas udara DKI berada pada kategori tidak sehat menurut parameter US Air Quality Index (AQI US), atau dengan parameter konsentrasi polusi PM 2.5 sebesar 81 g/m dengan kelembapan 83 persen dan kecepatan angin 5,4 km/jam (liputan6.com), namun kenyataan ini terdengar "absurd" kalau dikaitkan dengan kebijakan yang masih terlampau baru.

Polusi di Jakarta itu bukan soal sederhana karena sudah berlangsung lama. Lucu juga mengharapkan penyakit kronis sembuh hanya dengan 1-3 kali suntikan. 

Artinya, agak kurang nyambung ketika mengaitkan peringkat tiga dunia karena kualitas udara tidak sehat di Jakarta dengan kebijakan perluasan ganjil genap yang hanya 9 jam, seakan masalah tersebut bisa diselesaikan secara kilat, sekali ucap "abrakadabra". Jadi, ditunggu saja. Udara itu fluktuatif.

Bagaimana dengan kesadaran untuk menggunakan transportasi umum? Penumpang MRT dan TransJakarta, memang mengalami peningkatan, tapi itu belum tentu disebabkan oleh kebijakan perluasan. 

Sebab di Jakarta, menggunakan transportasi umum, dengan beberapa modanya, masih belum bisa dikatakan nyaman. Apalagi cuaca panas plus udara yang polutif, semacam menjadi "siksaan", terutama bagi orang-orang Jakartanicus yang banyak gaya.

Namun, terlepas dari semua obrolan di atas, ada satu kenyataan lain dari diberlakukannya perluasan ganjil genap ini, yaitu fenomena semakin banyaknya orang membeli mobil terutama bagi orang-orang Jakartanicus yang kaya sementara mereka emboh untuk naik kendaraan umum.

Karena tujuan-tujuan tertentu, beberapa jalur ruas jalan di Jakarta dijadikan "eksklusif" pada jam-jam sibuk melalui pemberlakuan ganjil genap, maka untuk mengatasi itu, cukup dengan membeli mobil lain dengan tipe plat nomor yang berbeda. 

Cara itu gampang dan mudah bagi mereka yang punya duit dan kaya. Bahkan yang tak begitu kaya-pun, bisa melakukannya ketika melihat betapa murahnya DP untuk memiliki mobil baru.

Tak hanya mobil pribadi, beberapa perusahaan pun akan melakukan hal yang sama, yaitu semakin memperbanyak membeli mobil baru untuk mengatasi persoalan logistik di Jakarta. 

Artinya, perusahaan akan menambah investasi. PT Satria Antaran Prima Tbk, misalnya, akan menambah 30 unit mobil berpelat kuning untuk operasional di Jakarta. PT Adi Sarana Armada Tbk, juga akan melakukan hal yang sama dengan rencana pembelian tahun ini mencapai 6.500 unit kendaraan untuk memperkuat operasional.

Satu sisi, kebijakan perluasan ganjil genap akan memberikan dampak terhadap mengurainya tingkat kemacetan. Tapi dalam beberapa waktu ke depan.

Pada sisi yang lain, sepertinya akan kembali ke asal lagi ketika jalan-jalan "eksklusif" pada waktu-waktu tertentu itu dipenuhi mobil-mobil bisnis dan mobil-mobil pribadi dari orang-orang Jakartanicus dengan persediaan mobil secukupnya di rumah masing-masing.

Saat tanggal ganjil, tinggal pilih mobil ganjil. Untuk tanggal genap, tinggal pakai mobil genap. Betul kata seorang pengamat, bahwa yang paling susah soal kemacetan di Jakarta adalah soal gaya hidupnya, kesadarannya!.

Seberapa besar kemungkinan itu? Besar sekali, terutama ketika melihat potensi "mobil murah" yang semakin merajalela. Membeli mobil, bagi sebagin orang, serupa membeli air mineral.

 Artinya, mungkin saja macet bisa diuraikan tapi akan semakin sulit saat mobil-mobil baru semakin membombardir pasar. Termasuk juga, sebuah keuntungan bagi para penikmat motor, yang pastinya, akan ikut menjamur.

Akan tiba pada sebuah masa dimana jalan-jalan utama di Jakarta akan dipenuhi mobil orang-orang kaya, pada jam-jam tertentu, sementara mereka yang hanya memiliki satu mobil, sejenak "melipir" menghindari jalan "eksklusif" itu. Mungkin saja, pada saatnya, mereka bergumam, "Saya harus punya mobil dua! Ganjil-genap begitu menyiksa!".

Mustafa Afif,
Kuli Besi Tua

VIDEO PILIHAN