Mohon tunggu...
Mustafa Afif Abd
Mustafa Afif Abd Mohon Tunggu... Berimajinasi. Bernarasi. Berbagi.

| kuli besi tua | penyuka MU & Real Madrid | twitter : @mustafa_afif | S1 yang berharap bisa segera S2 | mendambakan pengalaman kerja di MPR-DPR-DPD RI, semoga ada jalan | 🤲

Selanjutnya

Tutup

Politik

Simplifikasi, Dikotomisasi: Perbedaan Pilihan Pilpres 2014, Pilkada, dan Pilpres 2019

31 Juli 2019   21:25 Diperbarui: 31 Juli 2019   23:15 0 0 1 Mohon Tunggu...
Simplifikasi, Dikotomisasi: Perbedaan Pilihan Pilpres 2014, Pilkada, dan Pilpres 2019
Antara Foto

Dunia perpolitikan Indonesia yang semakin memanas dan ganas berawal sejak 2014. Pada Pilpres 2014, sudah tercipta kubu-kubuan yang saling menegasikan. Berlanjut saat Pilkada DKI Jakarta yang semakin tajam dan penuh centang-perenang. Lalu Pilpres 2019 yang memunculkan istilah "perang". Pilpres dan Pilkada, bukanlah perbandingan yang apple to apple. Tapi melihat dikotomi yang diciptakan dan dipertahankan, keduanya saling berhubungan dan berkait-kelindan.

Pertanyaan sederhananya begini: Apakah para pemilih Jokowi-JK semuanya memilih Ahok-Djarot di Pilkada DKI Jakarta? Apakah para pemilih Prabowo-Hatta semuanya memilih Anies-Sandi waktu Pilkada DKI Jakarta?

Lalu, apakah pemilih Anies-Sandi di Jakarta semuanya memilih Prabowo-Sandi pada Pilpres 2019? Kemudian, apakah para pemilih Ahok-Djarot di Jakarta semuanya memilih Jokowi-Ma'ruf pada Pilpres 2019?

Atau, tidak adakah pemilih Jokowi-JK yang memilih Anies-Sandi sebagaimana tidak adakah pemilih Prabowo-Hatta yang memilih Ahok-Djarot? Selanjutnya, tidak adakah pemilih Anies-Sandi di Jakarta yang memilih Jokowi-Maruf sebagaimana tidak adakah pemilih Ahok-Djarot yang memilih Prabowo-Sandi?

Untuk menjawabnya, tentu diperlukan metode ilmiah. Meniscayakan kerja dan turun langsung ke lapangan. Tapi setidaknya, dengan berbagai asumsi maupun analisa, kita bisa mengira, bahwa tak semuanya harus dikotak-kotakkan, dibatasi dengan dikotomisasi, dan dijadikan kubu-kubuan. Simplifikasi semacam itu lumayan merusak dan berbahaya sebab mengandung absurditas dan standard ganda, apalagi hanya ada dua pilihan: kampret atau cebong, yang dua-duanya berusaha untuk dibunuh melalui rekonsiliasi, tapi hantunya masih bergentayangan hingga kini, dan sampai nanti.

Akan selalu ada orang-orang yang dulunya memilih Jokowi-JK kemudian memilih Anies-Sandi di Jakarta, sebagaimana ada juga orang-orang yang memilih Prabowo-Hatta lebih memilih untuk memilih Ahok-Djarot saat Pilkada.

Pasti ada pemilih Ahoek-Djarot di Jakarta yang lebih memilih Prabowo-Sandi pada Pilpres 2019, sebagaimana banyak juga pemilih Anies-Sandi di Jakarta yang menjatuhkan pilihan pada Jokowi-Maruf di Pilpres-nya.

Bahkan pendukung Jokowi-JK dulu banyak yang tak mendukung Jokow-Maruf kini lalu berpindah ke Prabowo-Sandi, sebagaimana pemilih Prabowo-Hatta dulu lebih sreg memilih Jokowi-Maruf lalu meninggalkan Prabowo-Sandi.

Artinya? Tak ada yang statis dalam politik. Setiap orang memiliki pilihan masing-masing, yang dalam banyak hal, kadang tak perlu pertimbangan orang lain. Bisa saja objektif, tapi lebih dominan sisi subjektif. Karena kerja dan prestasi, karena kedekatan emosional-personal, karena hasil bujukan, dan mungkin karena suka dan sreg saja. Alasan terakhir inilah yang paling sering ditemukan. Tak perlu juga dikuliahi atas dasar rasionalitas dalam memilih, apalagi dilawan. Mau apa kalau sudah suka dan sreg dihati?

Kadang, orang lebih memilih bertahan, meski menyakitkan, karena lawan politiknya dianggap kurang sepadan dan dianggap tak akan membawa perubahan. Seseorang juga memilih untuk pergi ketika pilihan sebelumnya dianggap ingkar janji dan merasa dibohongi berkali-kali. Semuanya biasa-biasa saja. Ada pertimbangan dan masing-masing memiliki alasan, diam ataupun diungkapkan.

Selain itu, ada pula orang yang memilih A tanpa menegasikan B. Ada yang memilih B, sembari mengakui bahwa dalam beberapa hal A memiliki kinerja yang baik. Adakah seperti itu? Banyak! Tapi karena simplifikasi yang berlebihan itu, tak ada lagi ruang untuk sekedar menjelaskan. Mereka sama pilihan, tapi beda jalan.

Tapi, mari kita hentikan membuat dikotomisasi dan simplifikasi, bahwa kalau tidak A berarti B, kalau bukan hitam berarti putih, dan kalau bukan kampret berarti harus cebong. Pola pikir semacam itu sangat berbahaya sebab akan membawa seseorang pada kubangan hidup yang penuh prejudice, menuduh, dan saling klaim.

Menuduh orang lain musuh hanya karena tidak mengikuti caranya, padahal sebenarnya memiliki pilihan politik yang sama. Orang yang tidak ikut-ikutan mencaci dan nyinyir dianggap lawan, padahal sama secara pilihan. Akan selalu ada orang yang tidak mau masuk terlalu dalam untuk memperbesar perbedaan, dan mereka memilih diam. Mereka mungkin sama secara pilihan, tapi tak ingin bertindak berlebihan apalagi masuk pada kubu-kubu yang saling bermusuhan.

Semudah itukah kita menuduh seseorang radikalis hanya karena kita memaksakan diri untuk mengaku nasionalis? Semudah itukah kita menuduh yang lain kafir dan murtad hanya karena ingin menunjukkan bahwa kita paling Islam? Klaim atas sesuatu begitu mudah dilakukan, itu pun disandarkan pada simplifikasi dan alasan yang, kadang, tidak masuk akal.

Menuduh yang dipaksakan akan merusak pikiran. Kalau ada seseorang yang dulunya mendukung Jokowi-JK, lalu pada Pilkada mendukung Anies-Sandi dan pada Pilpres lalu mendukung Jokowi-Maruf mau dituduh apa? Kalau ada yang dulu mendukung Prabowo-Hatta lalu memilih Ahok-Djarot dan Pilpres kemarin memilih Prabowo-Sandi mau dituduh apa juga? Cebong atau kampret? Atau cebong insaf dan kampret insaf? Itu belum termasuk pilihan partai politik dan calon legislatifnya yang mungkin saja tak linear. Sebab pasti ada yang memilih Jokowi-Maruf tapi calegnya memilih calon dari PKS, misalnya. Ada yang Pilpresnya memilih Prabowo-Sandi tapi calegnya memilih calon dari NasDem, misalnya. Bingung, kan?

Dus, setiap orang punya pilihan berdasarkan pertimbangannya masing-masing. Pilihan itu tidak statis. Ia bergerak dinamis. Itulah kenapa akan selalu ada perbedaan. Sama pilihan, bisa berbeda jalan. Sama jalan, mungkin beda pilihan. Jangankan orang lain, kita saja bisa berbeda pilihan dengan kita yang dulu karena berbagai macam alasan. Lalu apa yang perlu dipermasalahkan? Tak ada kecuali dalam tempurung otak kita ada syaraf yang sengaja dikomando untuk menuduh, memusuh, dan kerap melakukan simplifikasi serampangan. Benar, tak ada jaminan pilihan selalu linear dan konsisten.

Jangan terlalu serius, apalagi ngamuk-ngamuk.

Salam. Mustafa Afif

Tulisan ini sudah dimuat di : https://wp.me/pb2yOk-1b

KONTEN MENARIK LAINNYA
x