Mohon tunggu...
Mustafa Afif Abd
Mustafa Afif Abd Mohon Tunggu... Berimajinasi. Bernarasi. Berbagi.

| kuli besi tua | penyuka MU & Real Madrid | twitter : @mustafa_afif |

Selanjutnya

Tutup

Birokrasi Pilihan

Tabir Kebijakan Anies Baswedan Terkait Baju Persija, Mencengangkan!

6 Juli 2019   10:03 Diperbarui: 23 Agustus 2019   18:31 0 0 0 Mohon Tunggu...
Tabir Kebijakan Anies Baswedan Terkait Baju Persija, Mencengangkan!
sumber: ngopibareng.id

Beberapa hari lalu, Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, mengeluarkan wacana untuk mewajibkan ASN di Jakarta mengenakan baju/kostum Persija. Menurutnya, baju itu harus digunakan saat Persija bertanding sebagai bentuk dukungan. Baju itu juga akan menjadi baju khas yang akan dipakai untuk berbagai keperluan, termasuk dalam pertemuan-pertemuan penting.

Sontak, wacana itu menuai kontroversi. Gaduh sebagaimana biasa. Ada yang pro dan membelanya, ada juga yang kontra lalu mengkritik dan mencacinya. Ada yang menyebutnya kuno dan tak simpatik, ada juga yang menyambutnya dengan senang-senang saja.

Saya juga berpikir, apa maksudnya? Bagaimana ceritanya seorang Anies Baswedan Gubernur Ibu Kota Indonesia, Tokoh Intelektual Muslim, cucu dari salah seorang pahlawan nasional, mantan Menteri Pendidikan, mengeluarkan kebijakan aneh, nyeleneh, dan terkesan receh untuk kota besar sekelas Jakarta?. 

Namun setelah dipikir-pikir lagi, saya menemukan sedikit titik terangnya. Bagi saya, kebijakan yang terkesan urakan itu ternyata memiliki makna dan maksud tertentu, setidaknya dalam perpspektif membangun Jakarta, bukan hanya membangun di Jakarta.

Apa maksudnya? Mari kita kuliti sama-sama.

Sejak awal, Anies ingin membangun Jakarta untuk menjadikannya lebih "manusia". Ia ingin memperindah Jakarta tidak hanya dari sisi bangunan saja, tapi juga ingin membangun Jakarta dari yang lebih dalam lagi, lebih bernilai lagi, yaitu membangun "jiwa".

Teks dalam lagu Indonesia Raya, "Bangunlah Jiwanya, Bangunlah Badannya!", menjadi semacam "ayat" pijakan, bahwa yang perlu dibangun itu tidak melulu soal badan saja, melainkan juga jiwanya. Mungkin spektrumnya terlalu luas, tapi membangun jiwa Jakarta bisa dimulai dengan membesarkan rasa cinta warganya terhadap kotanya dan segala hal yang berkaitan dengannya.

Maka, wacana untuk mewajibkan ASN di Jakarta mengenakan baju Persija, bagi saya, tidak hanya sebagai bentuk dukungan dan kebanggaan semata tapi sekaligus upaya Anies untuk memperbesar rasa cinta. Rasa cinta itulah yang kemudian menjadi modal dasar untuk membangun infrastruktur sosial berupa keberadaban dan keberbudayaan Jakarta.

Mungkin terlihat sederhana dan terkesan remeh, tapi semangat dan visi seperti itu pulalah yang bisa menjelaskan kenapa ada kebijakan revitalisasi Taman Ismail Marzuki (TIM) yang diharapkan akan menjadi pusat kebudayaan, munculnya istilah-istilah baru (seperti Ratangga) dan penggunaan Bahasa Indonesia di ruang publik sehingga mendapatkan penghargaan Reksa Bahasa, membubuhi setiap pembangunan dengan narasi dan kata (revitalisasi JPO, misalnya), dan sederet kebijakan lain yang tampak biasa tapi Anies memberinya makna.

Lalu kenapa harus Persija?

Ada yang beranggapan, kebijakan itu tak simpatik sebab Jakarta tidak hanya Persija, ada klub sepak bola lain yang tak bisa dilupa, seperti Persitara misalnya.

Lalu kenapa juga harus sepak bola, kok, bukan basket atau olah raga lainnya? Saya tidak ingin membahas lebih panjang sisi sepak bola sebagai pemersatu, sepak bola adalah olah raga paling diminati, dan yang lainnya.

Saya justru memaknai penggunaan Persija sebagai "simbol" dari narasi besar untuk membangun kecintaan warga DKI Jakarta pada kotanya. Persija bukanlah titik tetapi koma, yang akan meniscayakan narasi-narasi besar selanjutnya.

Dalam perspektif inilah kita bisa membaca, bahwa apa yang dilakukan Anies merupakan representasi dari ide, gagasan, dan visi besarnya tentang membangun jiwa Jakarta. Kebijakannya, mungkin saja, terlihat receh tapi yang besar justru terletak pada nilai dan visinya. Barangkali inilah kenapa Anies Baswedan ingin membangun Jakarta, bukan sekedar membangun bangunan di Jakarta.

Jadi, bagi yang suka nyinyir dan menghina biarkan dulu Anies bekerja. Tidak perlu mendahulukan prasangka tak berdasar hanya untuk merendahkan kerja dan kebijakan yang Anies hasilkan.

Pemda DKI sedang membangun Jakarta, sedangkan baktimu hanya mencela dan menghina.

Klean, bisa memberi apa untuk Jakarta?

Mustafa Afif
Bukan Politisi Hanya Kuli Besi