Mohon tunggu...
Muslihudin El Hasanudin
Muslihudin El Hasanudin Mohon Tunggu...

journalist and more

Selanjutnya

Tutup

Wisata Artikel Utama

Nelayan Papela, "Human Trafficking", dan Harapan Baru Wisata Rote Timur

7 Maret 2018   15:53 Diperbarui: 7 Maret 2018   18:19 1435 4 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Nelayan Papela, "Human Trafficking", dan Harapan Baru Wisata Rote Timur
Anak-anak di Kampung Nelayan Papela Rote Timur (dok pribadi)

Puluhan anak-anak menyambut kedatangan saya dan Tim Jelajah Nusantara  Sekolah Nasima saat tiba di Kampung Nelayan Papela, Kecamatan Rote Timur Kabupaten Rote Ndao NTT. Rois, Fraky, Arman dan teman-teman sebayanya  tampak senang ketika kami datang. Sikapnya malu-malu seolah ingin berkenalan. 

Beruntung  kami membawa banyak penganan kecil sebagai media   berkenalan. Sejurus kemudian aneka penganan tersebut telah berpindah dari satu tangan ke tangan lain secara merata. Kami kemudian menjadi akrab.

Kami baru kali pertama itu datang ke Papela. Ini sebenarnya sebuah perjalanan tidak terencana. Tetapi sungguh spesial jadinya. Awalnya kami hanya ingin membuang sepi. Pesawat kami mendarat paling pagi. Pukul 07.10  sudah sampai di Bandara DC Saudale Rote Ndao. Kami kemudian berkeliling Ba'a, menyusuri pantai utara Rote, Pelabuhan Pantai Baru, dan sampailah ke Papela, Rote Timur.

Akses jalan ke Papela beraspal bagus dan lebar (dok pribadi)
Akses jalan ke Papela beraspal bagus dan lebar (dok pribadi)
Dari Bandara, perjalanan ke Papela memakan waktu sekirar 1,5 jam. Sungguh perjalanan yang menyenangkan. Sepanjang jalur yang kami lalui pemandangannya sangat menyejukkan mata. Tanaman perdu tumbuh dengan subur di pinggir jalan. Sawah-sawah, rerumputan dan sabana tampak  segar menghijau. 

Hujan yang turun di bulan Desember cukup membuat alam Pulau Rote tampak segar nan hijau. Namun Anda harus hati-hati melewati jalanan di Pulau Rote, sekawanan sapi, kambing, bahkan babi sering tiba-tiba muncul menyeberang jalan. Anda harus mengalah memberi jalan kepada hewan-hewan piaraan tersebut.  

Papela sejatinya hanyalah sebuah desa yang masuk wilayah Kecamatan Rote Timur. Pun begitu, Papela  adalah kawasan yang padat penduduk, bahkan konon kota terbesar kedua setelah Ba'a. Bagi masyarakat Rote, Papela cukup menarik karena terbentuk dari sebuah komunitas muslim dan merupakan desa nelayan. Penduduk kampung nelayan ini kebanyakan keturunan suku Bugis, Jawa, Madura, Arab, dan beberapa suku lainnya. 

Saya bersama dua orang warga Rote, Joko (berkaos merah) dan Ronny (berkaos hijau) berbincang hangat (foto dindin)
Saya bersama dua orang warga Rote, Joko (berkaos merah) dan Ronny (berkaos hijau) berbincang hangat (foto dindin)
Muhsin, seorang guru ngaji yang saya temui di masjid Al Bahri Rote Timur mengatakan bahwa asal usul penduduk Kampung Nelayan Papela dari Pulau Solor. "Dulu masih sangat  sepi, belum ramai seperti sekarang. Menurut cerita-cerita dulu pelaut-pelaut dari Solor dan Baranusa datang ke sini pertama kali pada tawal tahun 1900-an." Kata Muhsin

Setelah pelaut dari Solor dan Baranusa kemudian berdatangan juga  pelaut dari Wakatobi dan Bajau, Madura, kemudian barulah datang pedagang asal Jawa, Buton dan Arab.

Papela menjadi check point pelaut-pelaut dari Sulawesi, Flores, dan Solor sebelum mereka meneruskan pelayaran ke Ashmore Reef di Australia guna mencari lola atau sejenis kerang laut bernilai ekonomis tinggi. Dalam perjalanan kembali dari Ashmore Reef para pelaut ini juga kembali singgah di Papela guna melengkapi perbekalan mereka. Banyak di antara pelaut ini yang tidak kembali ke kampung mereka dan akhirnya menetap di Papela.  

Nelayan Papela dan Human Traficking

Radio Australia dalam siaran persnya pernah merilis  di tengah penurunan harga sirip ikan hiu, nelayan tradisional di Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur memutuskan beralih profesi membantu kegiatan penyelundupan manusia ke Australia.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN