Mohon tunggu...
Muslifa Aseani
Muslifa Aseani Mohon Tunggu... Full Time Blogger - Momblogger Lombok

www.muslifaaseani.com

Selanjutnya

Tutup

Trip Pilihan

Enam Tips dan Trik Aman Backpackeran di Lombok

2 Oktober 2022   08:07 Diperbarui: 2 Oktober 2022   08:12 222 7 9
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sunrise Ahad pagi tadi, di balik dua bangunan baru pelabuhan laut Gili Trawangan, Lombok. Dokpri

Kenaikan harga BBM telah sekian bulan berlalu. Di lapangan, ternyata masih menjadi penyebab dari kericuhan kecil. Misal, antara penumpang dan sopir angkutan umum (angkot). Setidaknya demikian yang saya alami sendiri, meski sama-sama warga lokal, di satu kota kecil di kabupaten Lombok Timur (Lotim).

Akhir pekan ini, saya ada pekerjaan menulis ke Gili Trawangan. Destinasi wisata kelas dunia, yang berada di ujung Barat Laut Lombok. Rencana awal yang berangkat satu tim menggunakan mobil, terpaksa berubah, lalu memilih moda angkutan umum. Lintas kabupaten. Timur, Tengah, Barat dan Utara. Genap empat kabupaten se-pulau Lombok.

Drama Supir Angkot Hijau Lotim

Sejak awal kenaikan BBM, saya pribadi memilih langsung membayar sesuai anjuran kenaikan. Di kota Selong, tarif angkot dengan bemo bercat hijau, jauh dekat di 7500 rupiah. Jadi terasa berat, karena kompleks pertokoan dimana saya kadang belanja bulanan atau terpaksa ke bank, hanya berjarak kurang dari 5 km. Bisa berjalan kaki di pagi atau sore hari, namun jelas bukan pilihan saat matahari sudah mulai meninggi.

Kemarin siang, pengalaman menyenangkan bisa memberikan ongkos baru tanpa drama, membuat saya alfa. Bemo hijau yang saya stop dan saya minta antarkan ke Masbagik, tidak saya tanyai kepastian ongkos. Hemat saya, kota kabupaten Selong menuju Masbagik yang berjarak sekitar 15 menit berkendara, tentu masih masuk dalam ketentuan jauh dekat.

Kesalahan kecil namun fatal. Lima menit perjalanan, saya meminta tolong berhenti sebentar di apotik pinggir jalan. Penumpang angkot hanya saya dan putra saya. Takkan sampai 10 menit. Namun, sopir bemo menolak dengan rentetan kalimat keluhan.

"Aduh bu, nanti saya ndak dapat penumpang. Di Masbagik nanti kan juga banyak apotik. Kalo kelamaan sedikit, nanti saya ndak dapat penumpang dong bu.."

Duduk di kursi depan engkel trayek kota Mataram menuju Lombok Utara. Tampiasih atas kejujuran info ongkosnya ya pak sopir. Dokpri
Duduk di kursi depan engkel trayek kota Mataram menuju Lombok Utara. Tampiasih atas kejujuran info ongkosnya ya pak sopir. Dokpri

Baik. Saya mahfum. Lanjut. Bemo berbelok sebentar melewati pasar tradisional kabupaten. Tetap taka da penumpang, Sering saya alami. Terakhir Selong Mataram pp, sangat jarang bemo kota yang saya tumpangi penuh penumpang.

Sampai di Masbagik. Biasanya, saya meminta berhenti di jalur yang jauh dari engkel (sebutan untuk angkot antar kabupaten di Lombok) yang ngetem. Sudah siang, masih ada tiga kabupaten berikutnya yang segera harus saya lewati. Nyatanya, sopir justru mengekor ke satu engkel yang sedang ngetem. Insting saya mulai merasai gelagat tak nyaman.

Uang 14 ribu saya angsurkan, dan sopir bemo mulai mengeluh dengan nada tinggi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Trip Selengkapnya
Lihat Trip Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan