Mohon tunggu...
Muslifa Aseani
Muslifa Aseani Mohon Tunggu... Momblogger Lombok

www.muslifaaseani.com

Selanjutnya

Tutup

Kisah Untuk Ramadan Pilihan

Manusia Sejati adalah Gudangnya Maaf dan Sabar

13 Mei 2021   00:05 Diperbarui: 13 Mei 2021   00:04 245 4 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Manusia Sejati adalah Gudangnya Maaf dan Sabar
Olahan pribadi di Canva dan Photoscape | Dokpri

Semoga semakin banyak yang menyepakati pilihan judul yang saya ambil. Walau kadang-kadang, seringkali saya merasa hal tersebut terlalu naif. Sering terjadi, ungkapan sejenis akan lebih memunculkan kerutan di dahi. Semacam merespon dengan, 'Yakin begitu? Anda hidup di surga atau di dunia?'

Nyatanya, di sekitar kita memang masih banyak orang baik. Meski tentu juga banyak pula orang-orang jahat. Tapi, jika menetapkan pilihan dengan lebih tegas, yakin koq memang bisa serta mampu untuk menciptakan lingkungan serba baik pun positif. Salah satu yang imbasnya sangat efektif bagi saya, ketika mulai menjaring pertemanan sosial media di lingkup penulis. Dunia maya saya akhirnya melingkar di putaran aksara. 

Semakin bersyukur, putarannya pun serba positif. Toh di banyak sosial media, memang disediakan juga fitur 'penyaring'. Pernyataan-pernyataan vulgar dan negatif, bisa disembunyikan, atau lebih ekstrem lagi, dilaporkan. Ke depan, apa yang muncul di dinding sosial media, adalah tulisan-tulisan yang lebih positif. 

Fitur ini telah berfungsi baik di dunia maya, bagaimana dengan 'saringan' di dunia nyata? Bagi saya, masih 11 12 juga koq. Interaksi di dunia nyata bahkan jauh lebih kompleks. Namun, tetap saja memang eksis, lingkungan-lingkungan yang meskipun berdebat sengit tentang sesuatu, takkan ada satu pun barang terlempar. Nada tinggi tentu lumrah, namun tidak sampai harus memaki-maki atau bahkan menyumpahi. Begitulah. 

Pendek kata, berikut sedikit tips ringan ala saya, agar bisa konsisten menyatakan, 'Dunia memang selalu baik-baik saja, karena memang manusianya banyak yang baik'.

Pertama, meluaskan 'border line' dari kapasitas ruangan penyimpanan Maaf dan Sabar. Bahkan, kalau mampu, menghilangkan batas tersebut. Walau ya tetap harus pula memberikan batasan tegas, ketika ada prinsip-prinsip yang dilanggar seseorang di luar kita. Misal, untuk saya, keluarga inti rasanya tidak punya batas maksimal untuk melakukan kesalahan-kesalahan. Manusia tempatnya salah. Batas melakukan kesalahan adalah kematian. Selama masih hidup, selama mampu memaafkan dan bersabar, itulah yang akan saya pilih. Di luar keluarga inti, biasanya saya akan mulai mengambil jarak. Menjaganya sebatas memenuhi ikatan 'hablum minannas'. Batas yang normal dan umum.

Kedua, ketika gagal memaafkan dan bersabar, saya menyerahkan semuanya ke Allah SWT. Kesempurnaan hanya milik Allah, kepada-Nya pulalah kembali segala keburukan, kegagalan dan kemarahan terpendam. Saya menua dengan semakin sering berdoa dengan doa Nabi Yunus as., 'Laa ilaha illa anta, Subhanaka inni kuntum minadz dzaalimiin'. Yang lemah adalah saya yang manusia. Yang dzalim adalah saya yang manusia. Ke-Maha-Suci-an milik Allah, kepada-Nya saya berserah atas kelemahan dan kedzaliman saya.

Ketiga, merasa baik-baik saja ketika sedang tak baik-baik saja. Namanya manusia, perasaan senang, sedih, takut, marah, kecewa dan banyak lagi yang lainnya adalah 'makanan' wajib di setiap hela nafas. Ketika sedang merasa sangat kecewa dan gampang terpicu marah, saya lebih banyak mengurung diri. Lebih banyak diam. Hanya membacai yang terlintas di sosmed dan tidak menulis apa pun. Walau ya, kadang-kadang tetap 'bocor' juga. Ada beberapa tulisan selama mengikuti event Samber THR Kompasiana, tulisan saya sangat gloomy. Rasanya? Legaaaaa. Sesak karena perasaan negatif, tersalurkan. Namun, semoga tidak sampai menyeret seseorang di luar saya, untuk ikut sedih dan gloomy. Bisa kan ya? Hehehehe..

Keempat, konsisten hanya menuliskan hal serba baik. Iya, terasa semakin komit di sepuluh tahun terakhir. Bukan apa-apa. Saya semakin tidak menyukai keributan dan perdebatan tak penting. Atas dasar inilah, saya memilih berada di barisan si serba baik dan serba positif. Kelompok pecinta kedamaian. Insha Allah, di luar sana, sudah banyak pihak-pihak yang bisa memilih untuk lebih berani, lebih kritis, lebih konstruktif, lebih vokal serta serba lebih lainnya. Bukan saya. Masanya sudah lewat. Kalau misalnya bersuara hanya menimbulkan keributan dan diskusi panas tak berujung, saya akan memilih segera diam. Atau segera mengiya-iyakan saja. Iwan Fals bilang, 'Iya lebih baik, daripada kau menangis..'. Intinya, damai saja yuk.

Waduh, kenapa jadi 'jalan-jalan jauh' begini nulisnya. Baiklah, di momen Idul Fitri 1442 Hijriah atau bersamaan dengan kalender Masehi di hari Kamis, 13 Mei 2021, tulus saya mengucap banyak maaf ke sidang pembaca Kompasiana. Atau ke semua pembaca setia tulisan-tulisan saya. Pilihan kata-kata yang bermuatan negatif, semata lahir dari kelemahan dan kedzaliman saya. Jika ada yang positif, insha Allah itu adalah berkat dari Allah, semoga pula jadi berkat buat kita semua.

Aamiin ya Allah, ana uhhibbukum fillah. Mari kita sama-sama saling mencintai, saling mengasihi, saling memaafkan, saling bersabar, atas dan karena Allah SWT.

*Selong 13 Mei 2021 

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x