Wisata Artikel Utama

Pulau Padar di Kenangan Sailing Trip Labuan Bajo

8 Maret 2018   15:02 Diperbarui: 9 Maret 2018   07:45 1555 12 11
Pulau Padar di Kenangan Sailing Trip Labuan Bajo
Si cantik Padar Island, Labuan Bajo, NTT. Dokpri

Saya berhasil snorkeling di Pulau Kelor. Sampai kini tuliskan ulang perjalanan hari ke-2 -- dari total trip tiga hari dua malam, berlayar di atas perahu bersama teman-teman Insto Buddy dan Lambo Rajo, tak menyesal lewatkan pemandangan dari atas puncak bukit Pulau Kelor. Lambo Rajo,  phinisi serba coklat yang membawa rombongan saya datangi sisi-sisi indah Labuan Bajo.

Dua rekan blogger, teman sekamar saya telah cantik usai perayaan pagi. Dua rekaat Subuh, juga segarkan tubuh di kamar mandi Lambo Rajo. Saya? Telah terjaga dari pukul 4 pagi. Sunrise cantik pertama saya di perairan Labuan Bajo tak boleh terlewat. Telah terlalu banyak fajar cantik bumi saya abaikan di jelang setengah abad usia.

Yihha, si bukit emas berhasil menjadi koleksi foto saya. Dokpri
Yihha, si bukit emas berhasil menjadi koleksi foto saya. Dokpri
Tak sia-sia. Mentari pagi Labuan Bajo memang cantik. Memutar leher hampir 360 derajat, saya puaskan bidik apa pun. Saput kemerahan selalu cepat memudar, beranjak jadi oranye samar kemudian segera sepenuhnya terang. Dari atas Lambo Rajo, deretan bukit coklat dan hijau, padu padan dan memantul indah di cermin raksasa bernama Labuan Bajo. Sekali waktu, berhasil pula saya bidik, bidang keemasan tepat di satu puncak bukit. Kontras sungguh dengan lerengnya yang coklat samar, biru langit pun biru samar lautan. Cantik.

Kesendirian yang menenangkan. Dokpri
Kesendirian yang menenangkan. Dokpri
Pulau Padar

Saya masih tersihir sunrise cantik. Pun tetap sibuk bercakap sendiri -- di hati, jiwa dan batin, bahwa perjalanan ini akan penuh-penuh dengan segala serba indah, berbarengan haha hihi dengan teman trip lainnya. Mulai sedikit terkantuk-kantuk. Saya sudah terjaga di enam jam terakhir. Namun, demi mendengar harus menanjak sekian jam, baik. Mari menghitung setiap jejak, sebagai tanjakan di jalur-jalur pendakian Rinjani.

Senyum cerah, belum menanjak satu langkah pun. Dokpri
Senyum cerah, belum menanjak satu langkah pun. Dokpri
No caption *eh . Dokpri
No caption *eh . Dokpri
Setapak pertama berupa tangga kayu. Nafas masih tertata, tawa dan cakap masih lancar tertukar. Lima menit sampai di dataran di ujung tangga kayu. Dua setapak mengarah ke kiri dan ke kanan. Rombongan diingatkan mengarah ke kiri, meski saya sungguh sangat ingin menyepi ke arah sebaliknya. Baik, simpan setapak ke kanan di trip berikutnya.

Pulau Padar adalah pulau ketiga terbesar di kawasan Taman Nasional Komodo, setelah Pulau Komodo dan Pulau Rinca. Pulau ini relatif lebih dekat ke Pulau Rinca daripada ke Pulau Komodo, yang dipisahkan oleh Selat Lintah. Pulau Padar tidak dihuni oleh ora (biawak komodo). Di sekitar pulau ini terdapat pula tiga atau empat pulau kecil.

Pulau Padar juga diterima sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO, karena berada dalam wilayah Taman Nasional Komodo, bersama dengan Pulau Komodo,Pulau Rinca dan Gili Motang. (Cred. Wikipedia).

Saya sungguh harus abaikan berapa menit perjalanan untuk sampai di puncak Padar. Ingin rangkai diksi seindah apa pun, mari sama merangkainya di hati, dan nikmati saja foto-foto cantik ini.

Bukit di latar foto, setapak ke kanan di ujung tangga kayu. Dokpri
Bukit di latar foto, setapak ke kanan di ujung tangga kayu. Dokpri
Lelah di tanjakan, tunai terbayar indahnya puncak Padar. Dokpri
Lelah di tanjakan, tunai terbayar indahnya puncak Padar. Dokpri
Dua jam sampai sepenggalah setelah tengah hari tepat, berlarian saya turuni Padar. Haus dan lapar. Saya tak suka memberatkan teman se-pendakian. Lambo Rajo sudah siapkan lagi segelas jus buah naga kental, manis yang akan dicintai pecinta kopi dan dingin. Dua piring lain potongan segar nanas dan semangka. 

Saya harus menahan diri. Teman-teman seperjalanan saya juga akan sama haus dan lapar. Sesaat segar kembali, snorkeling dan nikmati Pantai Pink Flores tenangkan langkah saya ingin segera nikmati senja di puncak Padar.

Senja yang akan saya buru di perjalanan berikutnya. Amin.

Pulau Rinca dari atas bukit Pantai Pink Flores

Saya sudah siap dengan perlengkapan snorkeling. Bisik-bisik boatman dan Lambo Rajo crew, arus laut sedang kencang. Yang tak bisa berenang tak boleh terlalu jauh dari pantai. Baik, saya akan segera berhenti, ketika kayuh kaki terbungkus fin sudah lelah membawa badan saya ke pantai. 

Taman bawah laut pink telah mendiamkan riuh perbincangan batin saya. Juga karena beroleh teman mendaki ke puncak bukit di sisi kiri pantai Pink. Pandangi dari jauh, Pulau Rinca. Pulau tempat para komodo hidup bebas. Komodo-komodo yang akan saya temui di perjalanan hari terakhir.

Telah lelah beradu dengan arus laut, habiskan petang di Pantai Pink Flores. Dokpri
Telah lelah beradu dengan arus laut, habiskan petang di Pantai Pink Flores. Dokpri
Mbak Ida, room-mate - saya yang tak lelah bahagia - Kang Ali dan Dewi, room-mate di Lambo Rajo. Cred. Mbak Ida.
Mbak Ida, room-mate - saya yang tak lelah bahagia - Kang Ali dan Dewi, room-mate di Lambo Rajo. Cred. Mbak Ida.
Apalagi yang bisa saya lukiskan dari keindahan pantai berpasir lembut dan nuansa pink pekat? Pantai sama di dataran timur Lombok telah sering saya datangi. Untuk saya yang selalu lebih mencintai setiap sisi indah apa pun, baik Pantai Pink Flores mau pun Pantai Pink Lombok, cantik di kadarnya sendiri-sendiri.

Kawasan laut Pink Beach menjadi salah satu spot diving yang dilakukan oleh dive master maupun wisatawan khusus untuk menyelam.
Sebagian lagi berenang dan snorkeling untuk melihat keindahan bawah laut di Taman Nasional Komodo. Sekitar 20 kapal berlabuh di pulau itu. (Cred. Travel Kompas)

Jika ini sedikit diksi dari perjalanan indah saya di hari ke-2, sailing trip tiga hari dua malam bersama Lambo Rajo di Labuan Bajo, bagikan pada saya kisah indah perjalanan wisata anda. Di sini, sekarang. Saya tunggu.

*Meninting 8 Maret

Hari ke-2, Sailing Trip 3 hari 2 malam, bersama Insta Buddy - Insto. 23 sampai 25 Nopember 2017 lalu. Terima kasih Insto Buddy.