Tekno

Sinar Gamma

14 November 2017   14:55 Diperbarui: 14 November 2017   15:02 347 0 0

BAB I

PENDAHULUAN


Latar Belakang

Sinar gamma sebenarnya hampir sama dengan sinar X , hanya saja sinar X lebih lemah. Sinar gamma ini dihasilkan oleh suatu bahan radioaktif. Sinar gamma adalah termasuk sinar yang tidak dapat dilihat oleh mata, untuk itu perlu adanya detektor. Detektor yang digunakan adalah NaI (Tl), detektor ini juga digunakan untuk sinar x, hanya saja detektor untuk gamma lebih tebal sedikit. Cara kerja dari detektor ini adalah sebagai berikut :

Apabila sinar gamma mengenai detektor NaI(Tl) maka akan terjadi tiga efek, yaitu efek fotolistrik, efek compton dan bentukan pasangan. Efek fotolistrik terjadi apabila ada sinar gamma yang mengenai elektron d kulit K dari sebuah atom maka elektron tersebut akan kosong sehingga akan diisi oleh elektron dari kulit yang lain, transisi ini yang menyebabkan terjadinya efek fotolistrik. 

Efek compton adalah efek yang terjadi apabila sinar gamma (dalam hal ini) mengenai elektron bebas atau elektron terluar dari suatu atom yang dianggap daya ikatnya sangatlah kecil sehingga sama dengan elektron bebas. Apabila sinar gamma memancar ke elektron bebas ini maka akan terjadi hamburan, yang disebut hamburan compton. Sedangkan Efek bentukan pasangan terjadi ketika sinar gamma melaju di dekat inti atom sehingga akan terbentuk pasangan positron dan elektron, syaratnya tenaga sinar haruslah cukup.

Dari ketiga efek tersebut, efek comptonlah yang paling kuat hal ini diakibatkan karena tenaga yang digunakan untuk melepas elektron juga yang lebih besar. Dan dari ketiga efek tersebut menghasilkan sintilasi atau pancaran cahaya, pancaran cahaya ini akan diteruskan ke fotokatoda yang dapat menguraikan cahaya ini menjadi elektron -elektron. Elektron ini masih lemah maka harus dikuatkan lagi dayanya oleh pre amplifier, dan dikuatkan tinggi pulsa dengan amplifier. Lalu elektron tadi dimasukkan ke PMT yang terdiri dari tegangan bertingkat dan banyak katoda, keluaran dari PMT menjadi berganda. Kemudian melalui counter nilai cacahnya dapat diketahui.

Rumusan Masalah

Apa pengertian sinar gamma?

Seperti apa sejarah sinar gamma?

Apa keuntungan sinar gamma?

Apa bahaya sinar gamma?

Bagaimana kaitannya sinar gamma dalam keperawatan?

Tujuan Makalah

Untuk mengetahui definisi sinar gamma,  sejarah sinar gamma, keuntungan sinar gamma, bahaya sinar gamma, dan mengetahui kaitannya sinar gamma dalam keperawatan

Manfaat Makalah

Agar Mahasiswa Akper Pemda Serang mampu mengetahui, dan bisa mengamalkan definisi sinar gamma,  sejarah sinar gamma, keuntungan sinar gamma, bahaya sinar gamma, dan mengetahui kaitannya sinar gamma dalam keperawatan


BAB II

PEMBAHASAN


Definisi Sinar Gaamma

Menurut Abdullah (2004:134) Cahaya Gamma adalah cahaya yang tidak tampak dan tidak bisa di detksi oleh manusia.

Menurut Untoro (2010:181) Cahaya gamma merupakan gelombang elektromagnetik. Satu jenis dengan sinar X, tetapi mempunyai panjang gelombang sangat pendek berkisar antara 1-10-3 A. Ditemukan oleh paul Ulrich Villard, lambang , tidak bermuatan listrik, karena itu tidak dapat diperbolehkan oleh medan magnet/listrik, daya tembus sangat besar hanya dapat ditahan oleh selapis baja atau beton dan dapat mengionkan materi yang dilalui, tetapi tidak sekuat sinar alfa atau beta.

Menurut Daton dkk, (2010:35) Cahaya gamma adalah gelombang elektromagnetik. Masing-masing gelombang elektromagnetik memiliki frkuensi berbeda tetapi kecepatan perambatannya sama.

Menurut Indrajit (2007:264) Cahaya gamma adalah sinar yang panjang, bergelombang serta pendek.

Sejarah penemuan cahaya gamma

Penemuan radiasi gamma dimulai dari penemuan yang dilakukkan oleh ilmuwan Perancis Henri Becquerel, dan pasangan suami istri, Pierre Curie-Marie Curie pada akhir tahun 1890-an. Mereka melakukan eksperimen dengan menggunakan bahan-bahan aktif seperti, uranium, polonium, dan radium, yang mengarah pada penemuan pertama sinar radioaktivitas dengan tingkat energi yang sangat tinggi.

Sebelumnya, jenis radiasi yang dikenal saat itu adalah radiasi alpha dan beta, sehingga penemuan mereka merupakan jenis radiasi baru yang menambah koleksi radiasi yang berhasil diketahui. Radiasi itu selanjutnya dinamakan radiasi gamma yang tersusun dari partikel foton berenergi tinggi. Radiasi gamma mempunyai sifat:

Radiasi dengan panjang gelombang pendek dan frekuensi tinggi

Tidak terbelokkan dalam medan magnet

Energi yang paling besar

Daya tembus terkuat

Meskipun, sungguh ironis, pada akhirnya banyak ilmuwan yang bekerja dibidang penelitian radiasi gamma harus menderita penyakit akibat radiasi partikel. Wajar, karena pada saat itu peralatan pelindung radiasi masih sangat minim, dan para ilmuwan belum mengatahui akibat yang ditimbukan radiasi partikel bagi kesehatan.

Manfaat Cahaya Gamma

Pada bidang teknologi pangan masalah utama yang dihadapi oleh produk bahan pangan di Indonesia adalah tingginya kerusakan pasca panen, termasuk akibat pencemaran mikroorganisme dan serangga perusak. Untuk mengatasinya perlu dilakukan pengawetan bahan makanan diantaranya menggunakan radiasi sinar gamma dari isotop Co-60

Radiasi ini dapat dimanfaatkan untuk aspek lain, misalnya membunuh serangga atau hama gudang penyimpanan, menunda pertunasan umbi-umbian, menunda kematangan berbagai jenis buah, mempercepat keempukan sayuran kering dan kedelai, serta membasmi cacing pita dan cacing gelang. (Ruwanto,2007:143)

Bahaya Sinar Gamma

Radiasi gamma mulai giat diteliti selama Perang Dunia II, hingga menghasilkan senjata pemusnah massal, nuklir. Dari ledakan nuklir yang pernah terjadi, sinar gamma merupakan efek yang paling besar yang dihasilkan oleh sebuah ledakan nuklir.

Selanjutnya, sinar gamma mulai digunakan dalam berbagai kegiatan, seperti; pengobatan kanker melalui radiasi, pelacakan aliran fluida, pencarian sumber-sumber alam, sterilisasi peralatan medis, dan pemetaan geodesi. Semua kegiatan ini memanfaat sifat dari sinar gamma yang memiliki energi sangat tinggi dan daya jangkauan lebih jauh.

Konsekuensinya adalah sangat sulit untuk mengembang sejenis perisai untuk melindungi tubuh dari radiasi tersebut. Seperti sinar-X, sinar gamma juga dapat melalui hampir semua material bahan. Radiasi sinar gamma diukur dalam satuan millirem (mrem). Berdasarkan pengamatan, dilingkungan normal setiap orang sedikitnya terkena paparan radiasi sebanyak 25 mrem.

Paparan radiasi meningkat menjadi 5 ribu mrem yang banyak dirasakan oleh orang-orang yang bekerja dilingkungan radioaktif dengan tingkat perlindangan maksimum. Ambang batas normal dari tingkat paparan radiasi ditetapkan sebesar 10 ribu mrem. Jika melebihi batas ini, maka akan menimbulkan dampak yang luar biasa bagi kesehatan  seperti yang pernah terjadi pada penderita radiasi akibat bom nuklir yang dijatuhkan di Jepang pada masa Perang Dunia II. Sinar gamma dapat memberikan dampak yang sungguh luar biasa bagi kesehatan, seperti:

Dapat menyebabkan kanker, misalnya kanker kulit dan tulang

Rusaknya jaringan sel tubuh

Mutasi genetik sehingga mempengaruhi generasi yang akan lahir

Kaitan Cahaya Gamma dengan Keperawatan

Radiostop yang memancarkan sinar gamma dapat digunakan untuk pemotretan organ dalam tubuh pasien melalui teknik PET (position Emission Tomography) dan CT (Computed Tomogrhapi). Pada masa sekarang, pemanfaatan sumer radiasi sinar gamma cobalt 60 untuk teknik sterelisasi semakin dikembangkan karena sangat efektif untuk membasmi mirkoba pada suhu kamar.

Keuntungan teknik sterilisasi radiasi antara lain daya sterelisasi yang tinggi, (selama bahan pengemas tidak rusak) tidak menaikan suhu selama proses sehingga sangat baik untuk bahan yang tidak tahan panas, bahan di sterilkan dalam bentuk kemasan siap pakai, tidak meninggalkan residu dan tidak menyebabkan polusi.

Alat kesehatan umumm di sterilkan dengan radiasi yaitu pembalut penyerap, kapas dan kasa, pembalut parafin, pembalut obat, pembalut persalinan, wadah pelastik, allat karet, alumunium, alat suntik, masker muka, cawan petri,, benang bedah, pita obat (band aid) dan perlengkapan tranfusi. (Ruwanto,2007:142-143)

Banyak elemen radiostop memancarkan partikel beta dan sinar gamma, partikel beta sukar penetrasi (memasuki jaringan), tetapi mudah diabsorpsi olh tubuh secara umum sangat sedikit sekali di pergunakan dalam diagnostik. Misalnya 31 H dan 1 4 C (memancarkan partikel beta) dipergunakan untuk penelitian kedokteran. 3 3  p dipergunakan untuk diagnostik tumor dalam mata, oleh karena hanya diperlukan energi yang sedikit. Banyak prosedur diagnostikklinik mempergunakan foton. Dari tipe yang sama, biasanya sinar gamma dengan energi lebih 100 keV dapat penetrasi (masuk kedalam jaringan) beberapa cm dan masuknya sinar gamma dapat ditentukan lokasinya dan dibuat peta melalui detektor di luar tubuh. (Gabriel, 1996:292)