Mohon tunggu...
Musa Hasyim
Musa Hasyim Mohon Tunggu... M Musa Hasyim

Mahasiswa pascasarjana Kajian Wilayah Timur Tengah dan Islam Universitas Indonesia. Menyukai sesuatu secara random.

Selanjutnya

Tutup

Love Artikel Utama

Usia 26 Tahun Ditanya Menikah, Perlukah Dijodohkan?

20 Mei 2021   09:56 Diperbarui: 26 Mei 2021   19:45 533 15 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Usia 26 Tahun Ditanya Menikah, Perlukah Dijodohkan?
Ilustrasi cincin pernikahan. Sumber: unsplash.com/Sandy Millar

Di Indonesia, berusia di atas 25 tahun dan belum menikah kadang dianggap aib. Sementara kalau lihat di negara-negara maju (negara industri) seperti Jepang dan Korsel, justru lazimnya menikah di atas usia 30 tahun bahkan lebih. 

Mereka fokus membangun karir terlebih dahulu dan tidak ingin terikat dengan yang namanya pernikahan. Intinya sih mereka ingin menikmati kesendirian dulu.

Sementara di Indonesia, pertanyaan-pertanyaan usai lebaran masih terus sama, Mana calonnya? Sudah punya pacar? Kapan menikah? Teman saya lagi nyari pasangan, Kamu mau? 

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak akan ada habisnya. Saya sendiri sudah menghitung, ada sekitar 10 pertanyaan sama yang ditujukan padaku pada lebaran kali ini. Saya hanya membalas, doakan saja.

Beruntungnya, yang menanyakan pertanyaan itu bukan dari kalangan keluarga tapi dari lingkaran pertemanan dan saudara jauh. Keluarga saya tidak pernah membatasi usia pernikahan. Kakak saya saja yang laki-laki baru menikah di atas usia 32 tahun karena fokus mengurusi yayasan di rumah. 

Sedangkan kakak perempuan saya baru menikah saat usia mau nyampe 30 tahun karena hobi banget belajar (ilmu agama di pesantren tradisional dan ekonomi di kampus) dan ikut kursus (Jepang, Korea, Arab, dan Inggris). 

Mereka sudah terbiasa makan pertanyaan-pertanyaan tentang pernikahan. Terlihat tua bukan? Padahal tua dan muda itu soal persepsi belaka. Buktinya, di negara-negara tetangga, mereka rata-rata menikah di usia segitu.

Meski begitu, bukan berarti saya menolak orang yang menikah di bawah usia 30 tahun, itu adalah hak masing-masing kewarganegaraan. Setiap orang berhak punya pilihan dan keputusannya masing-masing. 

Yang saya tolak adalah mengurusi urusan orang lain (kalau mengurusi sambil mencari solusi untuk membantu sih oke-oke saja). 

Biarkan orang lain itu menikmati kejombloannya, barangkali dia sedang meniti karir, belum menemukan kecocokan, atau memang sedang ingin sendiri.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x