fxfelly murwito
fxfelly murwito

bapak satu istri dan satu putri.

Selanjutnya

Tutup

Gayahidup Pilihan

Asal Usut Kebaya

18 Oktober 2017   20:45 Diperbarui: 18 Oktober 2017   20:51 239 0 0

Menelusuri kebaya dari yang diterakan hingga yang diceritakan.

Abaya, Cabaca, Cambaia atau ...

Di banyak buku tentang kebaya, seperti The Nyonya Kebaya, Kebaya Encim,  sejarah kebaya hanya menjadi pengantar singkat. Dan hampir semua menuliskan bahwa kebaya berasal dari Bahasa Arab, Abaya, yang berarti tunik panjang. Sementara itu sumber yang lain menyebutnya habayayang artinya pakaian longgar dengan belahan di depan (kaftan). Nah, yang paling banyak dijadikan rujukan tentang asal kata kebaya dalam Bahasa Arab adalah Buku Nusa Jawa: Silang Budaya (1996) karya Denys Lombard yang menuliskan bahwa Kebaya berasal dari bahasa Arab, Kaba yang artinya pakaian.

Sementara itu, Rens Heringa menulis dalam  bukunya Fabric of Enchantment, Batik from the North Coast of Java, 1996, bahwa kebaya berasal dari kata Cambaia, sebuah kota di India, yang mayoritas penduduknya menjadikan wastra sebagai penghidupan dan memperdagangkannya ke hamparan Samudera Hindia. Bahan yang mereka tawarkan adalah kain tipis bernama namsuk yang sesuai untuk daearah panas. Bahan ini kemudian disebut kain Cambaj/kambai (kain kapas bermotif bunga), yang biasanya dikenakan untuk blus longgar buka depan yang dipakai perempuan dan laki-laki pada abad ke-15.

Di antara beberapa kemungkinan, mana yang paling tepat? Mungkin tidak ada. Namun menurut Yudi Achjadi, salah satu tokoh wastra Indonesia, perjalanan kata kebaya ditulis pertama kali oleh Sir Thomas Stamford Raffles dalam buku The History of Java yang cetakan pertamanya terbit pada tahun 1830.

Asal Usut Kebaya

Ketidak pastian dan ketidak mampuan beberapa penggiat kebaya di Indonesia sepertinya turut ambil bagian dari silang sengkarutnya asal-usul kebaya. Sehingga ketika beberapa literatur dikumpulkan sepertinya berjalan sendiri-sendiri. Begitu pula ketika para penggiat tersebut lebih suka berspekulasi tentangnya, jadinya asal-usut. Pada perjalanan di bawah ini, beberapa asal-usul dan asal-usut akan disampaikan dalam kemungkinan-kemungkinan. Manakah logika yang kemungkinannya masuk akal? Mari kita jajaki!

Kemungkinan pertama adalah Eropa, karena Portugis yang terlebih dahulu menginjakkan kakinya di Indonesia, maka muncul asumsi bahwa kebaya berasal dari bentuk baju Portugis yang setelah datang ke tanah Melayu mengalami akulturasi dengan baju tradisional setempat sehingga menjadi bentuk baju kebaya.

Pertanyaannya adalah, baju Portugis yang mana dan baju daerah Indonesia yang mana? Bukankah perjanjian antara Portugis dengan Kerajaan Sunda di Parahyangan gagal karena di musuhi oleh pemerintahan Islam di Demak? Dan penaklukan Portugis beralih ke Maluku dan Indonesia Timur. Jika kebaya melebur budaya di sini, harusnya dari sini pulalah asal mula kebaya. Sayangnya, kemungkinan ini sangat lemah.

Kemungkinan dua, dalam Babad Tanah Jawa juga terungkap bahwa raja, pangeran, hingga para bupati telah mengadopsi gaya berpakaian Eropa dengan jas model terbuka dan pentalon gaya militer Eropa. Eropa yang dimaksud tentu saja VOC di awal abad 16. Perubahan gaya berbusana orang Jawa juga dipengaruhi oleh peraturan wajib menggenakan busana tradisional dari daerahnya masing-masing. Peraturan ini tentu saja memudahkan VOC untuk mengawasi penduduk Batavia yang terdiri dari beragam suku serta membagi masyarakat menurut golongannya.

Dalam buku yang diterbitkan secara terbatas, KoleksiSejarah Indonesia Awal Abad Ke-20 karya Dr Iwan Suwandy, MHA, 2013, dijelaskan bahwa pada masa awal kekuasaan mereka, pria dan perempuan Jawa masih mengenakan kain persegi panjang yang tidak dipotong untuk menutupi tubuh bagian bawah, beragam kain lilit penutup dada dan pinggul, serta kain penutup bahu.

Dua argumen dari dua buku yang berbeda ini mungkin cukup logis jika digunakan untuk mengatakan bahwa Kebaya banyak dipengaruhi oleh busana Eropa. Akan tetapi busana Eropa yang mana? Pertanyaan ini ada yang menjawab bahwa kebaya itu terinspirasi dari jas. 

Bagaimana mungkin? Konon, pria Eropa sangat gentleman. Sehingga pada suatu ketika, saat melihat putri Jawa dengan kain panjang dan bahunya terlihat, Si gentlemanini memberikan jasnya untuk menutupi bahu sang putri. Kemungkinan ini berkembang menjadi, bahan apa yang mirip dengan jas namun yang cocok untuk perempuan? Jadilah kebaya yang terbuat dari bahan beludru. Pada waktu itu beludru adalah kain yang termasuk mahal. Nah, apakah kemungkinan ini bisa dipertanggung jawabkan? Tentu saja tidak. Karena masih ada kemungkinan yang ketiga.

Siapa yang mempengaruhi kebaya selain, Arab, India, dan Eropa? Tentu saja Cina. Bahkan dalam banyak hal, catatan tentang Jawa, banyak ditemukan dalam naskah yang dibuat oleh orang Cina. Sebut saja catatan tertua tentang Sriwijaya yang dibuat oleh I-Tsing (Yi Jing, I Ching), seorang biksu yang mengembara dari Cina untuk mempelajari agama Buddha.

 Asumsi pertama pengaruh Cina pada kebaya dimulai saat imigran Cina pada abad ke-15 memperkenalkan baju longgar berlengan panjang buka depan yang dikatupkan pada tepi-tepinya mirip dengan baju Cina beizi. Baju ini digunakan perempuan dari kalangan sosial bawah pada masa Dinasti Ming (abad ke-14 hingga ke-17). Tetapi ada pula asumsi yang menyebutkan bahwa Kebaya merupakan warisan dari Tiongkok ketika terjadi migrasi besar-besaran warga Cina ke kawasan Asia Selatan dan Tenggara pada abad ke 13. Asumsi terakhir sangat lemah, karena pada abad ke-13 busana kain panjang masih mendominasi Indonesia.

Serpihan puzzle kebaya mungkin berserakan, namun bukan tidak mungkin serpihan yang terserak pada masa lalu itu tersusun menjadi sebuah gambar kebaya yang utuh. Asal-usut kebaya bisa jadi masih kusut, yang pasti beberapa kemungkinan yang tersaji dan tercatat menunjukkan betapa kebaya adalah sebuah percampuran beberapa bangsa dan keyakinan.