fxfelly murwito
fxfelly murwito

bapak satu istri dan satu putri.

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi Artikel Utama

Sarinah Lebih dari Sekadar "Department Store"

10 Oktober 2017   07:02 Diperbarui: 10 Oktober 2017   15:22 2657 7 1
Sarinah Lebih dari Sekadar "Department Store"
Sarinah Jakarta. Kompas.com

Sarinah, bagi warga Jakarta adalah sebuah kata yang merujuk ke sebuah kawasan perbelanjaan di pusat Jakarta, tepatnya di jalan Thamrin. Tapi tidak bagi warga Semarang, Malang, Surabaya, Bandung, dan Denpasar. Karena di kota-kota tersebut kata Sarinah juga merujuk pada suatu pusat perbelanjaan. Kalaupun tempat-tempat tersebut sudah tidak beroperasi lagi seperti di Bandung dan Bali, tetapi Sarinah masih disebut sebagai rujukan tempat pertemuan.

Sarinah yang tersebar di beberapa kota memang sudah direncanakan sejak masih dalam bentuk gagasan. Sebagai penggagas, Ir. Soekarno menegaskan bahwa dirinyalah yang memerintahkan untuk membangun sebuah department store di Jakarta dan di seluruh kota-kota di Indonesia. Gagasannya tersebut dikuatkan dengan alasan bahwa department store akan menjadi stabilisator harga yang nantinya akan membuat rakyat mengecap kehidupan materiil yang layak.

Krisis dan kritik yang menyertai pembangunan Sarinah Jakarta tak menyurutkan penyelesaian pembangunan hingga peresmiannya pada tanggal 15 Agustus 1966, dimajukan dua hari dari rencana. Sayang, pada 31 Januari dan 1 Februari, Sarinah harus tutup karena managemen melakukan pemberhentian massal. Sejak saat itu luntur pula cita-cita Sarinah sebagai stabilisator harga.

Kebijakan baru pun diluncurkan dan akibatnya popularitas Sarinah memudar. Komentar-komentar miring mengiringi penampilan Sarinah yang makin kumal. Mulai 1967 hingga 1970, setelah pergantian kepemimpinan, Sarinah mulai realistis dan bergerak mengembangkan usahanya. Segala macam bisnis langsung diterjuni, mulai dari bisnis hiburan sampai membuka sasana tinju. Membuka perdagangan wholesale, membuka toko serba ada, memperbesar volume ekspor dan impor, membuka restoran, bowling center, klab malam, kasino, hingga melakukan penjualan barang secara langsung, door-to-door. Kegiatan bisnis yang dilakukan tersebut membuat Sarinah menggeliat dan kembali terlihat keberadaannya.

Di tahun 1968 misalnya, Sarinah mulai melebarkan sayap ritelnya dengan meresmikan Toko Prambanan Gaja Baru di Jalan Pemuda Semarang. Kemudian pada bulan Agustus Toserba Sarinah cabang Melawai, Jakarta juga diresmikan. Dua tahun kemudian sayap Sarinah melebar ke Jawa Timur dengan pembukaan cabangnya di Surabaya dan Malang. Sementara itu pada tahun yang sama, Sarinah pusat mendapatkan ijin dari Kepolisian Negara untuk membuka toko senjata api pertama di Indonesia.

Lompatan besar yang nantinya menjadi cikal bakal ciri khas Sarinah pada tahun-tahun berikutnya adalah diresmikannya Sari Boutique pada Maret 1969. Tempat inilah yang menampung dan menjual barang-barang kerajinan dari industri rakyat seperti kain batik, ukiran, sampai kerajinan perak. Usaha kerajinan tersebut mendapat perhatian besar dan dijadikan andalan Sarinah lima tahun kemudian, ketika Sarinah Jakarta menyediakan ruangan khusus di lantai tiga dan meresmikannya sebagai Pasar Kerajinan Indonesia.

Gonjang-ganjing kepemimpinan kembali menerjang Sarinah pada Oktober 1970 yang berujung pada pergantian tampuk pimpinan. Setelah itu terbuka tabir, di balik pesatnya pertumbuhan Sarinah terdapat galian-galian hutang yang sangat dalam. Pemerintah melalui Departemen Perdagangan mengambil peran dengan menunjuk seorang caretaker untuk menyelematkan aset-aset Sarinah.

Pembenahan, perombakan dan penataan mulai dilakukan untuk menyelematkan Sarinah dari kebangkrutan. Dan yang paling menyakitkan adalah rasionalisasi karyawan hingga tersisa 800 orang. Menyusul kemudian tutupnya kelap malam Miraca Sky Club yang terletak di lantai 14 Sarinah. Dan penjualan aset-aset Sarinah seperti gedung yang kini di tempati oleh Djakarta Theater, tak terelakkan.

Dengan dikembalikannya pengelolaan gedung Sarinah kepada PT. Departemen Store Indonesia Sarinah perlahan namun pasti, Sarinah kembali berdiri untuk memulai langkah barunya. Tahun berikutnya Sarinah mulai berkonsentrasi menjual berbagai produk kerajinan tangan. Pada masa itu pula kontrak kerja bisnis perhotelan dengan Tokyu Gynsa Hotel ditandatangani. Empat tahun kemudian, pada 1976 berdirilah Hotel Sari Pasific, yang kini bernama Sari Pan Pasific.

Langkah Sarinah sepertinya hampir tak pernah tegak. Buka tutupnya gerai di dalam dan luar negeri terus berlangsung hingga tahun 2006, ditutupnya Sarinah Bali dan tahun sebelumnya Sarinah Bandung juga di tutup. Langkah perbaikan terus diupayakan, perlahan namun pasti Sarinah kini merupakan salah satu dari 149 BUMN yang sehat dan setiap tahun terus menyetorkan devidennya kepada Pemerintah.

Sarinah adalah sebuah perjalanan, langkah demi langkah terus dijejakkan. Sayap terus dikembangkan, peluang-peluang bisnis terus direngkuh. Kerjasama lintas usaha terus dijalin bahkan cita dan harapan yang lebih besar terus direncanakan. Sarinah bukan hanya department store yang dipenuhi dengan brand-brand ternama dunia dengan etalase yang parlente seperti yang sedang menjadi trend saat ini, Sarinah adalah pusat perbelanjaan dengan potret perjuangan dan perjalanan untuk tetap ada sampai sekarang.