Munib Abduh
Munib Abduh Mahasiswa

Pemerhati media, Jurnalis Pejalan Kaki & Penulis Lepas.

Selanjutnya

Tutup

Media Pilihan

Dari Kompasiana hingga Kompas Cetak

15 November 2017   01:58 Diperbarui: 15 November 2017   04:01 329 3 3
Dari Kompasiana hingga Kompas Cetak
Tulisan ini dimuat di Koran Cetak pada 22 Oktober 2017

Kompasiana bagai panggung yang menyediakan ruang bagi siapapun untuk berbagi informasi dan tukar pengalaman. Minimalnya, ini yang dirasakan saya pribadi. Berkat menulis di kompasiana karya saya bisa dimuat di kompas cetak pada jumat, 22 Oktober 2017 dirubrik Tantangan Kompas Kampus. Tanpa ada rasa jumawa, saya bangga dengan keberhasilan ini. Tentu keberhasilan ini tidak lepas dari kompasiana yang telah menunjang kemampuan menulis saya sehingga mampu bersaing dengan mahasiswa diseantero tanah air. Di kompasiana saya memperhatikan bagaimana gaya menulis beberapa kompasianer. Hal ini saya lakukan untuk memperbaiki struktur dan gaya penulisan.

Selain itu, sebagai media online, kompasianer tidak menafikan kebaruan dalam masing-masing tulisannya. Ini juga mengantarkan para kompasianer utamanya saya untuk melek informasi teranyar. Didukung oleh admin kompasiana yang mengapresiasi dengan mengeshare karya kompasianer pada media sosial (medsos) fecebook. Bentuk lain apresiasi kompasiana yakni diorbitkannya kompasianival. Pada event tersebut kompasiana memilih beberapa kompasianer untuk mewakili seluruh kompasianer terkait 7 kategori penghargaan yang akan diberikan, seperti: Best in Citizen Journalism, Best in Fiction, Best in Opinion, Best in Specific Interest, Lifetime Achievement, People's Choice, dan Kompasianer of the Year. Apresiasi macam ini menjadi 'cambuk" penyemangat untuk terus berkaya.

Meskipun saya tidak termasuk diantara penerima penghargaan tersebut, saya ikut bangga dan saya ucapkan 'Selamat kepada anda yang telah menerima penghargaan bergengsi ini.' Dan kepada kompasianer yang belum mendapat penghargaan, jangan sampi ciut nyali untuk tetap menulis. Siapa tahu melalui etos menulis di kompasina karya kompasianer dimuat dalam koran cetak serta bisa mengantarkan kompasianer menjadi penulis papan atas,

Tidak Ada Sekat

Jumlah Kompasianer sampai saat ini diperkirakan telah lebih dari 250.000. Menariknya, mereka tidak berasal dari satu profesi. Mulai dari mahasiswa, Tenaga Kerja Indonesia (TKI), dan bahkan tidak sedikit yang berprofesi Dokter seperta Mangatas SM Manalu Dokter Spesialis Penyakit Dalam RS Mayapada Lebak Bulus, Jakarta Selatan di Klinik AIC, Kuningan City Mall - Jakarta. Kimpasianer dengan beragam profesi melebur menjadi satu, mulai dari tukar informasi hingga kadang tukar pikiran melalu kolom komentar dalam kompasiana. Sebagaimana yang ditulis Dokter Mangatas di kolom komentar tulisan saya yang berjudul 'Apa Yang Anda Pikirkan?'.

Hal tersebut mengindikasikan betapa kompasiana telah menafikan usia untuk saling berintraksi serta saling menyapa meskipun tanpa kenal rupa antar kompasianer. Mungkin 'tidak ada sekat' ini dinilai biasa oleh beberapa kompasianer. Tetapi, bagi saya 'tidak ada sekat' adalah hal luar biasa, ini semakin meneguhkan bahwa hanya jurnalis yang bisa dan mau berintrkasi tanpa memandang suku, ras, dan strata. Tengok saja penegak hukum hari ini, sepertinya mereka masih main mata dengan para kolega. Maka karena itu, daya berterimakasih kepada kompasiana telah memberi kebebasan bagi kompasianer untuk menulis apapun termasuk mengkeritik sehingga sekat benar-benar hilang dari permukaan negeri ini.

Pesan dari Kompasiana

Beberapa bulan yang lalu, saya mendapat pesan dari kompasiana 'Kami menghapus foto/gambar ilustrasi hasil karya orang lain yang digunakan dalam postingan Anda yang berjudul "Nikah Muda, Yes! Nikah Paksa, No!".' Pesan tersebut dikirim kompasiana sebagai bentuk teguran kepada saya untuk mengahargai karya orang lain. Dari fenomina yang tarjadi pada diri saya pribadi, saya menilai betapa kompasiana mengutuk tindak plagiat sehingga saya bisa mengambil ibrah dari semua ini.

Bagi saya, kompasiana telah menyumbang banyak hal mulai dari teguran hingga apresiasi yang tujuannya untuk menjadikan kompasianer semangat dan benar dalam berkarya. Oleh sebab itu, tidak berlebihan bila saya mengatakan, 'Kompasiana adalah sekolahku dan kompasianer adalah guruku'. Mungkin hal tersebutlah yang dimaksud Ki Hajar Dewantara, 'Jadikan setiap tempat sebagai sekolah dan setiap orang sebagai guru'.