Mohon tunggu...
Gigih Mulyono
Gigih Mulyono Mohon Tunggu... Peminat Musik

Wiraswasta. Intgr, mulypom2

Selanjutnya

Tutup

Film

Nonton Bumi Manusia di Bioskop

22 Agustus 2019   20:20 Diperbarui: 22 Agustus 2019   20:24 0 0 0 Mohon Tunggu...


Novel perjuangan Bumi Manusia, karya Pramoedya Ananta Toer di filmkan.

Bumi Manusia adalah novel pertama dari Tetralogi karya Pram yang mendunia. Terbit  pertama kali awal tahun 1980 an. Pemerintah melarang peredarannya  waktu itu. Orang sembunyi sembunyi membacanya.

Baru pada era Reformasi, karya karya Pramoedya bebas beredar.

Tetralogi Pramoedya, ditulis di Pulau Buru saat Sastrawan Besar itu ditahan. Terdiri dari empat buku. Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca.

Tetralogi Pram diterjemahkan ke puluhan bahasa Asing. Mengantarkannya menjadi kandidat penerima hadiah Nobel bidang Sastra. Meskipun gagal.

Tokoh utama dari serial fiksi ini adalah Minke. Konon Minke sebenarnya adalah tokoh nyata. Yaitu RM Tirto Adhi Soerjo, anak seorang Bupati.

Pada akhirnya nanti di Novel ke tiga Jejak Langkah, Minke menjadi pendiri Medan Prijaji, pewarta Melayu pertama. Dalam kenyataannya RM Tirto AS yang berkumis tebal itu adalah tokoh perintis persurat kabaran Indonesia, bapak Jurnalisme Indonesia.

Dalam Bumi Manusia, yang ber setting akhir abad 19 bertaburan wisdom wisdom cerdas, inspiratif. Ditujukan kepada kaum terpelajar. Diantaranya,

#Bumi ini memberikan semuanya kepada mereka yang ingin mencari, dan mau menerima#

#Seorang terpelajar harus adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan#

#Setiap manusia harus berani belajar dan belajar berani#

#Terhadap keangkaraan kita harus melawan, melawan dengan cara sebaik baiknya dan sehormat hormatnya. Walaupun tahu akan kalah#

Kini Bumi Manusia di filmkan, berbarengan dengan novel terkenal Pramoedya yang lain, Perburuan.

Mulai tayang pada 15 Agustus 2019 kemarin. Nonton hari berikutnya setelah premiere. Siang siang saat penonton tak ramai.

Lakon dari film ini diantaranya Minke, Nyai Ontosoroh, Annelies Mellema, Ibunda Minke, Herman Mellema, Robert Mellema, Robert Surhoof, Darsam, dll.

Film berdurasi sekitar 3 jam,  disutradarai Hanung Bramantya yang masih muda ini cukup memukau penonton. Beberapa penonton terdengar terisak menangis.

Cerita di akhir abad 19, ketika Minke merantau sekolah HBS di Surabaya. Dan kisah asmaranya dengan Annelies Mellema putri Nyai Ontosoroh di Wonokromo pinggiran Surabaya.

Konon sebagian besar adegan film ini mengambil lokasi shooting di Yogyakarta. Di studio Gamplong, Moyudan Sleman.
Adegan perjalanan Kereta Api ketika Minke diculik bapaknya sendiri, memanfaatkan Sepur Ambarawa yang berlatar bekakang Gunung gunung indah.

Secara keseluruhan film Bumi Manusia sukses. Memberi gairah baru bagi perfilman Indonesia. Keberanian untuk memfilmkan karya besar dan terkenal itu sendiri sudah merupakan sukses. Pasti penuh tekanan bagi Sutradara, para Bintang dan seluruh kru. Tekanan takut keliru interpretasi.

Karya Sastra atau Novel besar biasanya memakan produk produk interpretasinya. Apakah itu Film, Teater atau Kethoprak. Contoh kisah Mahesa Jenar dalam Nagasasra dan Sabuk Inten karya SH Mintardja. Atau War and Peace karya Leo Tolstoy.
Satu film yang menjadi lebih besar dari bukunya adalah Gone With The Wind, cerita berlatar belakang perang saudara Amerika. Konon film itu adalah terbaik sepanjang masa.

Karena pernah membaca terlebih dahulu Tetralogi karya Pramoedya itu, mau tidak mau mesti membanding bandingkan para pelakon dalam film dengan yang dibayangkan saat membaca bukunya.

Berikut pemeran yang paling memper, mirip menggambarkan imaji ketika membaca bukunya.

Ibunda Minke, diperankan Ayu Laksmi. Ibunda yang rapi, anggun, cerdas, mengayomi. Mengajari Minke banyak hal wisdom Jawa. Antara lain tentang tanggung jawab. Juga tentang apa yang seharusnya dimiliki seorang pria. Yaitu Wanita, Wisma, Turangga, Kukila dan Curiga.

Wanita, isteri itu belahan jiwa pasangan dalam asah, asih dan asuh kehidupan.

Wisma, adalah rumah. Tempat seseorang berangkat dan nanti pulang.

Turangga adalah Kuda. Simbol ilmu pengetahuan, kendaraan seorang pria untuk mengabdi.

Kukila adalah burung, simbol klangenan atau hobi. Untuk mengasah kepekaannya dan meredam rasa lelah kehidupan, seorang pria harus memiliki hobi diluar aktivitas utamanya.

Curiga adalah Keris, senjata. Seorang pria harus memiliki senjata untuk melindungi hak dan miliknya.

Tutur kata, penampilan, gestur Ayu Laksmi sangat pas menggambarkan Ibunda Minke.

Nyai Ontosoroh, diperankan Sha Ine Febriyanti. Sang Nyai, gundik Belanda Herman Mellema. Cerdas, tegas dan berani menyala di wajah dan mata Ine. Ine adalah sang Nyai dengan kostum masa kini.

Nyai Ontosoroh adalah orang kampung bernama asli Sanikem yang dijual ayahnya sendiri. Untuk memperoleh jabatan di Perkebunan.

Otodidak, Sanikem menjelma menjadi Nyai Ontosoroh yang mumpuni dalam manajemen, pembukuan, hukum, kepemimpinan. Sukses memimpin perkebunan di Wonokromo dengan ratusan pekerja.

Rasa sakit, dendam pada masa lalunya serta kenyataan yang harus dihadapi diperankan Ine dengan cemerlang.

Annelies Mellema, peranakan atau Indo rapuh kurang pergaulan. Jatuh cinta kepada Minke ketika pertama jumpa. Diperankan Mawar de jong dengan bagus. Wajahnya yang indo cantik, gestur dan malu malu nya serasa pas dengan bayangan.

Minke diperankan Iqbal Ramadhan yang pernah membintangi film remaja Dilan. Pasti sudah sangat bekerja keras untuk menghayati peran sentral Minke. Kerja kerasnya membuahkan hasil. Mendukung gelegar drama Bumi Manusia.

Iqbal bagus sebagai Minke. Namun rasanya akan lebih pas kalau Minke diperankan oleh Reza Rahadian.

Kemudian Darsam, jagoan dari Madura tukang kepruk sekaligus kusir Nyai Ontosoroh. Diperankan dengan bagus. Dengan gaya dan dialek Maduranya yang khas.

Herman Mellema, Diperankan pas sekali dengan penggambaran dalam buku. Belanda totok, bertubuh tambun raksasa, berkumis tebal, galak. Muncul dengan setelan putih putih, terhuyung huyung. Pulang dari rumah Candu babah A Cong. Setelah seharian madat.

Bravo untuk Falcon Cinema, produsen film Bumi Manusia. Film hebat, namun  Penyempurnaan memang keharusan dan selalu diperlukan. Juga untuk film ini. Salut untuk Hanung dan para pemeran, semoga lebih hebat lagi ke depan.

Kita nantikan karya karya Pramoedya yang lain seperti Gadis Pantai, Midah Si Manis Bergigi Mas. Atau karya Sastrawan Indonesia hebat lainnya untuk di filmkan.

Seperti Para Priyayi karya Umar Kayam, Burung Burung Manyar karya romo Mangunwijaya. Karya besar yang layak di lirik untuk diangkat ke layar Cinema.

Kita tunggu.

KONTEN MENARIK LAINNYA
x