Travel Pilihan

Menyusuri Balkan, Catatan perjalanan 29

11 Oktober 2018   17:45 Diperbarui: 11 Oktober 2018   18:31 557 1 1

Imaginery of Indonesia River and Sea Cruise

Makan malam terakhir di Kapal ini. Ada acara parade perpisahan. Kapten beserta jajarannya, koordinator pelayanan dan staf serta bagian Admin, bergantian berbaris berkeliling ruangan.

Makan malampun dipercepat, akan ada  Bulgaria folk performance, di Panorama Lounge, setelah Dinner.

Jam 20.45 folk performance dimulai. Empat pemusik, satu penyanyi perempuan, tiga dancer perempuan dan tiga dancer pria telah siap. Show dimulai, nyanyian dan tarian dinamis diperagakan , diiringi musik tradisional berirama cepat. Kaki kaki lincah bergerak rancak. Cukup menghibur.

Performance usai pukul 22.00 lebih. Kembali ke kamar. Walau sudah terkantuk kantuk, tetap pingin segera kembali ke Panorama Lounge,untuk nimbrung nyanyi. Ini kesempatan terakhir bisa berkolaborasi dengan Gabor, sang pianis Kapal.

Kamar menjadi gelap. Sedikit terhuyung keluar. Menyusuri gang, jalan utama Kapal berkarpet merah. Turun tangga beberapa undak. Denting denting keyboard Gabor  nyaring terdengar.

Masuk Panorama Lounge. Gabor sedang menyanyikan lagu beat cepat tahun 70 an. Celingukan mencari passenger Indonesia, tidak ada. Di floor, beberapa pasangan bule asyik ber jojing. Kaki menghentak, berputar. Pasangan saling menjauh, kemudian mendekat lagi. Tak hirau dengan sekitarnya.... hepi banget mereka.

Bersiap siap. Begitu Gabor mengakhiri lagunya dengan tekanan keras sepuluh jarinya di tuts piano, saya maju ke depan. Saya sudah berkenalan dengan Gabor sejak malam pertama. Bahkan sempat uji coba. Mendendangkan beberapa larik lagu. Waktu itu Gabor mengacungkan jempol ke saya, pertanda oke.

Jadi ketika saya maju, Gabor tidak kaget. Bahkan memperkenalkan Saya sebagai teman Indonesia yang akan berdendang. Berbisik ke Gabor, irama Bosas di D minor. Intro *Autum Leaves,* slow mengalun dari Piano. Suara saya ternyata cukup di terima. Begitu Saya mulai berdendang, para dancers itu kembali melangkah ke floor. Berdansa cheek To cheek, pipi ketemu pipi, berayun ayun. Ketika mendekati Closing, suara meninggi panjang, fade. Autum leaves selesai, diikuti tepuk tangan dan teriakan para dancer senior. More .... more.

Dada membusung, Kembali berbisik ke Gabor. Rock and roll di B. Dengan style Elvis Presley, *Kiss me Quick* memenuhi Lounge, mengalun kencang dari penyanyi Cibubur.

"Oh let the band keep on playing, while we are swaying, let keep on praying, and never stop"

Pedansa semakin cepat menari. Kaki tangan serabutan, menggeletar, menggila.

"Oh oh kiss me Quick,

While We still have This feeling, hold me close and never let me go ....cause.. dst"

Tiba tiba ada yang menyodok nyodok pinggang

" heh heh bangun bangun, masih jam  tiga pagi teriak teriak, bangunin tetangga tu" Istri mendorong pundak,

" mimpi jadi penyanyi lagi ya, masih malam"

Ya ampun, rupanya hanya mimpi. Tidur teriak teriak , terlalu semangat. Duduk di pinggir ranjang. Ogah ogahan bangkit dan melangkah ke kamar mandi. Balik dari kamar mandi istri sudah lelap lagi. Mata ini terlanjur nyalang. Iseng iseng ceking lagi koper koper. Besok pagi chek out , sudah harus meninggalkan Kapal.

Ah pasti tidak bisa tidur lagi nih. Mending keluar kamar. Ke kiri menyusuri gang merah. Kali ini benar benar dalam keadaan sadar, tidak mimpi lagi. Ke kafe di buritan kapal yang buka 24 jam. Selalu tersedia minuman dan makanan kecil , gratis.

Sepi, Tidak ada orang disitu. Membuat teh panas, duduk sendirian. Mengambil brosur Avalon yang terpajang di rak. Lampu redup, remang remang. Merenung, pagi sangat sunyi. Hanya getar getar mesin kapal, lirih.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2