Novel

Hembusan Angin Cemara Tujuh 48

7 Agustus 2018   15:05 Diperbarui: 7 Agustus 2018   15:05 847 0 0

*Hembusan Angin Cemara Tujuh 48*

Keluar dari ruang pendadaran, membuka pintu, pelan melangkah keluar, menapak selasar lantai tiga sisi selatan Gedung Pusat yang sakral itu, Sutopo merasa tubuhnya melayang di ketinggian.

Para penunggu, bak penerima bantuan sembako antre mengerubunginya. Sutopo tidak tahu lagi dirinya ngomong apa. Para pengerubung itu bergantian menyalaminya. Sutopo menyambut satu persatu uluran tangan itu sekedarnya. Seolah dirinya tidak sadar lagi sedang dimana dan mengapa.

Tiba tiba kesadarannya pulih, dan Sutopo bersikap waspada, ketika dari jauh terdengar teriakan cempreng,

" Diamput lulus ya Po!!!!!, gombale mukiyo !!! kamu ndisiki aku ya "

Dari jauh wajah mrenges Sumitro, karibnya mendekat, kelihatan sangat senang.

Sumitro merangkul erat, sampai Sutopo sesak nafas.

" ya ya aku LULUS, berkat latihan pertanyaan pertanyaan konyolmu itu, terima kasih sobat sejatiku " Sutopo balas merangkul erat.

Memiliki teman seperti Sumitro, Sutopo jadi ingat syair lagunya Dionne Warwick " Thats Whats a Friend for ". Sumitro memang bukan sekedar sahabat ATS ( Asal Teman Senang ), tapi kalau diperlukan dia bisa mencubit atau mencambuk, demi kemajuan sahabatnya.

Sutopo merangkul sahabatnya lebih erat, matanya berkaca kaca, terharu.

Malam itu mereka merayakan kelulusan Sutopo, makan gudeg di emperan toko jalan Solo. Dilanjut nonton film Story Of Adele, di Bioskop Rahayu, diseberang jalan emperan gudeg.

Film dibuat berdasarkan cerita di buku harian sastrawan Prancis Victor Hugo. Tentang anak gadisnya yang terobsesi dengan seorang tentara, begitu mencekam dan mengiris hati. Isabelle Ajani, aktris Prancis berbibir penuh sexy , pemeran Adele begitu menghayati perannya, membuat Sumitro terisak mingsek mingsek, ditengah semprotan AC yang terlalu dingin.

Film cukup panjang, sekitar dua jam penonton terharu biru, terayun ayun, teraduk emosinya. Hampir jam dua belas malam film baru usai. Berkerumun keluar dari gedung Bioskop, Sumitro  sudah biasa kembali, sebagian penonton wanita masih mengusap usap air mata.

Topo dan Mitro saling berpisah, Topo mengendarai bebeknya ke selatan, Mitro tancap gas ke barat.

Jalanan sudah sepi, Sutopo santai berkendara, menikmati malam nan sunyi Yogya, yang kelihatannya bakal ditinggalkannya tidak lama lagi. Sentimentilnya menyeruak. Yogya ...oh Yogya, rinduku bakal jadi jangkar yang akan selalu menariku, untuk kembali padamu lagi ...dan lagi.

Penuh haru, dirinya bakal mengucapkan selamat tinggal kepada rambut gondrong agak kribo, celana cutbray penyapu jalan. Dan juga sepatu hak tinggi kayak dingklik. Sutopo membayangkan dirinya berbusana rapi, di dunia kantoran.

Sutopo kaget dan menginjak rem motornya dalam dalam, ketika menyadari hampir menabrak palang sepur yang menghadang. Tengah malam masih ada saja kereta api yang lewat, tetek kereta Lempuyangan timur menghalang.

Waktu lewat tengah malam, Sutopo sampai di kosannya . Berbaring telentang di ranjangnya yang sempit, Sutopo gulag gulig tidak bisa tidur. Pikirannya melayang layang, perasaannya melambung lambung, seperti bola tenis dihantam raket, kesana kemari. Pikirannya meloncat loncat. Dari mengenang perjalanan kuliahnya yang lima tahun lebih, berpindah ke kisah skripsi dan ujian pendadarannya yang seru, penuh perjuangan.

Memikirkan kembali materi ujian pendadaran yang komprehensif itu. Ujian pendadaran itu, seolah mengajak mahasiswa mengetahui sedikit untuk hal yang banyak. Bukan sebaliknya, mengetahui banyak untuk hal yang sedikit. Cenderung menjadi generalis daripada spesialis.

Sutopo berpikir, kira kira mana yang lebih dibutuhkan di dunia kerja ya, Sarjana generalis atau spesialis?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2