Novel

Hembusan Angin Cemara Tujuh 35

8 Juli 2018   17:52 Diperbarui: 8 Juli 2018   18:08 578 0 0

*Hembusan Angin Cemara Tujuh 35*

Kawasan dipinggir Kanal di pusat kota ini adalah tempat umum. Orang bebas berlalu lalang disitu. Berdiri berderet di kawasan itu Hotel, Kantor, Restoran, Museum , bahkan Gereja tua antik di gerbang jalan.

Dua jalan utama berdiri di kiri kanan Kanal. Banyak lorong lorong kecil ranting dari dua jalan tadi. Suasana semakin meriah ketika sore tiba. Lampu berpendaran, dengan dominasi warna pink di sepanjang jalan dan lorong.

Ditengah Kanal, boat boat turis berseliweran dengan bunyi bunyi an dan teriakan teriakan tiada putus para penumpangnya.

Kawasan sea dyke atau Zeedijk adalah tempat umum sekaligus kawasan Red light. Orang rame lalu lalang laki perempuan, tua muda sekedar berjalan jalan atau memang berniat lain.

Mereka berenam berjalan berkeliling mengikuti kerumunan. Puspa, sembunyi sembunyi melirik kiri kanan dengan wajah semburat merah. Helen dan Marieska biasa biasa saja. Wikarya, Sutopo dan Deni celingukan penasaran, pingin tahu.

Berderet jendela kaca terbuka di sepanjang lorong itu. Sebagian jendela tertutup gordyn. Di dalam kaca terbuka, wanita dari seantero dunia, mejeng penuh gaya, mengumbar senyum dengan kostum seronok. Semakin sore, semakin riuh pejalan kaki dari berbagai bangsa lalu lalang. Oh begitu to, dalam hati mereka membatin.

Puspa marah marah, gara gara para lelaki temannya, pingin nonton live show di Zeedijk. Puspa tidak mau, ngancam mau pulang sendirian ke Rotterdam. Akhirnya, mereka berenam pulang ke Rotterdam sore itu. Nonton live Show batal. Pengalaman baru gagal terwujud. Disepanjang perjalanan Puspa manyun, tidak mau ngomong, bungkam dan jengkel.

Sore itu kampus mengadakan acara pertemuan dengan salah satu Menteri Belanda. Ternyata Menteri itu adalah Meneer Jan Pronk yang juga ketua IGGI, Inter Govermental Group on Indonesia.

IGGI didirikan tahun 1967, adalah organisasi Perkumpulan beberapa negara, yang diprakarsai Amerika, untuk memberikan bantuan penyusunan Repelita ( Rencana Pembangunan Lima Tahun) Indonesia , serta memberikan bantuan pinjaman lunak 60 prosen dari bugetnya.

Jan Pronk orangnya ramah dan pintar. Tapi juga tipikal Belanda Zakelyk, saklek. Mahasiswa dari Indonesia mengerumuni Meneer Pronk. Berlangsung diskusi serius. Pronk menjelaskan dengan Clear dan langsung program IGGI, juga tanpa tedeng aling aling mengkritik berbagai kebijakan pemerintah Indonesia.

Beberapa bulan setelah pertemuan itu, Jan Pronk lengser dari posisinya sebagai ketua IGGI. Presiden Soeharto marah besar, karena Pronk mengkritik tindakan pemerintah Indonesia ketika menangani demo di Santa Cruz, Timor Timur.

Pak Harto mutung, bantuan IGGI akan ditolak, kalau IGGI tetap diketuai Jan Pronk.

Akhirnya Pronk mundur dari posisi ketua IGGI.

Di kampus juga sering diselenggarakan agenda Meeting With Expert. Waktu itu ada program khusus untuk mahasiswa Indonesia , bertemu dengan wartawan senior Financial Times London, untuk area Asia Tenggara.

Ada salah satu uraian sang wartawan, yang membuat para mahasiswa Indonesia terperangah dan berpikir, yaitu masalah fokus pembangunan.

Menurut wartawan itu, mestinya sejak awal pemerintahan pak Harto, alokasi APBN difokuskan pada pembangunan; Infrastruktur, Pertanian, Pertambangan, Pariwisata, Kelautan dan Pendidikan. Wartawan itu mengkritisi alokasi APBN yang terlalu besar untuk bidang bidang berteknologi tinggi. Menurut wartawan, itu belum saatnya bagi Indonesia dan bukan ekpertisenya pemerintah.

Terjadi diskusi, dan perdebatan yang cukup seru dengan para mahasiswa. Wartawan itu keras kepala, kukuh pada pendapatnya. Ya sudah, Setiap orang bisa dan boleh berpendapat berbeda, lain kepala lain muatannya.

                    Bersambung