Novel

Hembusan Angin Cemara Tujuh 26

8 Juni 2018   13:10 Diperbarui: 8 Juni 2018   13:26 800 0 0

Perbedaan keinginan antara Sutopo dan bapaknya itu berlangsung berhari hari , tidak tercapai kesepakatan.

Sutopo dengan impian seninya, membayangkan dirinya menjadi Dalang wayang kulit. Sebagai seorang pencerita, story teller yang boleh berbicara apa saja, bisa berkreasi seni mendramatisasi seliar liarnya, dan tidak akan ada yang melarang.

Mengimajinasi musik Rock atau Dangdut di sinergikan dengan gamelan, di timpali suara koor lima pesinden yang membahana, adalah lamunan lamunan obsesif berkesenian yang bisa terwujud harmonis, megah dan eksotis. Itu semua memerlukan pengetahuan dan skill yang harus dipelajari di sekolah khusus.

Sedangkan impian bapaknya lain lagi. Membayangkan suatu saat mengantar Sutopo berkhotbah di alun alun kota ditengah ribuan Umat yang memadati. Tegak di mimbar, dengan suara tegas menggelegar, berwibawa, bermakna, dielu-elukan dan Sutopo menjadi panutan.

Alangkah akan bangganya orang tua ini, kalau itu semua menjadi kenyataan.

Dan berhari hari keduanya tidak bisa saling meyakinkan pendapat masing masing. Bapak dan anak ini tetap berselisih , kukuh dengan bayangan kemuliaan dan keindahan impiannya.

Inilah bedanya keluarga Sutopo dengan keluarga yang lain. Meskipun hidup di tengah kultur Paternalis, bapaknya mentolerir perbedaan pendapat dan bahkan menumbuhkan kebiasaan diskusi di keluarganya. Bapaknya sangat jarang menggunakan terminologi "pokoke".

Sampai di suatu pagi, usai sarapan dengan nasi tumpang desa yang selalu terasa enak, ibunya mengambil komando pembicaraan. Pasti ibunya tahu dan paham perbedaan yang terjadi berhari hari antara anak dan suaminya. Dengan suara datar tapi mantap, ibunya berujar,

"Sebentar lagi Topo harus sudah mendaftar sekolah, sebaiknya Topo mendaftar di SMA umum saja "

Ibunya berpendapat, sambil menempuh sekolahnya, Sutopo tetap bisa belajar berkesenian dan juga memperdalam ilmu Agama, baik di sekolah atau juga di luar sekolah. Nanti dilihat bakat Sutopo yang sejatinya itu apa, dan itu bisa diasah dan diperdalam di tengah perjalanan pembelajaran.

Setelah berembug dan bencerengan sepanjang pagi itu, akhirnya Sutopo dan bapaknya dapat menerima pendapat ibunya.

Tahun itu Sutopo masuk SMA.

Sutopo tersenyum sendiri di kamar Seamans House , mengenangkan kembali proses alot kesepakatan pagi itu, sambil memandang iring iringan Tongkang yang melaju, mengangkut gunungan batu bara hitam legam menuju hulu di tengah sungai itu.

Seandainya waktu itu, dirinya melanjutkan sekolah ke Gontor atau ke sekolah pedalangan, apakah dirinya akan sampai di Rotterdam ini? Mungkin juga bisa sampai disini, tapi pasti berbeda acara.

Hari Senin itu, Sutopo dan tiga teman sekantornya mulai kuliah di International Institute, di kota Rotterdam.

Komunikasi menggunakan Bahasa Inggris. Kampusnya tidak begitu luas, apalagi kalau dibandingkan kampus UGM di Bulak Sumur, Institut ini tergolong mini. Namun rapi, cantik dan fungsional.

Hari ini adalah kuliah umum Ekonomi. Mahasiswa seluruh jurusan ikut semua . Mahasiswa berjumlah sekitar tiga ratus orang , berkumpul di hall utama berbentuk tapal kuda dengan trap trap ke atas, seperti panggung teater kuno Acropolis Yunani.

Bersambung