Cerpen

Hembusan Angin Cemara Tujuh 12

17 Mei 2018   07:36 Diperbarui: 17 Mei 2018   07:38 235 0 0

Cerpenbung

Hembusan Angin Cemara Tujuh 12

Sabtu Pagi itu jalanan Yogya lancar, barangkali seperti ini biasanya setiap hari, tidak begitu ramai. Perbedaan luar biasa antara menempuh perjalanan di Jakarta dan Yogya, yaitu selisih waktu tempuh berangkat dan pulang ke rumah. Kalau di Jakarta, bisa Tua di jalan kata orang Betawi.

Naik kendaraan umum ke Bulak Sumur, perjalanannya adalah nostalgia yang selalu dibayangkan Sutopo. Sutopo turun di halte kecil di depan Cemara Tujuh. Memandang sekeliling dan juga menatapi Perpustakaan megah yang belum kelihatan orang berlalu lalang. Lalu berjalan santai menapaki tangga tengah Gedung Pusat UGM.

Masih jam 10 pagi, janji ketemu dengan Sumitro masih satu jam lagi. Topo sengaja datang lebih pagi, ia ingin berkeliling sambil menunggu Mitro yang memberi kuliah sampai jam 11 nanti.

Mampir di lantai 2 gedung pusat, Topo masuk toko buku Fak Ekonomi. Ada jualan yang belum ada waktu dia masih kuliah, foto fantastik hitam putih gambar Cemara Tujuh, Gedung pusat dengan latar belakang Gunung Merapi. Foto ini diambil fotographer Belanda tahun 1950 an. Gambar yang spektakuler, menggambarkan suasana waktu itu, terasa dekat dan nyata.

Sutopo membeli foto itu dan memasukan ke tas cangklongnya. Pikirannya melayang , nglambrang ke masa lalu di Kampus dan Kota ini.

Ibarat terkena tusukan belati beracun di dadanya, waktu itu mendengar Kinanti sudah tunangan, Sutopo seperti burung patah sayap, terkapar tak berdaya.

Namun dia adalah anak desa, yang telah ditempa dengan perjuangan dan tantangan hidup di masa kecilnya. Menggembala kerbau yg menjadi gila atau menyeberang kali banjir yg ganas atau melewati malam malam musim begal dan maling pernah dialaminya. Dan dia tegar tabah dan biasa biasa saja menjalani peristiwa dan masa yang menegangkan itu. Sutopo tetap waras dan sehat.

Menghadapi kenyataan Kinanti telah punya pasangan, meskipun pada mulanya membuatnya setengah sinting, perlahan lahan Topo bangkit kembali, menapak kenyataan dengan pikiran positif.

Dia mulai menghadiri dan mengikuti kegiatan kegiatan Kampus yang selama ini tidak pernah mendapat perhatiannya. Dia ingin penyaluran energi. Diskusi dan debat debat panas para Mahasiswa aktivis yang membara. Topo Ikut juga Kegiatan   para pendaki gunung kampus. Aktif sholat Tarawih di acara Ramadhan In Campus di Gelanggang Mahasiswa, acara bersepeda ke tempat tempat wisata di Yogya dan sekitarnya, tentu saja acara acara Mahasiswa Camping yang seru dan juga sentimentil dengan api unggun di malam terakhir.

Sutopo ingat debat panas di Univercity Club Boulevard Kampus. Diskusi dengan tema modal asing itu beralih menjadi debat panas dengan gebrak gebrak meja.

Bagi Sutopo, diskusi di Kampus selain menumbuhkan wawasan baru tentang suatu topik tertentu, juga menjadi ajang membentuk serta mengembangkan

kepribadian   dan karakter.

Diskusi kampus adalah arena yang bergelora, gegap gempita juga terkadang menggelikan.

Sutopo kagum kepada salah satu peserta debat mahasiswa Sospol, benar benar macan debat yang cerdas dan tangguh. Pasti masa depannya cemerlang, batin Sutopo. But who knows, karena banyak juga bekas aktivis dan macan debat Kampus yang masa depannya tidak jelas, kabur kanginan tak tentu arah.

Sutopo sadar dari lamunannya, ketika ada yang meneriaki namanya. Dari ujung lorong, Sumitro meluncur dengan hem putih lengan panjang yang bersetelika rapi, rambut mengkilap bermandi pomade. Ikon cengengesan megah bertengger di bibirnya yang terbuka miring.

" esuk esuk nglamun ya Po, ayo langsung makan saja di SGPC " Mitro narik tangan Topo tanpa menunggu jawaban.

Masih jam 11 lebih sedikit, SGPC masih belum begitu ramai. Mitro memilih meja di sudut, yang biasanya memang disediakan untuk Dosen.

Selesai pesan 2 porsi SGPC dan sari tomat, dari mulut menceng Mitro mitraliur cerita masa lalu berhamburan tanpa jeda , tanpa bisa di stop. Alhamdulillah, terima kasih Tuhan punya sahabat pembual yang baik hati dan gampang ditebak ini, batin Sutopo. Dan masa lalu seolah menjadi es campur segala macam rasa yang enak di klamut klamuti dan dikenang kenangi berkali kali, melalui pertemuan dua sahabat itu.

Mitro pun juga memberi advis tentang berbagai hal untuk hidup kembali ke Yogya. Nasihat yang tidak tepat, karena Topo jauh lebih tahu darinya dari pengalaman masa kosnya dulu, bagaimana hidup di Yogya ini.

Sutopo masih takjub mengamati warung SGPC yang semakin ramai dan meriah. Mahasiswa dari segala suku ada disini, seolah Indonesia bersatu disini, di SGPC, damai ceria dan meriah.

Usai makan dan ngobrol dua jam di warung SGPC, Sutopo pamit untuk segera ke Kampus UII, mau naik angkutan umum. Mitro bersikeras untuk ngantar, alasannya tidak ada acara lagi di fakultas siang ini. Rupanya ini menjadi sarana pamer dosen baru ini.

Dengan gaya pantomim yg dramatis, Mitro membuka pintu depan Holden Torana warna biru langit cerah, mempersilakan Topo duduk di kiri depan. Dengan senyum yg tak ada habisnya Mitro nyetir nggeblas ke selatan. Torana biru itu di kredit  dua tahun, berkat banyak ngajar di PT PT swasta Yogya, Mitro bisa meningkatkan statusnya, Dosen muda bermobil, meskipun kreditan.

Dengan ucapan terima kasih, Sutopo turun di jalan Cik di Tiro, berjalan masuk halaman gedung sambil melambai ke arah Torana yang kembali ke utara.

Wawancara berlangsung singkat padat. Sutopo mantap menjawab dan menguraikan segala macam Value, Strategi, Taktik dan juga literatur literatur Marketing yang pernah dipelajarinya. Dosen senior Pewawancara memberi sinyal, kalau Sutopo bakal segera harus mengajar di UII.

Selesai wawancara, Sutopo naik becak ke selatan, ke stasiun kereta api Lempuyangan . Dia ingin bernostalgi naik Kereta Api Kuda Putih ke kampungnya pinggiran Solo. Kuda Putih akan berhenti di setiap stasiun, dari mulai stasiun Tugu, Lempuyangan, Meguwo, Kalasan, Prambanan, Klaten, Ketandan, Ceper, Delanggu, Gawok, Purwosari, dan berakhir di Stasiun Balapan Solo.

Di gerbong Kuda Putih yang tidak banyak berubah, pelan meluncur ke timur, Sutopo memandangi ke luar. Di kiri kanan sawah masih menghijau, menari nari serempak terayun mengikuti arah angin bertiup, seger. Sutopo tersenyum sendiri ingat masa lalu, membawa beras 25 kg naik Kuda Putih dari desanya ke Yogya.

Bersambung