Mohon tunggu...
mulyanto
mulyanto Mohon Tunggu... Administrasi - belajar sepanjang hayat

Saya anak petani dan saya bangga

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

[Cerpen] Tolong Kembalikan Suami dan Putri-Putriku, Tuhan!

13 Maret 2019   10:33 Diperbarui: 13 Maret 2019   10:55 167
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
sumber foto: kapanlagi-dot-com

Aku berutung malam ini selepas isya' dipinjami HPnya mbak Rindu. "Mbak main game saja, ya, biar nggak bosen," katanya tadi. "Aku akan carikan mie ayam buat makan malam kita."

Aku mengangguk aja. Tapi aku bosen main game malahan. Dulu HPku 10 kali lipat lebih mahal daripada HP yang kubuat nulis ini. Lebih canggih. Maaf ini bukan apa-apa. Memang begitu adanya.

Makanya aku bosen ngapa-ngapain. Lebih baik kupinjam ruang memo-nya saja ini. Sungguh mbak Rindu baik benar. Anda yang baca ini perlu juga berterimakasih pada mbak Rindu karena dia, Anda bisa baca kisahku. Berkatnya juga iya kan?

Lewat tulisan ini saya hanya ingin mengisahkan perjalan hidupku yang indah dan begini.

Anda jangan bodoh mengalami sepertiku. Serius. Cukup ambil pelajaran dan hikmah dari kisahku. Dari suratan takdirku. Dari ketotolanku ini. Oke.

2010 aku menikah. Suamiku polisi ganteng. Namanya mas Diddy. Anak dari seorang kepala SMA negeri di Surabaya. Dia segalanya bagiku. Bagi keluarga besar kami. Polisi yang jujur. Bukan seperti kebanyakan. Tes masuknya gratis.. tis.... Memang cerdas mas Diddy-ku ini. Adiknya dua perempuan semua. Cantik-cantik. Masing-masing calon dokter dan calon arsitek.

Kami menikah lantaran bertemu di Mekkah saat kami umroh. Mas Diddy sama Pama Papanya. Aku sama Mami Pipiku.

Kami bukan satu travel tapi cinta kami disatukan Allah SWT di tanah suci. Saat keluar pintu masjidil haram aku kebingungan mencari sandal. Lalu datang di depanku malaikat yang mencopot sandalnya dan memberikannya padaku. Tak hanya memberikan dia juga membungkuk mengulurkan sandal lakinya di ujung kakiku. Aku tahu dia sudah lama mengamatiku sejak 15 menitan aku kebingungan di pintu masjid itu. "Jangan biarkan kaki suci Tuan Putri kotor," katanya. Atau bilang gimana ya lupa. Hehe. Pokoknya saat itu dia mengucapkan beberapa kata. Aku lupa persisnya. Ya aku hanya berterimakasih dan memberikan senyum termanis padanya. Sudah itu sudah.

Lalu.

Saat sesudah tawaf Mami Pipiku kok yo pas mandeg tepat di depannya keluarga Mas Diddy. Yaa Allah... disitulah perjumpaan kedua kami. Mas Diddy langsung menciumi tangan Pipi Mimiku penuh takzim. Dan kedua keluarga kami saling kunjung di hotel. Dan kian akrab.

Sepekan setelah kami sepulang umroh, keluarga Mas Diddy melamarku. Aku mau banget. Tiga bulan berikutnya kami menikah. Menikah di kantornya Mas, juga di rumah kami.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun