Mohon tunggu...
Ibra Alfaroug
Ibra Alfaroug Mohon Tunggu... Penulis amatir yang lagi belajar menulis

Buruh Tani di Tanah Milik Sendiri

Selanjutnya

Tutup

Politik

Pilkades, ADD, dan Korupsi Berjamaah

22 Januari 2020   09:25 Diperbarui: 22 Januari 2020   09:52 56 3 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Pilkades, ADD, dan Korupsi Berjamaah
ilustrated by poliklitik.com

Pilkades, ADD dan Korupsi Berjamaah

Selain pilkada serentak yang akan dilaksanakan pada tahun 2020. Khususnya di kampung saya, juga akan melaksanakan hajatan penting yaitu pemilihan kepala desa (pilkades) yang pelaksanaan-nya pada bulan Februari nanti.

Pilkada atau Pilkades adalah dua moment penting dalam menentukan pemimpin, lima tahun kedepan. Baik sebagai pmimpin daerah maupun pemimpin yang meliputi cakupan skala yang lebih kecil, yaitu pemimpin desa/kampung.

Bakal calon yang telah  bermunculan, menghiasi berbagai perbincangan di warung-warung kopi dan menjadi topik 'obrolan' bagi sebagian warga.

Namun dalam hal ini, saya lebih tertarik menyimak dinamikanya pilkades ketimbangnya pilkada di tahun 2020 ini. Hal ini cukup beralasan, secara subyektif dikarenakan kebetulan 'berdomisili' yang sebentar lagi akan diadakan pelaksanaan pesta demokrasi di desa. Dan 'kepala desa' bersentuhan langsung pada masyarakat daripada kepala daerah, jadi urgen kades lebih utama ketimbang kepala daerah.

Pemilihan kepala desa pada tahun 2020 ini, memberikan sedikit perbedaan dengan pelaksanaan pemilihan sebelumnnya. Diantaranya tujuan, Mungkin? Dan pola-pola kampanye ala tahun 2020, menurut anasir awamku. Jual beli janji, narasi hingga jual beli jabatan, dan senjata uang untuk menang.

radarselatan.fajar.co.id
radarselatan.fajar.co.id
Diantaranya, mungkin? Ada bentuk penilaian yang hanya berangkat dari asumsi, yang dihubungkan dengan Anggaran Dana Desa (ADD), Seperti memberikan stimulus dan daya magnet menarik bagi masyarakat untuk ikut kontestasi politis ala desa.

Gambaran ini seakan jadi pemantik dalam mengungkap sebuah alasan bagi masyarakat tuk berpendapat akan dinamika ini. Diantaranya;

"lihat tu si Fulan, baik dan ramah bangeeet tu, saat jadi calon, dulu dicalonkan nggak mau, kok kini mau ya, pungkas warga."

Celotehan seperti ini kerap terdengar dalam berbagai obrolan bersama warga sekitar tempat tinggal, dan rata-rata memaparkan akan bahwa calon-calon saat ini sebenarnya lebih tertarik kepada anggaran itu loh! Dari pada mikir kita sebagai rakyatnya.

Kecurigaan-kecurigaan atau pernyataan-pernyataan ini sangat wajar, jika mendengar dari celotehan tersebut, sebagai pendengar yang baik.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN