Mohon tunggu...
Ibra Alfaroug
Ibra Alfaroug Mohon Tunggu... Penulis amatir yang lagi belajar menulis

Buruh Tani di Tanah Milik Sendiri

Selanjutnya

Tutup

Kotaksuara

Skeptis akan Keterwakilan Caleg Terpilih

11 Juni 2019   13:32 Diperbarui: 11 Juni 2019   13:43 0 11 6 Mohon Tunggu...
Skeptis akan Keterwakilan Caleg Terpilih
dprdrejanglebong.com

Demokrasi 'pemerintahan rakyat' dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Terminologi yang masih terngiang dalam ingatan dan menjadi kata 'ulangan' yang selalu berulang-ulang disampaikan. Dan menjadi komiditi utama bagai para elit dalam pemilu khususnya. Secara subtansial jika diwujudkan dalam suatu sistem yang merupakan upaya bagi rakyat dalam menciptakan kesejahteraannya (mereka sendiri). Rakyat benar-benar ditempatkan pada peran yang sangat penting dalam memperjuang aspirasi-aspirasi yang terkadang tidak tersampaikan, tapi melalui wakil yang dipilih bisa mejadi penyambung lidah mereka.

Realitas demokrasi kita, sebagai bangsa kita patut bersyukur jika kembali mengenang demokrasi yang sebelumnya. Indikasi kemajuan salah satunya terwujud pemilu secara langsung, kita bebas menentukan sebuah pilihan yaitu calon Legislatif, Presiden, dan Kepala Daerah. Kalau selama ini cenderung membeli 'Kucing dalam Karung'.

Selain bebas menetukan/menggunakan hak suara, iklim demokrasi pun juga memberikan kebebasan pers dimana pernah vakum selama 32 tahun di rezim orde baru berkuasa. Kebebasan berpendapat seakan menjadi jamur mekar dimusim penghujan di alam demokrasi saat ini. Berbagai forum, komunitas, lembaga-lembaga terbuka menyampaikan aspirasi di support media teknologi yang semakin canggih hari-kehari. Walaupun terkadang kebablasan dalam berpendapat di media, justru menentang koridor, etika, norma, hukum dan cenderung sebagai media provoktif yang merusak.

Pileg, Pilpres ataupun Pilkada telah terjadi kemarin seakan menjadi beberapa catatan penting yang perlu digaris bawahi khususnya Pekerjaan Besar dalam demokrasi kita dan menjadi 'PR' bersama dalam membuat formula yang semakin baik kedepannya.

Dalam hal ini saya tidak membahas pilpres, tapi para calon rakyat yang akan duduk yaitu calon legislative baik di senayan, provinsi maupun di kabupaten. Sebagai pengemban amanah rakyat, dan menanti sepak terjang mereka. Ada beberapa sikap Pesimistis sebagai rakyat melihat calon-calon yang terpilih khususnya di daerah saya sendiri.

Ada bebarapa indikator pesimistis yang dirasakan;

  • Rata-rata yang terpilih wajah baru muncul, yang selama tidak pernah muncul. Tidak familiar.
  • Yang terpilih dalam segi usia sangat mudah, dan tentu miskin pengalaman dalam dinamika politik.
  • Rata-rata yang dapat bukan berdasarkan sepak terjang yang harum (prestasi), tapi figure orang didekat mereka.
  • Dapat karena Uang.
  • Dapat karena intimidasi.

Indikator ini cukup beralasan, berdasarkan kacamata terjadi di daerah. Money Oriented seakan membutakan bagi para pemilih dalam menentukan sebuah pilihan, serangan fajar/serangan subuh/ dan bantuan materi yang diberikan para calon dengan maksud tersirat. Perihal ini membuat objektivitas pemilih seakan dipertanyakan. Jika kejadian terus berlanjut dalam politik, akankah daerah bisa berkembang atau maju? mampu membawa aspirasi kita. 'Ketika Uang adalah segalanya' . Dan suara kita masih bisa dibeli atau ditukar dengan selembar selendang bantuan dan amplop yang berisi uang, tapi, dearah menagalami 'stagnisasi jauh' dari kertetinggalan dari daerah lain.

Calon yang kompeten harus kalah pada calon yang memiliki uang. Transaksionalitas dan emosionalitas di atas rasionalitas bagi pemilih. 
Indikasi ini memberikan ketakutan 'keraguan' akan di bawa ke mana fungsi legislative di pemerintahan daerah. Mungkin, perasaan terlalu 'skeptis'. Tapi sebagai catatan penting bagi masyarakat dalam menggunakan hak suara mereka suatu saat nanti. Dan pemerintah untuk mengeluarkan ketetapan yang ketat untuk menghasilaknan mutu para wakil nantinya. Kita lihat, kemana para wakil membawa daerah ini. Kita tunggu kinerjanya, semoga aspirasi tidak menjadi sia-sia.

Curup, 11 Mei 2019

Ibra Al Faroug

#opiniawam