Mohon tunggu...
Mukhlisin_Sby
Mukhlisin_Sby Mohon Tunggu...

Mahasiswa yang di Hukum... masih berada di antara ambiguitas dan ambivalensi...

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Timnas U-19 Butuh Butuh Dua Pivot

9 November 2017   15:42 Diperbarui: 9 November 2017   18:32 0 2 0 Mohon Tunggu...

Menyaksikan Timnas Indonesia U-19 memang mengasyikkan, karena selain permainan yang atraktif dengan umpan satu-dua yang aduhai ala tiki-taka barcelona, juga cukup banyak gol-gol tercipta dengan skor-skor yang memanjakan pemirsa. Bisa diakui bahwa Timnas U-19 atau Garuda Muda asuhan Indra Syafri adalah tim dengan lini depan yang sangat baik dan kompak. Perpaduan antara striker Rafli atau Hanis dengan para gelandang serang seperti Egy, Witan, Iqbal, Saddil atau Feby, sangatlah serasi. Jika dibandingkan dengan Timnas Senior atau Timnas U-23, lini serang Timnas U-19 jauh lebih unggul dalam aspek kekompakan dan produktifitas.

Timnas U-19 memang sangat produktif dan kompak dalam menyerang, gol-gol banyak tercipta terutama jika menghadapi tim-tim yang lemah. Tetapi untuk menghadapi tim-tim yang lebih kuat dan punya keseimbangan menyerang dan bertahan yang baik, Timnas U-19 seringkali tidak berkutik. Apalagi jika tim lawan menerapkan pressing yang ketat, Garuda Muda seringkali kalah telak.

Contoh kasus-kasus ini adalah ketika kalah 4-0 dari Korsel (Kualifikasi AFC), Kalah 4-1 oleh Malaysia (Kualifikasi AFC) dan Kalah 3-0 melawan Vietnam (Piala AFF U-18). Pada pertandingan-pertandingan tersebut, Timnas U-19 kelihatan sangat tidak mampu mengendalikan permainan. Permainan mereka seolah didikte lawan dan mereka kesulitan untuk menguasai jalannya laga. Serangan-serangan lawan seakan tidak mampu dihalau, lini pertahanan Timnas terkesan panik, kurang koordinasi dan sering melakukan kesalahan sendiri. Gol-gol pun dengan mudahnya tercipta ke gawang Indonesia.

Jika melihat perbandingan dengan Timnas yang lain, maka Timnas U-23 asuhan Luis Milla adalah yang terbaik dalam bertahan. Perpaduan antara Hansamu dan Ricky Fajrin atau Bagas Adi di lini pertahanan Indonesia, seakan sulit sekali untuk ditembus. Pada putaran Sea Games di Myanmar kemarin, Indonesia hanya kebobolan 3 gol saja dalam 7 pertandingan. Timnas U-23 juga tidak pernah kebobolan lebih dari 1 gol dalam satu laga. Bandingkan dengan dua laga terakhir Timnas U-19 yang kebobolan 8 gol.

Jika berbicara kualitas, saya rasa kualitas Timnas U-19 sudah cukup mumpuni, bahkan beberapa pemain Garuda Muda  sudah berlevel profesional seperti Egy, Sadil atau Rifad misalnya. Tetapi permasalahan yang mendasar menurut saya adalah dalam aspek formasi. Timnas U-19 mengandalkan formasi paten (tidak pernah dirubah Indra Syafri) 4-1-3-1-1 dengan Lutfi sebagai seorang pivot tunggal di depan 2 bek Irianto dan Nurhidayat. Di kiri dan kanan masing-masing ada Firza dan Rifad yang kerapkali melakukan counter attack membantu penyerangan. Di depan Lutfi terdapat 3 gelandang serang yaitu Iqbal, Asnawi dan Witan.

Jika dalam menyerang, terutama untuk tim-tim lemah, formasi ini sangat hebat. Jaminan banyak gol adalah sebuah kepastian. Tetapi dalam kondisi bertahan, permasalahan yang paling krusial adalah kurang adanya pelindung bagi lini pertahanan Timnas. Lutfi seorang diri sangat sulit melindungi dan mensupport Irianto dan Nurhidayat dari gempuran tim-tim lawan. 

Apalagi jika Rifad dan Firza atau Samuel terlambat turun. Dengan hanya satu pivot, lini pertahanan Indonesia seakan-akan telanjang jika menghadapi serangan balik. Jika terlalu banyak pemain lawan berada di kotak penalti, maka Lutfi akan turun bertahan dan menyisakan ruang kosong di depan kotak penalti Indonesia yang bisa dieksploitasi lawan. Selain itu jika pemain lawan menguasai bola, maka Lutfi sendirian akan kesulitan merebut bola sehingga dominasi penguasaan bola oleh lawan sulit dipatahkan. Gelandang perebut bola ini sangat penting sebagai benteng awal perusak serangan lawan.

Untuk itu, maka seharusnya coach Indra Sjafri menyadari ini dan mampu merubah taktik untuk menyempurnakan permainan Indonesia terutama dalam bertahan. Hal ini karena tim-tim yang akan melawan Indonesia dalam piala AFC bukan tim-tim lemah semacam Brunei atau Filipina. Tim-tim yang akan dilawan oleh Egy dan kawan-kawan adalah tim-tim terbaik di Asia seperti Arab Saudi, Korea Selatan, China, Jepang dan lain sebagainya. Oleh karena itu maka jika timnas U-19 ingin sukses atau minimal tidak tampil memalukan selama gelaran Piala AFC U-19 mendatang, maka lini pertahanan harus menjadi fokus pembenahan. Salah satunya adalah dengan menambah satu gelandang pivot lagi untuk membantu Lutfi dalam merebut bola dan melindungi para bek Timnas. Sehingga formasi pakem 4-1-3-1-1 bisa dirubah menjadi formasi modern 4-2-3-1

Bravo Timnas U-19

Semoga Sukses dalam Piala AFC U-19 mendatang

Salam Kompasiana