Fiksiana

Ambiguitas dalam Sastra

1 Januari 2018   14:29 Diperbarui: 1 Januari 2018   14:39 983 2 0

Definisi dari karya sastra sampai sekarang masih menjadi polemik tersendiri, baik di kalangan sastrawan maupun akademisi. Atar Semi menganggap sastra adalah suatu bentuk dan hasil pekerjaan seni kreatif yang objeknya adalah manusia dan kehidupannya dengan menggunakan bahasa sebagai mediumnya (1988:8), sementara Horatius berpendapat bahwa sastra adalah sebuah karya yang harus mengandung unsur bermanfaat dan menghibur (dalam Teeuw, 1984:183). Kedua pendapat di atas adalah yang paling berterima di hati para sastrawan di antara ratusan pengertian tentang sastra.

Pengertian tanpa bentuk konkret sama halnya dengan imajinasi. Dalam hal ini, kita dapat menyaksikan sastra di mana-mana: televisi, majalah, koran, dalam tuturan, bahkan di dalam dinding-dinding yang tanpa kita sadari adalah karya sastra. Di Indonesia sendiri, karya sastra tumpah ruah dengan segala pengarangnya yang memiliki gaya dan latar belakang sendiri. Sebagai contoh, Si Binatang Jalang, Chairil Anwar yang memiliki gaya sederhana dengan diksi menyentuh jiwa, kemudian, Andrea Hirata yang berhasil menampar Indonesia dan menyadarkannya akan pendidikan yang memprihatikan di sudut Nusantara, dan masih banyak lagi sastrawan dengan nama dan karyanya.

Sutardji Samsul Bahri adalah satu dari sejuta nama yang muncul dan mencuat di antara sastrawan lain. Banyak puisi-puisi pria asal Riau ini yang sulit dicerna oleh pemikiran masyarakat awam. Salah satu puisinya yang sempat mendarat di telinga masyarakat adalah "Tragedi Winka & Sihka". Oleh banyak sastrawan, puisi dimasukkan dalam golongan mantra. Diksi yang digunakan adalah kawin, ka, win, winka, sihka, sih, ka, ku. Saat dibacakan, terjadi repetisi yang mampu membangun kata baru dengan makna baru. Yang paling menonjol dari puisi ini adalah tipografinya yang berbentuk zig-zag yang mempunyai makna jalan berlika-liku.

Selain "Tragedi Winka & Sihka", puisi ternamanya yang lain adalah "Luka". Puisi yang hanya berisikan dua kata: "ha ha" ini sangat ambigu dan berkontradiksi dengan judulnya. Banyak sastrawan menganggap puisi ini bergaya ironi dengan kesan sederhana. Dari sudut pandang pribadi, puisi ini menggambarkan seseorang harus senantiasa bahagia meski dirundung duka.

Masih banyak lagi puisi Sutardji Samsul Bahri yang multi tafsir, alias ambigu. Bahkan dari keambiguitasnya itu, Sutardji menjadi terkenal di era kontemporer ini. Penyair kelahiran 24 Juni 1941 ini menyajikan interpretasi tersendiri untuk pembaca dan tidak terikat oleh suatu konsep tertentu. Sutardji membiarkan pembaca mengambil sendiri makna di dalam karyanya ini, baik dari pengalamnnya sendiri maupun dari teori yang ada. Ketidakjelasan apa yang disampaikan menjadi gayanya tersendiri.

 Persepsi orang berbeda-beda dalam menanggapi makna dari sebuah puisi atau karya sastra, dan ini wajar-wajar saja karena kebudayaan atau intelektual yang berbeda. Setiap orang bebas memberikan penafsiran atau interpretasi sebuah karya sastra karena pada hakikatnya karya sastra bukan untuk dipahami atau dimengerti lebih dalam, tetapi untuk menghibur dan memberikan pelajaran.