Mohon tunggu...
Mujab Mujab
Mujab Mujab Mohon Tunggu... Buruh - Wahana menuangkan karya dan gagasan

Saya aktif di Serikat Paguyuban Petani Qaryah Thayyibah. Selain itu aktif di Komunitas Belajar Qaryah Thayyibah sejak tahun 2003 hingga sekarang.

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Anjay, Pentingkah untuk (Dibahas) Anak Indonesia?

9 September 2020   22:14 Diperbarui: 11 September 2020   19:01 274
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Dua anak tengah bermain air hujan di Salatiga (Dokpri)

 Anak Indonesia hari ini adalah kunci bagaimana Indonesia di Tahun 2045, saat seabad Indonesia Merdeka. Di tahun 2045 anak anak Indonesia dengan usia katakanlah 0-18 tahun hari ini akan berusia 25-43 tahun. 

Merekalah yang memegang peran seperti apa Indonesia saat itu di percaturan ekonomi dan politik dunia. Menyiapkan generasi untuk 25 tahun mendatang butuh satu periode roadmap dan dari situlah anak Indonesia akan menuju ke jalan yang benar atau terjerebab di jalan yang sesat.

Gampangannya bagaimana anak - anak Indonesia saat itu menjadi generasi yang tangguh, yang memiliki kesadaran, kemampuan dan ketrampilan dalam melakukan aksses serta control atas dirinya, sumberdaya Indonesia yang ada untuk mewujudkan Indonesia menjadi bangsa yang besar. 

Keadaan ini harus senantiasa berdasarkan pada prinsip keadilan, kelestarian lingkungan, serta kesetaraan relasi antara laki laki perempuan. Kata tangguh perlu di beri garis tebal karena ketangguhan itu seperti tidak ada teorinya namun mutlak diperlukan disegenap aspek kehidupan.

Realitasnya anak Indonesia hari ini masih dirundung banyak persoalan mulai dari jerat kemiskinan, lemahnya perlindungan, minimnya ketersediaan untuk tumbuh kembang yang memadai, hingga kurangnya pilihan untuk mengembangkan diri. 

Masih banyak anak yang terjebak pada obsesi orang tua dan pemegang kebijakan, masih banyak anak yang belum tersentuh perkembangan teknologi informasi, masih banyak anak yang berkecukupan harta dan materi tapi miskin pengasuhan dan perlindungan, dan lain sebagainya.

Di kalangan anak sendiri masih banyak terjadi tindak kekerasaan diantara mereka, masih ada saja anak yang tidak terlindungi dari kejahatan seksual oleh orang terdekatnya, gurunya, ustadznya, bahkan tidak jarang oleh orang orang terdekatnya. 

Di bagian lain anak anak harus banting tulang bersama orang tuanya karena kebijakan politik yang tidak menguntungkan mereka, karena alokasi anggaran yang tidak menyentuh mereka, dan juga oleh sebab-sebab lain.

Pademi covid-19 menambah satu realitas lagi yang mana keterjangkauan cakupan dan kekuatan  internet sinyal internet tidak bias dijangkau seluruh anak Indonesia. 

Pembalajaran jarak jauh online banyak menemui kendala, anak anak terpaksa menunggu kesiapan orang tua, guru, sekolah, instansi pendidikan hingga kementrian terkait untuk memperoleh pendidikan online yang berkualitas, yang bukan asal terselenggara. 

Lagi lagi anak menjadi korban ketidaksiapan banyak pihak untuk mengadopsi perkembangan teknologi. Padahal anak tidak pernah merasa tidak siap ketika teknologi disodorkan padanya. Anak biasanya akan menyambut dengan penuh suka cita apalagi kalau itu berkaitan dengan hal hal baru dan penuh tantangan. Namun pihak orang tua dan otoritas penyelenggara pendidikan justru mengedepankan ketakutan dan kekhawatiran. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun