Mohon tunggu...
Mohammad Rafi Azzamy
Mohammad Rafi Azzamy Mohon Tunggu... Seorang Pelajar

Menjadi manusia yang bersyukur dengan cara bernalar luhur dan tidak ngelantur | IG : @rafiazzamy.ph.d | Cp : 082230246303

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Hamburan Makna pada Jejalanan Kota: Pagi hingga Senja

29 November 2020   21:51 Diperbarui: 29 November 2020   21:53 77 5 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Hamburan Makna pada Jejalanan Kota: Pagi hingga Senja
Sumber : pexel.com

Cerita ini ditulis oleh cakrawala, ia menulisnya tepat di dalam tubuh sejarah, yang melukiskan betapa indah-nya guratan makna yang berhamburan di jalan raya, sekaligus pedih-nya malapetaka yang menimpa hamba-hamba Tuhan yang belum merdeka. 

Tariklah nafas, hembuskan dengan lugas, saksikanlah uraian cakrawala akan betapa luar biasa-nya makna-makna yang tertimbun di dalam kepala semesta.

Selamat menikmati

Dikala pagi tiba pada suatu hari dalam suatu ketika, ada tukang sampah mulai meneteskan keringatnya, ada pasar penuh dengan hingar-bingar suara warga, ketika itulah seorang bocah keluar dari mimpinya, matahari menyapanya dari sela-sela jendela, dimana jendela itu ialah hasil dari kerja keras seorang tukang kayu yang mencari nafkah untuk keluarga.

 Bocah itu berlarian menuruni tangga tuk persiapannya mencari makna yang berhamburan di sela-sela kota, sementara itu, tukang kebun sedang pamit kepada  istri dan anaknya, ia pamit tanpa sesuap nasi yang dicerna, ada juga tukang bangunan yang bangun pagi guna menuntaskan pekerjaan, dengan sebungkus nasi harapan dari istri tersayang, bocah itu masih melanjutkan persiapannya.  

 Ia menuju kamar mandi untuk membasuh diri, sementara ada orang-orang di plosok sana yang membutuhkan air bersih, selesai mandi ia berganti pakaian dan memakai jaket tuk menghangatkan badan, padahal banyak sekali anak-anak yang kedinginan berhamburan di jalan-jalan, tapi juga ada pejabat jahat yang menjadi sebab akibat, bocah itu pamit pada kulitnya, ibunya menyuruhnya mengisi lambung dengan sesuap nasi, ia menolak dan pergi layaknya tukang kebun tadi.

 Setelah keluar dari rahim rumah, ia menatap wajah rumahnya, rumah terlihat gembira dan menitipkan pesan kehidupan padanya, bocah itu mulai mengayuh roda semangatnya untuk menemukan makna pada jejalanan kota. Di awal perjalanan, ia melihat seorang pemulung yang sedang mengorek tempat sampah, berharap ada sebungkus cahaya tuk mengisi perutnya.

 Bocah itu mulai terlunglai air matanya, ia melanjutkan perjalanan karena tak ada sesuatu yang dapat ia beri, kecuali doa yang ia panjatkan di dalam hati. Melewati perempatan kota, bocah itu memandang geliat perjuangan hidup disana, ada seorang penjual koran yang nampak kesakitan, ada sosok ibu yang berjalan mencari harapan, juga ada mobil pejabat lewat tuk membuat malapetaka menjadi kejadian.

 Bocah itu nampak marah pada mobilnya, mobil nampak takut ketika ditatapnya, ternyata mobil tersebut tak ikhlas untuk dijadikan kendaraan dosa, bocah itu lagi-lagi menguras emosi didadanya, melihat pemandangan kota yang membawa pesan semesta, pemandangan yang sering dianggap orang sebagai hal biasa.

 Bocah itu melanjutkan pembacaannya, ia menuju taman, dilihatnya anak kecil yang meringkuk kedingian di tepian, nampak tubuhnya lemas setelah ditimpa hujan, entah kenapa hujan tega tuk menimpannya. Di tengah taman, nampak pemuda-pemudi yang sedang kencan, semesta serasa milik mereka berdua, orang yang berolah raga di sekitarnya tak peduli, karena sibuk tuk mengumpulkan keringat tubuh tuk disimpan di botol-botol waktu.

 Bocah itu rehat sejenak, ia lihat sesosok ayah yang sedang mengeja jarak, sambil mendorong gerobak kehidupan yang ia gunakan tuk menafkahi keluarga, bocah itu menoleh ke-kiri, dilihatnya gerombolan keluarga bahagia yang sedang berlari, menulis tawa di sendi-sendi kaki, membuat paragraf canda di muka jalan-jalan basah.

 Bocah itu menegakkan kaki, melanjutkan perjalanannya menemukan makna, ia sampai pada wilayah bangunan tua, ia lihat sosok orang gila yang berhasil melepas beban hidupnya, di sebrangnya ada anak muda yang sedang menghiasi mata penduduk kota, ramai juga orang-orang yang berangkat kerja, mengais rezeki untuk orang-orang di rumah, walau beberapa ada yang hanya untuk dirinya saja.

 Bocah itu-pun sampai pada mal-mal yang mulai buka, tempat manusia menghamburkan harta, dilihatnya anak muda yang menghabiskan uang orang tua, juga tukang parkir yang berfikir tuk membangun arsitektur kendaraan pengunjung agar teratur, ada juga tukang parkir yang berbicara dengan cangkir, cangkir nampak tertawa mendengar curhatan tentang kekasih sang tukang parkir.

 Bocah itu mencoba menuju halaman mal, terdengar segerombolan ibu-ibu yang melantunkan lirik-lirik yang menjadi musik perbelanjaan. Di dekatnya, ada bapak-bapak yang siap membuka tabungan sebulan tuk belanjaan keluarga, di dompet bapak terdengar bunyi alarm bahaya.

  Saat bocah itu kembali menuju jalan raya, ada ayah yang berusaha tuk menyembrangkan putrannya, juga ibu yang hati-hati menggendong anaknya. Bocah kembali melanjutkan makna, ia menuju pasar besar di utara kota, ketika ia telah berada di dekatnya, ada tukang becak yang memancal pedal melintasi jalan becek, keringatnya menetes menjadi tenaga yang menggerakkan roda, bocah itu telah sampai di pasar.

 Suasana gusar terasa pada pasar, ada penjual yang berdebat dengan penawar, ada pula tukang angkot berotot yang sedang melotot membersihkan bolot, bolot berguguran pada badan pejabat kolot, bocah itu memarkirkan mata, tuk mengedipkan kata pada banyaknya kata kerja di sekitarnya, ada macam-macam penjual sayur, penjual sayur yang bersyukur, karena rezekinya teratur, ada pula penjual yang terpungkur, karena pembeli yang tidak teratur, sehingga sang dompet-pun tertidur.

 Ada penjual apem yang tak dapat mingkem, ia terus berkata sehingga membuat telinga tak kunjung ayem, ditambah suasana pasar yang tak kunjung adem, semoga ia terhindar dari marabahaya cangkem. Bocah itu disapa oleh teman ayahnya, ia diajak mengenyangkan lambungnya yang berbunyi sedari pagi, teman ayah memilihkan rujak agar perutnya jinak.

 Si bocah ikut dan menurut, dilihatnya penjual rujak yang menggerus beberapa sajak, ia konsentrasi sekaligus melayani pembeli, bocah dan teman ayah dipersilahkan duduk, sang kursi nampak serasi memeluk, penjual rujak usai berpuisi, ia-pun menyajikan diksi, sang bocah yang lahap menyantap, ia ditertawai oleh kursi, sampai ia tersedak dan meminta air putih.

  Teman ayahnya bilang hati-hati kalau mau melahap puisi, penjual rujak menyela, sebab ia tak pernah kehabisan air putih, yang ada sajaknya dihabisi oleh orang istana,  bocah tau kalau istana itu bau dosa, sebagian penghuninnya telah ditulis setan sebagai calon pendampingnya di neraka, si bocah hanya dapat melawan dengan mencari makna dan memanjatkan doa.

 Usai makan, bocah berterimakasih pada teman ayah, juga pada penjual sajak, karena telah berjasa mematikan alarm perutnya, teman ayah berpesan agar telaten pisan dalam menghidupkan makna, bocah paham kalau makna bisa mati apabila pikiran tak dipergunakan dalam kehidupan. Bocah-pun pamit, ia disapa langit, langit berpesan bahwa kehidupan itu tak sempit, maka teruslah merakit, bocah tersenyum gembira dan melanjutkan perjalanannya.

  Gurat senja mulai bersahaja di atap semesta, langit menempa awan-awan jingga, matahari mulai beranjak pergi, lampu mulai berbuka setelah sekian lama berpuasa, keringat para pekerja berhamburan seketika, membasahi suka-duka di sepertiga senja, para pekerja yang berhasil meraih nafkah akan pulang dengan gembira, sementara yang tak mendapatkannya, akan meneteskan beberapa air mata tuk disimpan dan diminum kala menatap keluarga dirumah.

 Sang bocah-pun teringat pada para koruptor dan beberapa pejabat, betapa hinannya ia dalam cakrawala yang sedang ia baca, pergi membawa dosa, pulang-pulang membuka pintu neraka, semoga semesta memberi ampunan, semoga pula Tuhan menakdirkan pertaubatan.

 Malam mulai datang membawa bulan dan para bintang, bocah mulai pulang tuk menerima kasih sayang, di jalan, ia berpapasan dengan wajah sumringah, wajah itu sumringah karena semesta berpihak padannya, ada pula wajah kecewa, karena malapetaka sedang mengintainnya.

 Bocah bersyukur bisa dijadikan pena oleh cakrawala, sesampainya di rumah, bocah bilang kepada orang tuannya, bahwa ia telah berhasil memaknai satu hari dalam milyaran halaman kisah milik semesta. Sementara itu, manusia yang tak punya rumah, berharap agar alam ramah padannya, pekerja malam dipanggil bulan untuk meneruskan cerita, cakrawala sedang mencari pena lain untuk menceritakannya, karena bocah sudah waktunya meremahkan raga.

 Bocah itu menuju kamarnya, tugasnya telah usai sementara, cakrawala menyapa padanya, bahwa masih banyak kisah yang belum ia beri makna, bocah itu siap melanjutkan kisah itu lain waktu, ia menunggu hatinya siap terluka dan tertawa.

 Bocah itu berpamitan pada semesta, ia-pun menutup mata, tuk menemukan makna di dunia lainnya, cakrawala akan terus bercerita.

 Terimakasih telah membaca, lanjutkanlah kisah cakrawala, beri makna pada semesta. 

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x