Mohon tunggu...
Mohammad Rafi Azzamy
Mohammad Rafi Azzamy Mohon Tunggu... Seorang Pelajar

Menjadi manusia yang bersyukur dengan cara bernalar luhur dan tidak ngelantur | IG : @rafiazzamy.ph.d | Cp : 082230246303

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Nasi Bungkus di Hari Jumat: Sebuah Isyarat Moral untuk Umat

15 Oktober 2020   22:45 Diperbarui: 16 Oktober 2020   09:23 36 2 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Nasi Bungkus di Hari Jumat: Sebuah Isyarat Moral untuk Umat
Sumber : kitabisa.com

Ketika berbicara mengenai hari Jum'at, apa yang terlintas didalam pikiran kita? Sholat Jum'at? Waktunya sedekah? Atau-kah memotong kuku? Bisa juga membaca surah Al-Kahfi dan semacamnya. 

Tapi pembaca pasti merasakan budaya baru (tenar dalam beberapa dekade ini), bahwasanya di hari Jum'at, tepatnya waktu sholat Jum'at, pasti ada yang namanya nasi bungkus setelah usai sholat, yang ingin saya bahas adalah mengenai moralitas dibalik nasi bungkus ini, sebelum itu, apa itu moralitas?. 

Moralitas ialah sebuah instrumen akal budi manusia sebagai sosok makhluk sosial yang berakal, sebagai sarana untuk menyatakan kebaikan dan kepedulian dalam kehidupan sekitarnya, moralitas sendiri dapat datang dari nasihat maupun akal sehat, identifikasi moral sendiri sudah dapat menjadi naluri setiap pribadi, karena itulah tolak-ukur morak berbeda tiap orangnya. 

Pelajaran-pelajaran moral sendiri sering didapatkan oleh manusia dimanapun ia berada, bahkan saat manusia menemui suatu informasi atau permasalahan, hati nuraninya akan menangkap sekaligus menempelkan cap baik-buruk terhadap informasi maupun permasalahan tersebut, inilah yang saya sebut tolak-ukur moral tadi. 

 Di dalam filsafat, moralitas memiliki disiplin ilmu yang berbeda dengan ilmu-ilmu lainnya, etika namannya, sebuah paradigma (teori) kuantitas sekaligus kualitas daripada moralitas manusia, etika sendiri memiliki alat ukur baik-buruk daripada suatu kejadian maupun permasalahan manusia, Meta-etika namannya, yakni sebuah metode (cara) untuk melihat besar kecilnya moral yang ada dalam setiap kegiatan atau rumusan manusia. 

Namun, saya takkan menjelaskan moralitas sebagai suatu kajian yang rumit dan melilit kepala, saya hanya akan mengangkat sekaligus memandu pembaca supaya ingat, suatu nilai moral yang dapat dipetik dari kegiatan pembagian nasi bungkus di hari Jum'at.

Setelah saya telusuri lumayan lama, ternyata ada pesan moral tersirat didalam kegiatan yang sudah menjadi rutinitas ummat di setiap hari Jum'at, sebelumnya, saya akan menjelaskan terlebih dahulu mengenai tradisi berbagi nasi di hari Jum'at tersebut. 

Seperti yang kita (ummat muslim) ketahui bersama, betapa besar pahala yang digelontorkan Allah kepada kita apabila bersedekah di hari Jum'at, sama halnya nasi bungkus, apabila kita menyumbangnya, maka Allah akan memberikan pahala yang sedemikian rupa. Lalu apa hubungan nasi bungkus dengan moralitas ummat? Bukankah nasi bungkus hanyalah sebatas nasi? Saya akan bahas di paragraf berikutnya. 

Ketika kita menemui nasi bungkus sehabis sholat, apa yang ada di benak kita? Rezeki? Atau pengisi perut kosong? Dan semacamnya. Palingan, kebanyakan dari kita langsung mengambilnya tanpa berfikir ada apa dibaliknya,

tapi pernah atau tidak ketika kita ingin mengambil nasi bungkus tersebut, kita teringat kepada kaum-kaum fakir miskin, seperti yang di isyaratkan dalam surat Al-Maun, dimana mereka sangat susah untuk mencari makan, bahkan untuk sesuap nasi saja, mereka harus mati-matian untuk mendapatkannya. 

Disinilah nasi bungkus mengingatkan kita sebuah nilai moral yang sering sekali manusia lupa, apakah jiwa kepedulian kita terhadap sesama lebih besar ketimbang jiwa serakah kita? Apakah nasi bungkus yang kita makan membawa keberkahan atau malah kedzholiman?. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x